Ini pertama kalinya menyaksikan peran Anne Hathaway yang berbeda. Saya suka menikmati film yang menampilkan karakter sentral ‘tidak suci’ sehingga masalahnya terasa hidup.

Saat paling tepat untuk berkumpul dengan keluarga adalah pernikahan saudara dekat. Kali ini yang hendak mengakhiri masa lajang adalah adik Kym, Rachel (Rosemarie DeWitt). Pernikahan dengan pria baik beserta konsep unik yang tidak melibatkan wedding organizer, hanya ide-ide yang melulu mencerminkan keragaman dalam persatuan dua insan berikut keluarga besar masing-masing. Kym yang lama tak pulang merasa jadi pecundang, selaku pecandu minuman dan narkoba yang tengah menjalani proses rehabilitasi kendati ia sudah sembilan bulan ‘berpuasa’.

Lazim memang, dalam satu keluarga kakak-beradik terutama yang sama jenisnya ‘berebut’ perhatian. Keluarga Kym dan Rachel sudah ‘terbelah’ sejak lama. Orangtua mereka bercerai dan masing-masing telah menikah lagi. Kym merasa diperlakukan sebagai anak kecil walau ia turut berbahagia untuk Rachel dan Sidney, sembari terus mengingat bahwa dirinya belum lepas dari perawatan. Di sini ditunjukkan, kendati mendapat izin untuk keluar rehabilitasi sementara dalam acara keluarga, Kym tetap harus mengikuti terapi di lokasi terdekat.

Berkumpul dengan keluarga besar dan orang baru yang demikian banyak sembari menanggung ‘noda’ sungguh tidak mudah. Itu berlaku bagi semuanya. Ada luka lama yang terus menusuk, ketika tak sengaja teringatkan.

Dalam drama ini, selain proses pernikahan yang memang selalu memakan waktu hingga hampir membosankan (saya anggap itu kebosanan Kim yang lelah juga), ada dialog dan keterusterangan Kym dengan anggota keluarga lainnya.

Who do I have to be now? I mean, I could be Mother Teresa and it wouldn’t make a difference, what I did. Did I sacrifice every bit of… love I’m allowed for this life because I killed our little brother?

Sumber kutipan

Berubah butuh iktikad kuat dan dukungan. Berubah adalah proses panjang.

Skor: 3,5/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)