Terkadang, ada baiknya kita melakukan apa yang tidak disukai. Kendati selalu menjauhi buku puisi karya anak negeri [karena tidak mengerti, tentu saja], profesi penerjemah buku ‘menjerembabkan’ saya pada kata-kata berrima semenjak akhir tahun 2007. Namun setelah itu, saya justru terpikat pada genre teks satu ini. Walaupun soal teori masih nol, bahkan minus, saya menikmati puisi dan lagu yang disodorkan dalam materi pekerjaan.

Pengalaman kurang lebih sama saya peroleh ketika mengalihbahasakan novel Marriage Bureau for Rich People. Meski tidak seriuh film Bollywood, tetap saja karya fiksi dari India ini mengandung lagu dan puisi. Berikut saya cuplik yang termuat di dalamnya.

Di hal. 131, Mr. Ali, pemilik biro jodoh, menyambut adik iparnya yang datang di hari hujan dengan syair berikut:

When the bronze-winged jacana shrieks,
When the black cobra climbs trees,
When the red ant carries white eggs,
Then the rain cascades.

Seperti apakah jacana? Hewan ini dapat ditengok di http://en.wikipedia.org/wiki/Jacana. Semula saya tidak yakin bahwa teks di atas berrima, sehingga perlu membacanya keras-keras berulang kali. Dihubungkan dengan konteks, yakni hujan, maka saya terjemahkan begini [dengan pola A-A-B-B]:

“Kala jacana merah tua membentang sayap,
di batang pohon si kobra hitam merayap,
kala semut merah berpindahan,
maka air hujan pun berjatuhan.’

Sebagai catatan, saya tipe penerjemah yang cenderung ‘berkhianat’ alias tidak setia kepada teks asli. Saya upayakan menangkap inti pesan saja. Pada waktu menerjemahkan bait-bait di atas, hari mendung dan musim hujan menjelang. Saya sempatkan ke luar, mengamati rombongan semut dan reaksi mereka persis sebelum hujan turun.

Pada hal. 183, tersisip sebuah nyanyian yang dilantunkan pada upacara pernikahan. Rimanya A-A-B-B-A. Cukup lama saya memeras otak untuk yang ini, sebab meski tidak persis benar, terjemahannya semula agak terlalu panjang. Kemungkinan lagu ini tidak benar-benar ada, atau mungkin masih dalam bahasa Hindi, sebab saya tidak menemukannya saat googling.

Colour your hands with mehndi,
And keep the palanquin ready,
Your love is on his way,
To take you away,
My fair lady.’

Mehndi untuk jemari merah dadu,
Dan segeralah menuju tandu,
Kekasihmu akan datang,
Hari esokmu terbentang,
Hai yang kurindu.

Bagaimana bisa muncul ‘jemari merah dadu’? Terus terang, yang pertama dihasilkan dalam prosesnya adalah ‘penarikan’ kata ‘palanquin (tandu)’ ke ujung kalimat kedua. Maka sibuklah saya berpikir bunyi -du yang cocok untuk tangan atau jari-jari. ‘My fair lady’ awalnya hendak diterjemahkan ‘buluh perindu’, tetapi agak jadul dan terasa kurang pas dengan latar waktu novel ini, karenanya saya ganti.

Pada hal. 261, masih ada satu lagu. Menerjemahkannya sangat mengharukan, sebab saya teringat doa dan ucapan mendiang Bapak pada akad nikah saya. Betapa dekatnya hubungan seorang anak perempuan dengan ayahnya, sebagaimana dalam nyanyian ini:

Go, my daughter, to your new house, with these blessings from your father:
May you never remember me, let your happiness falter.
I raised you like a delicate flower, a fragrant blossom of our garden,
May every season from now on be a new spring,
May you never remember me, let your happiness falter,
Go, my daughter, to your new house, with these blessings from your father.

Pergilah, putriku, ke rumah barumu, dengan restu ayahanda;
Semoga kau tak terus ingat aku, agar duka tak pernah melanda.
Kubesarkan kau bagai bunga yang rapuh, merekah wangi di taman kami,
Semoga mulai sekarang hanya ada musim semi,
Semoga kau tak terus ingat aku, agar duka tak pernah melanda;
Pergilah, putriku, ke rumah barumu, dengan restu ayahanda.

‘Pengkhianatan’ dalam nyanyian ini relatif tidak banyak, walaupun hati berontak karena makna lirik ‘melupakan ayah’. Bagaimana mungkin seorang anak tidak ingat orangtuanya, hanya lantaran sudah berubah status? Maka saya pelintir sedikit makna ‘never’ menjadi ‘tak terus’.

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada editor saya, Lulu, yang telah memberikan keleluasaan dalam hal ini.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

3 Responses to “ Puisi, Lagu, dan Penerjemah ‘Pengkhianat’ ”

  1. gravatar Dina Reply
    January 10th, 2011

    Ciamik! Makasih udah bagi-bagi ‘resep’.

    • gravatar Rini Nurul Reply
      January 10th, 2011

      Terima kasih kembali, Mbak Dina:)

Leave a Reply

  • (not be published)