Tulisan ini memenangkan entah juara keberapa (lupa) suatu lomba menulis fan fiction yang diadakan UPI tahun 2005.

Masih berantakan, ini saya hadirkan sebagai tanda mata masa silam.

 

PROGRAM HEMAT KELUARGA NOHARA

 

Rini Nurul Badariah

Pada saat makan malam, Hiroshi Nohara mengajak seluruh anggota keluarganya berkumpul di ruang makan.

”Kalau ini pembicaraan orang dewasa, aku kan tidak perlu ikut mendengarkan, Pa,” kilah Crayon. Ia sudah mengantuk. Malam itu Hiroshi pulang kerja lebih larut dari biasanya sehingga makan malam pun tertunda.

”Ini juga penting untuk kamu, Crayon,” Hiroshi menegaskan. ”Mulai saat ini, kita semua harus berhemat.”

Crayon memandang kedua orangtuanya bergantian. Ia tampak bingung. ”Hemat itu apa, Ma?’

Misae mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan istilah tersebut. ”Hemat itu artinya mengurangi pengeluaran.”

”Pengeluaran apa?”

”Aduh,” Misae melirik suaminya, tetapi Hiroshi hanya angkat bahu. Misae berpikir sejenak. ”Karena kita harus berhemat, Crayon tidak boleh lagi membeli Chokobi setiap hari.”

”Kenapa?” mata Crayon membesar. Ia terlihat sedih.

”Karena itu merupakan pemborosan,” jawab Misae.

”Mama juga tidak boleh sering-sering membeli kosmetik.”

”Itu benar, Crayon,” Hiroshi mendukung.

”Kau ini!” Misae melotot. ”Papa juga tidak boleh sering-sering pergi ke club. Sake kan mahal harganya!”

”Papa ke sana untuk kepentingan bisnis, Ma, menjamu relasi,” Hiroshi berkelit.

”Tapi pulangnya kan naik taksi dan ongkosnya mahal,” Misae tak mau kalah. ”Memangnya kantor mau menggantinya?”

Perdebatan pun terjadi dengan sengit. Crayon memasang muka masam. ”Aku sudah menduga. Selalu begini kalau Papa dan Mama bicara.”

Di tengah perang mulut itu, mendadak Crayon berseru, ”Ma, mana yang lebih mahal..kosmetik Mama atau biskuit Chokobi?”

Sesaat Misae menoleh. ”Tentu saja kosmetik, Crayon. Memangnya kenapa?”

”Kalau begitu lebih baik Mama tidak usah membeli kosmetik lagi sama sekali..karena tidak ada gunanya.”

”Apa katamu?” Misae naik pitam. Seperti biasa, Crayon mendapat ganjaran berupa tamparan sepuluh kali di pantat.

Akhirnya Hiroshi pun tidak tahan. ”Sudah, sudah! Pokoknya kita sudah membicarakan masalah ini. Ayo, sekarang kita semua tidur.”

Misae beranjak mematikan lampu ruangan. ”Kamu juga, Crayon.”

Crayon yang sudah siap meninggalkan ruang makan berkilah, ”Aku hanya ingin gosok gigi dan cuci muka di kamar mandi.”

”Jangan bohong,” Misae melotot lagi. ”Mama tahu kamu hendak menonton TV sampai tengah malam. Itu juga pemborosan, tahu?”

Crayon menyerah dan mereka tidur beramai-ramai dalam satu kamar.

”Mama..”

”Apalagi, Crayon?”

”Himawari juga harus berhenti minum susu.”

”Itu kan tidak mungkin,” Hiroshi berkata. ”Kita tidak perlu menguarangi barang-barang yang penting.”

Crayon menoleh. ”Jadi susu penting ya, Pa?”

”Tentu saja. Kamu juga harus minum susu agar tetap kuat dan sehat.”

”Tapi kalau membelinya di supermarket, Mama pasti berbelanja barang-barang lain yang tidak penting. Karena supermarketnya jauh, jadi..”

Crayon urung menyelesaikan kalimatnya karena Misae sudah memasang raut wajah yang sangat mengerikan.

”Selamat tidur, Crayon.”

”Se-selamat tidur..”

 

Disclaimer: Komik Crayon Shinchan karya Yoshito Usui

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)