keajaibanrezeki

Perlu saya sampaikan bahwa pre-publishing review atau singkatnya review adalah tugas pembaca awal. Ada yang menyebutnya first reader. Penulis lazim melakukan semacam uji coba naskah sebelum diterbitkan, kadang bahkan ketika belum menemukan “jodoh” penerbit seperti novel satu ini. Kali ini, penerbit memberi saya tugas membaca dan meninjau naskah yang sudah pasti dibukukan namun membutuhkan opini untuk masukan penyuntingan atau revisi penulis.

Mungkin editor novel yang semula berjudul Warisan Nabi ini sudah berfirasat bahwa saya punya waktu senggang. Saat itu saya sedang “mendinginkan” kepala setelah menerjemahkan The Casual Vacancy, sehingga ketika menelepon, editor bertanya apakah tugas tersebut benar-benar sudah rampung. Wajar saja mengingat meninjau naskah novel secara cepat butuh konsentrasi tinggi, ditambah lagi genre dan napasnya amat berbeda.

Singkatnya, penerbit menginginkan pendapat pembaca wanita atas naskah yang belum selesai ditulis tersebut. Saya sudah berkenalan dengan beberapa karya Tasaro, sedikit sekali dibanding penggemar beratnya tentu. Langsung terlihat gaya bahasa pengarang satu ini yang sangat khas dan banyak disukai pembaca.

Membaca untuk menulis tinjauan yang diperlukan penerbit memang bukan “bersenang-senang”. Saya harus ingat selingkung dan selera Mizan, atau biasa disebut “wawasan ke-Mizan-an” oleh salah satu editornya. Perhitungan pasar, tren, dan beberapa hal lain terkait penerbitan novel ini.

Mengangkat kisah hidup seorang motivator, yang saat ini tengah naik daun, mungkin bukan langkah baru. Tapi selalu menarik menggali celah lain, termasuk upaya penulis yang mengombinasikan materi kisah dengan gaya uniknya. Mengapa saya sebut unik? Belum tentu saya mampu menerapkan gaya bahasa dan diksi Tasaro ketika menulis.

Saya lupa poin-poin yang disampaikan dalam review kepada penerbit tempo hari, atau lebih tepatnya bersifat konfidensial. Yang pasti saya menilai dari sisi pembaca murni dan pengamat “iseng” toko buku, termasuk menghampiri rak diskon untuk melihat tema apa saja yang mudah aus beserta menebak faktor-faktor penyebab lainnya. Alhamdulillah, keisengan saya itu jadi bekal berharga untuk pengalaman kerja sama dengan penerbit seperti ini. Ikut senang karena novel tersebut terbit dalam waktu relatif singkat, judulnya menjadi Keajaiban Rezeki.

Kesimpulan: membaca seperti “makan”. Kadang, ada baiknya tidak pilih-pilih.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)