poppy

Kata yang langsung terlintas di pikiran begitu mendengar nama Mbak Poppy: fantasi. Sederhananya, bagi saya ibu satu putra ini adalah pakar fantasi, wabilhusus (ini istilah ngawur karangan saya) Tolkien dan segala sesuatu berbau Harry Potter. Dari beliau, saya belajar secara tidak langsung, antara lain dari buku-buku terjemahan dan suntingannya. Di samping seri Bartimaeus yang difavoritkan Mas Agus dan Streaming Staircase (yang ini saya belum baca), saya menikmati Boy: Tales of Childhood (Roald Dahl, GPU) dan The Swordless Samurai (Mahda Books, kini Studio Kata).

Ketika penulis yang baru menerbitkan Memoir of A So-called Mom ini menyatakan kesediaan untuk saya wawancara, saya bingung sendiri karena sebenarnya ingin bertanya macam-macam:)) Tapi jawaban Mbak Poppy atas pertanyaan pilihan ini pun seru-seru dan sangat menambah wawasan.

1. Mbak diberi kewenangan menetapkan deadline sendiri sewaktu menerjemahkan. Kalau boleh tahu, sejak proyek keberapakah itu? Jika penerjemah lain berharap punya keleluasaan begitu, menurut Mbak apa aja syaratnya?

 

Sebetulnya sejak awal tidak pernah ditetapkan deadline oleh GPU, hanya kadang-kadang diminta mengerjakan salah satu judul tertentu lebih dulu karena diharap bisa segera terbit. GPU biasa langsung mengirim empat sampai delapan judul sekaligus. Sejak awal GPU jarang memberiku judul yang masa terbitnya mepet. Di penerbit lain aku juga tidak pernah diberi tenggat karena aku yang mengajukan syarat itu sendiri πŸ˜€ Kebebasan tanpa deadline menurutku tergantung penerbit yang meminta jasa kita, dan tentu saja jam terbang kita sendiri. Aku tidak bilang pekerjaanku sempurna, tapi kalau kita menerjemahkan/mengedit minim kesalahan, rapi dan tidak terlalu lama (sampai setahun, misalnya) aku rasa kita punya nilai plus bagi penerbit yang ingin menggunakan jasa kita. Miliki dulu nilai plus itu, dan kita bakal lebih bebas menentukan apakah kita bersedia mengerjakan, berapa lama waktu yang kita butuhkan, dan tentu saja jumlah honor yang kita minta.

2. Buku apa yang paling cepat Mbak Pop terjemahkan? Berapa lama? Apakah karena tidak terlalu banyak riset, relatif tipis, atau hal lainnya?

Buku yang paling cepat aku terjemahkan adalah salah satu judul serial Demonata (aku lupa yang mana), hanya dua minggu, pertama karena buku itu relatif tipis, 200-an halaman, bahasanya mudah dicerna dan tidak butuh banyak riset. Tambahan lagi, aku suka horor fantasi, jadi mengerjakannya amat sangat lancar.

3. Yang paling lama, buku apa?

Buku terlama yang pernah aku kerjakan ada dua: Brisingr dan Inheritance, serial Eragon. Keduanya kira-kira butuh enam bulan. Pertama, karena kedua buku itu tebal luar biasa (sampai 900-an halaman) dan banyak sekali nama asing penuh huruf mati yang membuatku harus berulang-ulang memeriksa agar tidak terjadi typo. Ditambah lagi aku mulai mengerjakan dari buku ketiga, jadi aku harus mencari daftar istilah di buku pertama dan kedua yang digunakan penerjemah sebelumnya agar tidak berbeda. Membolak-balik edisi asli dan edisi terjemahannya butuh waktu lama.

4. Genre apa yang ingin diterjemahkan dan belum kesampaian? Kalau ada, mohon sebutkan judul dan pengarangnya.

Sebetulnya bukan genre tertentu, tapi pengarang tertentu. Aku kepengin diberi kesempatan menerjemahkan salah satu buku JRR Tolkien. Memang aku pernah menerjemahkan The Hobbit Graphic Novel, tapi itu sudah versi adaptasi. Aku akui menerjemahkan Tolkien bakal menjadi tantangan luar biasa, karena beliau bukan hanya menyampaikan cerita, tapi pemilihan kata-katanya juga istimewa. Bakal banyak lost in translation jika karya beliau diterjemahkan ke bahasa lain. Kalau salah satu kutipannya diplesetkan: One does not simply translate Tolkien. Apalagi yang menyangkut legendarium Middle-earth. Karena menurutku, si penerjemah harus betul-betul paham proses pengerjaan legendarium itu sendiri, bagaimana latar belakangnya, apa yang ada dalam pikiran Tolkien saat menuliskannya, maka terjemahannya bakal lebih mengena. Satu contoh sederhana saja: dwarf. Dalam bahasa Indonesia kita segera berpikir: kurcaci. Tapi menurut Tolkien, dwarf di Middle-earth BUKAN dwarf dalam mitos biasa. Itulah sebabnya beliau menggunakan bentuk “dwarves”, bukan “dwarfs” yang adalah bentuk jamak menurut tatabahasa. Jadi, dwarf di Middle-earth BUKAN kurcaci. Dan elf juga BUKAN peri. Sebagian besar penerjemah buku-buku Tolkien ke bahasa lain menganggap perlu berkonsultasi dengan para Tolkien scholars di Oxford demi menyampaikan terjemahan yang akurat.

5. Apa suka-dukanya punya adik sesama penerjemah? (Adik Mbak Poppy adalah Fanny Yuanita, beberapa karya terjemahannya pernah saya sunting dan termasuk yang sangat memudahkan editor:))

Punya adik sesama penerjemah tidak ada dukanya. Kami berdiskusi, membaca buku yang sama, saling menilai pekerjaan dan lain-lain, dan itu sangat menyenangkan. Kadang-kadang kami mengobrol sampai lewat tengah malam hanya untuk mencari satu kata tertentu yang paling pas.

6. Seorang editor pernah bilang padaku, rasa bahasa tidak bisa ditularkan jadi sangat jarang penerjemah yang sedarah pun berkompetensi persis sama. Menurut Mbak Pop, gimana?

Bisa jadi, rasa bahasa adalah milik masing-masing individu. Rasa bahasaku dan Fanny berbeda, tapi kami saling memengaruhi. Mungkin karena sejak kecil kami punya kegemaran bacaan yang sama, bicara dengan Β gaya bahasa yang sama, dan menulis dengan gaya yang mirip pula, meski kalau jeli tentu saja ada perbedaan pemilihan kata dalam setiap kalimat kami. (Hmm… pasti seru meneliti kekhasan diksi kakak-beradik ini:D – Rinurbad)

7. Ada nggak bahasa asing lain yang ingin Mbak Pop kuasai atau mungkin dipertajam lagi?

Banyak! Dulu aku pernah belajar bahasa Jerman dan Belanda, tapi karena tidak pernah diasah, keduanya sudah berkarat. Kalau ada kesempatan, aku kepengin belajar Jerman dan Belanda lagi, serta Prancis. Mamaku mampu bicara dalam bahasa Inggris, Belanda, Prancis, dan Rusia dengan aktif, lalu beliau juga bisa mengerti Spanyol dan Jerman dengan pasif. Dari Mama-lah aku punya keinginan mempelajari bahasa Inggris sejak usia batita, tapi kendala untuk mempelajari bahasa lain sampai sekarang adalah kurang niat dan kemalasan πŸ˜€ (alasannya karena urusan rumah tangga dan pekerjaan sudah menyita waktu). Insya Allah kalau diberi rezeki dan waktu sedikit luang, aku kepengin belajar formal, karena belajar kan tidak mengenal usia.
8. Sejauh mana peran menerjemahkan dalam kegiatan Mbak yang lain, yaitu menulis? Apakah berpengaruh pada gaya bahasa, pemilihan latar, penokohan, atau genre saja barangkali? Atau mungkin semuanya?

Lumayan terpengaruh. Pertama-tama, gaya bahasa. Dulu sekali (zaman sekolah) aku cenderung meniru gaya bahasa pengarang-pengarang favorit. Meski belakangan aku merasa bisa memiliki gaya bahasa dan bercerita sendiri. Plot, penokohan, dan lain-lain mungkin terpengaruh sedikit, tapi aku berusaha untuk memberi ‘bahan-bahan’ sendiri pada tokoh dan plotku. Satu hal yang paling memengaruhi tulisanku sendiri: penggunaan bahasa yang baik dan benar. Aku tidak anti bahasa gaul untuk buku-buku teenlit, dan aku tahu banyak penulis yang mengusung gaya bahasa demikian, dan itu tidak ada salahnya jika memang diperlukan. Tapi buatku sendiri, narasi berarti bahasa yang baik. Sesuai KBBI, sama seperti ‘gaya bahasa terjemahan’, menurut sebagian orang. Dialog, lain soal. Tergantung jenis cerita seperti apa yang kutulis. Kalau teenlit, aku bisa menyelipkan kata-kata slang dalam dialog, tapi kalau aku menulis dalam genre yang lebih serius, pembaca tidak akan menemukan kata-kata gaul di sana.

9. Mbak Pop pernah bilang, terjemahan yang nilainya sekitar 40 tidak akan bisa jadi 100 sekalipun diedit penyunting paling andal. Paling banter 60 (mohon koreksi ya Mbak, kalau salah angka:D). Bisakah dijelaskan lebih lanjut kenapa?

Penerjemah adalah pengarang tidak bebas, maka gaya bahasanya bakal sangat terasa dalam terjemahannya. Nah, itu yang sulit diubah oleh penyunting jika sang penerjemah bernilai 40, misalnya. Kalau gaya bahasanya sangat tidak enak dibaca, penyunting tetap tidak akan bisa mengubah total gayanya itu KECUALI bukunya diterjemahkan ulang dari nol. Aku sendiri lebih baik menerjemahkan ulang daripada mempertahankan gaya bahasa si penerjemah yang tidak enak dibaca. Dan aku pernah mengalami hal seperti itu, mengubah 100% hasil terjemahan orang lain, agar lebih luwes.
10. Ketika menerjemahkan puisi bersandi, Mbak Pop bilang pernah sampai istirahat seminggu setelah memecahkannya. Adakah pengalaman sejenis terkait teknis dan proses kreatif? (Misalnya kayak Fanny, kemalingan laptop sampai harus ngebut ngetik lagi dari awal)

Masalah teknis pernah aku alami ketika komputer diserang virus. Sekian bab lenyap begitu saja, termasuk yang sudah aku simpan di memory card. Butuh waktu lama untuk mengulang dari awal dan rasanya kepengin banting barang πŸ˜€ Kalau dari sisi kreatif, kadang-kadang aku butuh mengistirahatkan otak selama seminggu (biasanya sih niat seminggu berkurang jadi cuma dua hari, karena rupanya aku tidak tahan kalau tidak menulis sesuatu) sehabis menerjemahkan/mengedit naskah yang tingkat kesulitannya tinggi. Katakan saja, untuk recharge. Pengalaman harus libur satu-dua hari juga pernah aku rasakan ketika menerjemahkan kumpulan cerpen. Karena setiap cerpen berasal dari penulis berbeda, dengan gaya bahasa berbeda pula. Jadi aku harus menyingkirkan dulu gaya penulis A yang baru selesai aku terjemahkan dari otakku supaya tidak terbawa-bawa ke penulis B yang cerpen berikutnya harus aku kerjakan.
11. Kira-kira lebih sering mana, memakai kamus cetak atau kamus online?

Kamus cetak dan kamus online sepertinya sama-sama sering aku buka πŸ˜€ Kalau ingin cepat dan tidak butuh mencari padanan kata yang khusus, kamus online sudah cukup. Tapi aku sering mencari kata-kata tertentu yang hanya bisa disediakan kamus cetak, setelah itu aku cari lagi di kamus tesaurus bahasa Indonesia agar aku punya lebih banyak pilihan. Terutama kalau menerjemahkan istilah ajaib yang biasa kutemukan di buku-buku fantasi. (Wow… tahapan kerja yang luar biasa. Pantas seorang editor kenalan saya pernah membisiki, “Terjemahan Mbak Pop itu tepat.”)

Kamus online dan kamus Inggris-Indonesia biasanya tidak cukup. Aku harus membuka tesaurus, KBBI, kamus Oxford atau Merriam-Webster, demi mendapatkan padanan istilah yang menurutku paling pas. Bahkan kadang-kadang perlu mencari tahu langsung ke penulisnya sendiri πŸ˜€ Intinya, kamus online hanya solusi cepat kalau tidak butuh mencari yang ‘istimewa’, tapi penggunaannya selama ini seimbang dengan kamus cetak.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

3 Responses to “ Poppy D. Chusfani: Sering Mencari Kata-kata Tertentu yang Hanya Ada di Kamus Cetak ”

  1. gravatar Dion Yulianto Reply
    May 16th, 2014

    Keren wawancaranya, dpt banyak ilmu dari sini. Terima kasih Mbak Poppy dan Mbak Rini. Aku paling suka terjemahan Mbak Poppy di The BGF karya Roadl Dahl, itu kereennnnn

    • gravatar Rini Nurul Reply
      May 16th, 2014

      Hehe, iya Dion, itu salah satu bahan belajarku juga. Makasih ya, nantikan giliranmu diwawancarai:)

  2. gravatar Yenni Reply
    December 24th, 2014

    wah, mbak Poppy cantik, euy…. kayak artis zaman dulu… cantik… *salah fokus

Leave a Reply

  • (not be published)