Seandainya Eleanor H. Porter masih hidup, saya akan menulis email kepadanya dan berterima kasih karena telah mengarang novel yang begitu berkesan. Tentu saja, rasa terima kasih itu patut disampaikan kepada Mbak Dee yang telah memberikan kepercayaan untuk menangani Pollyanna.

Pada permulaan kerja, saya sudah terpikat oleh karakter Miss Polly, bibi Pollyanna yang merupakan salah satu sosok sentral dalam novel ini. Usia Miss Polly sama sekali belum tergolong tua, namun penampilan dan sikapnya yang cenderung kaku membuat ia terkesan jauh lebih ‘senior’ daripada sebenarnya. Wanita yang hidup melajang dan serba disiplin ini harus terkaget-kaget menghadapi perangai keponakan semata wayangnya yang bagai popcorn meletup, meski toh ia mengulurkan tangan untuk merawat dan membesarkan putri almarhum kakak sulungnya tersebut. Saya merasa diingatkan pada diri sendiri mendapati kalimat ‘She knew Miss Polly now as a stern, severe-faced woman who frowned if a knife clattered to the floor, or if a door banged.

Salah satu film Pollyanna besutan Disney

Karakter lain yang menawan hati adalah Mr. John Pendleton, pria yang menyendiri di rumahnya di kaki gunung. Ia tidak pernah menyewa jasa pembantu rumah tangga atau sekadar juru masak, sangat misterius, dan ketika terpaksa membayar orang-orang tersebut, ia mengomel karena barang-barangnya menjadi sukar ditemukan setelah dirapikan.

Namun sudah barang tentu, Pollyanna memberikan pembelajaran berharga bagi saya. Ia melakukan permainan unik sehingga hidup tak pernah terasa berat. Dalam setiap kasus, ia mengajak diri sendiri dan orang lain melihat sisi cerah. Misalnya ketika seorang wanita yang ia kenal merasa capai karena selalu timbul salah paham dengan iparnya yang serumah dan mengalami gangguan pendengaran. Saat terdengar keributan dari rumah yang berdekatan, wanita ini justru gembira sebab pendengarannya masih normal. Menurut Pollyanna, kian sulit suatu situasi, kian mengasyikkan permainan ini [terus terang, saya belum berhasil..tapi masih mencoba menerapkannya]. Aspek ini menjadikan Pollyanna cocok dibaca orang dewasa, meskipun genrenya adalah buku anak-anak.

Ini bukan kali pertama saya menerjemahkan novel klasik. Toh, saya memerlukan diskusi dengan Mbak Dee dan beberapa rekan seprofesi yang pada saat bersamaan tengah menggarap fiksi klasik pula. Sejumlah buku saya baca dan telaah sebagai referensi, salah satunya Little Women yang dialihbahasakan sangat baik oleh Ibu Rahmani Astuti. Alhamdulillah, tidak seperti kebanyakan fiksi klasik, Pollyanna tidak banyak mengandung deskripsi dan lebih sering menghidangkan aksi serta dialog. Tantangan khasnya terdapat pada elemen logat Yorkshire, antara lain pada percakapan dengan Nancy dan Old Tom. Gagasan demi gagasan digodok, alhamdulillah saya dipercayai merumuskan sinopsis cover belakang juga:)

Bertukar pikiran soal cover tak kalah serunya. Sketsa dan goresan Ella Elviana, ilustrator dan desainer yang berjam terbang tinggi, berhasil menyerap napas klasik dari buku ini. Pada sentuhan akhir, sebelum melihat karya final dengan warna-warninya yang ceria, saya mengusulkan agar wajah Pollyanna diberi bintik-bintik sesuai cerita [karena itulah, Pollyanna tidak terlalu suka becermin].

Sewaktu Mas Agus jatuh sakit, saya deg-degan juga. Minggu itu menjelang tenggat penyerahan hasil terjemahan, tetapi alhamdulillah, tinggal penyelarasan akhir. Sungguh pengalaman yang menakjubkan, membuat saya tak sabar menunggu bukunya sampai di tangan [dan melihatnya berjejer di toko pula]. Satu lagi yang sangat saya syukuri, nama saya tertera sebagai penyunting!:)

Terima kasih, tim Orange Books, atas kerjasama yang menyenangkan:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)