Saya nonton film ini di Bioskop TransTV dua malam lalu. Bela-belain banget dengan iklan setumpuk dan tidur larut malam karena penasaran. Apa daya, sensornya juga banyak sampai nggak ngerti sebagian (nontonnya sambil baca spoiler Wiki). Alhasil, saya nonton versi utuhnya supaya lebih paham, sekaligus belajar dari terjemahan teksnya yang masih saya ingat.

Penculikan anak bukan tema baru. Sebenarnya agak merinding menonton cerita semacam ini mengingat sedang merajalelanya penculikan di kawasan sekitar kami belakangan. Namun menariknya adalah reaksi para orangtua yang berbeda, sekalipun mereka karib dan berdekatan tinggalnya. Cukup membingungkan memang berada dalam ketidaktahuan dan ketidakjelasan, hingga salah satu harus mengonsumsi obat penenang sedangkan lainnya kembali pada kebiasaan buruk masa lalu karena tidak bisa tidur.

Sejak menyaksikan penampilannya dalam Nightcrawler, saya terkesan sekali pada akting Jake Gyllenhaal. Kadang-kadang salah fokus melihat tato di leher Detektif Loki, pikir saya, “Ih sakit banget tuh pasti.” Karakter sang polisi yang sering berkedip, wajahnya yang lelah, menambah penjiwaan detektif yang selalu memecahkan kasus yang ditanganinya itu. Tak kalah menarik tentunya, Hugh Jackman yang “tumben” bukan jadi superhero. Demikian pula Paul Dano yang cukup menonjol sebagai pemuda ber-IQ setara anak kecil.

“So forgive me, for not going home to get a good night rest.”

Kesedihan yang luar biasa membuat Keller Dover (Jackman) bersikeras bahwa Alex Jones (Paul Dano) adalah penculik anaknya. Tak ayal dia marah ketika polisi melepaskan Alex. Bersama temannya yang juga kehilangan anak, Keller menyekap dan menganiaya Alex agar memberikan keterangan tentang di mana anak-anak itu. Ada adegan yang sempat terasa seperti “benang lepas”, tapi seiring waktu berlalu, thriller sepanjang 2,5 jam ini terbukti layak disimak secara rinci. Saya pribadi tersedot pada penampilan setiap tokoh dan tidak mampu menebak pelakunya.

Pesan yang saya tangkap: kesedihan, sakit hati, dan amarah bisa jadi tak tertanggungkan sehingga manusia kehilangan akal. Lagi-lagi, hati-hati di rumah yang “terlalu” besar. Banyak tempat berpotensi jadi lokasi tindak kriminal, misalnya rumah kosong yang rusak dan hal lain yang diletakkan terbuka padahal sebenarnya patut dicurigai. Secara keseluruhan, film ini mengandung banyak simbol dan saya suka sekali akhirnya.

Look, kid, we can’t always save the day. All right? We’re just cops. Janitors.

 

Sumber   Saya nonton film ini di Bioskop TransTV dua malam lalu. Bela-belain banget dengan iklan setumpuk dan tidur larut malam karena penasaran. Apa daya, sensornya juga banyak sampai nggak ngerti sebagian (nontonnya sambil baca spoiler Wiki). Alhasil, saya nonton versi utuhnya supaya lebih paham, sekaligus belajar dari terjemahan teksnya yang masih saya ingat. Penculikan anak bukan tema baru. Sebenarnya agak merinding menonton cerita semacam ini mengingat sedang merajalelanya penculikan di kawasan sekitar kami belakangan. Namun menariknya adalah reaksi para orangtua yang berbeda, sekalipun mereka karib dan berdekatan tinggalnya. Cukup membingungkan memang berada dalam ketidaktahuan dan ketidakjelasan, hingga salah satu harus mengonsumsi obat penenang sedangkan lainnya kembali pada kebiasaan buruk masa lalu karena tidak bisa tidur. Sejak menyaksikan penampilannya dalam Nightcrawler, saya terkesan sekali pada akting Jake Gyllenhaal. Kadang-kadang salah fokus melihat tato di leher Detektif Loki, pikir saya, "Ih sakit banget tuh pasti." Karakter sang polisi yang sering berkedip, wajahnya yang lelah, menambah penjiwaan detektif yang selalu memecahkan kasus yang ditanganinya itu. Tak kalah menarik tentunya, Hugh Jackman yang "tumben" bukan jadi superhero. Demikian pula Paul Dano yang cukup menonjol sebagai pemuda ber-IQ setara anak kecil. "So forgive me, for not going home to get a good night rest." Kesedihan yang luar biasa membuat Keller Dover (Jackman) bersikeras bahwa Alex Jones (Paul Dano) adalah penculik anaknya. Tak ayal dia marah ketika polisi melepaskan Alex. Bersama temannya yang juga kehilangan anak, Keller menyekap dan menganiaya Alex agar memberikan keterangan tentang di mana anak-anak itu. Ada adegan yang sempat terasa seperti "benang lepas", tapi seiring waktu berlalu, thriller sepanjang 2,5 jam ini terbukti layak disimak secara rinci. Saya pribadi tersedot pada penampilan setiap tokoh dan tidak mampu menebak pelakunya. Pesan yang saya tangkap: kesedihan, sakit hati, dan amarah bisa jadi tak tertanggungkan sehingga manusia kehilangan akal. Lagi-lagi, hati-hati di rumah yang "terlalu" besar. Banyak tempat berpotensi jadi lokasi tindak kriminal, misalnya rumah kosong yang rusak dan hal lain yang diletakkan terbuka padahal sebenarnya patut dicurigai. Secara keseluruhan, film ini mengandung banyak simbol dan saya suka sekali akhirnya. Look, kid, we can't always save the day. All right? We're just cops. Janitors.  

Kesan Rinurbad

Total - 9.8

9.8

Sangat layak tonton

User Rating: Be the first one !
10

Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)