Ketika ditawari pekerjaan untuk menerjemahkan naskah cerita anak dari penulis satu ini, saya menerimanya dengan dua alasan. Business is business tetap berlaku, kendati kami cukup akrab. Selain itu, ia tahu bahwa saya tergolong penerjemah cerewet yang akan banyak bertanya bila mendapati kalimat yang tidak ‘bunyi’.

Dua naskah pertama tidak terlalu banyak mengandung ‘kerikil’. Saya menghargai usaha sang penulis untuk mengalihbahasakan sendiri dengan perangkat kamus offline yang saya rekomendasikan. Ide dasarnya pun terbilang menarik mengingat ia memahami konsep ‘belajar sambil bermain’ sehingga tulisannya tidak kaku dan cocok untuk konsumsi anak-anak. Tetapi kemudian kendala khas menerjemahkan materi berbahasa Indonesia ke bahasa asing timbul, yakni naskah asli yang belum rapi jali. Mulailah tangan saya ‘gatal’, karena dalam bukunya kelak, nama saya pun akan tercantum sebagai penerjemah. Alangkah tidak bijaksananya apabila saya membiarkan saja hal-hal yang perlu dikoreksi hanya karena merasa bahwa itu di luar job description. Terlebih saya mengenal editor yang meng-acc seri naskah karya kawan baik tersebut karena pernah menerjemahkan di penerbit yang sama. Saya menemukan sejumlah peristilahan yang terasa agak berat untuk pembaca anak, tetapi memutuskan untuk berdiskusi dan menanyakan kelompok yang disasar penulis sebelum mengajukan perubahan di sana-sini.

Fungsi antioksidan adalah menangkal racun yang berbahaya..” saya bergumam, kemudian ‘mengetuk’ jendela perbincangan di Yahoo! Messenger dengan empunya naskah. “Memang ada racun yang nggak berbahaya?”

Ia menjawab dengan sederet emoticon senyum lebar.

“Aku perbaiki boleh? Nanti aku kasih catatan atau sekalian bilang di sini. Ada kalimat yang menurutku nggak perlu juga, karena sudah dijelaskan di paragraf sebelumnya,” saya mengusulkan.

“Iya Rin, silakan aja,” ia menanggapi.

Saya memperhatikan bahwa nama-nama karakter sentral setiap judul sama persis. Ternyata memang sang penulis memaksudkan anak ini berperan sebagai tokoh utama.

“Aku terilhami seri keluaran penerbit lain,” ia mengaku sambil menyebutkan sebuah judul yang cukup terkenal.

“Iya, sih,” saya mafhum. “Tapi bayangkan… masa satu anak ini masalahnya begitu banyak? Ya tidak suka sayur, ya tidak doyan buah, jadinya borongan. Ajaib betul dia masih hidup.”

Kawan saya terkekeh-kekeh. “Bener juga, ya. Oke, nanti yang lain kuganti namanya.”

“Terus ini, lho…” saya membuka sebuah file. “Setelah selesai makan, dia main bola dengan teman-teman. Apa nggak muntah?”

Ia bergegas memeriksa kalimat yang dimaksud dan cekikikan. “Wah, aku khilaf. Masih ada lagi, Rin?”

“Ada, dong,” saya menggoda. “Setelah puas makan dan bermain di Negeri Ajaib, kemudian dia pulang. Pulangnya pake apa?”

“Hmmm…” ia berpikir keras. “Adegan-adegan sebelumnya kurang menjelaskan, ya? Kan dia datang ke sana juga naik sehelai daun.”

“Bisa aja kan ada pembaca yang kurang teliti? Atau… katakanlah, berimajinasi lebih tinggi? Hayo… kalau anakmu yang bertanya… mau jawab apa?”

“Ngarang, hahahaha…”

“Masalahnya nggak semua orangtua mau repot-repot mengarangkan jawaban, lho,” saya bersikeras.

“Iya deh, iya… nanti kuubah kalimatnya.”

Saya beralih pada kalimat di alinea yang sama. “Di Negeri Ajaib, anak ini sudah kenyang makan. Sesampai di rumah, dia makan lagi. Macam-macam, pula. Perutnya nggak meletuskah?”

Yang terlihat di window YM adalah emoticon tertawa guling-guling [saya menyebutnya tertawa guling bantal].

Selanjutnya, saya minta maaf lebih dahulu dan mempertanyakan beberapa kalimat yang strukturnya terlihat ganjil. Begitu pula diksinya. Saya ingat benar bahwa sang penulis pernah bermukim cukup lama di sebuah negara di kawasan Asia.

“Masih sulit switch cara berpikir ke bahasa Indonesiakah?” saya bertanya dengan hati-hati, setelah memberikan beberapa contoh frasa yang membingungkan.

“Bahasa Indonesiaku memang belum tertata,” ia menjawab dengan jujur. “Parah banget ya, Rin?”

“Lumayan, lah. Bisa kena charge tambahan untuk memperbaikinya.”

Spontan ia tertawa lagi.

Ini memang bukan kali pertama saya menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan gaya materi asli yang membuat uban bertambah banyak. Tetapi setiap pekerjaan mengandung tantangan tersendiri, dan kerja sama dengan penulis ini menorehkan catatan istimewa dalam perjalanan kepenerjemahan yang saya tempuh.

Catatan:

Tulisan ini dikirimkan untuk proyek buku Menatah Makna, tetapi tidak lolos seleksi. Mungkin sudah pertanda dariNya, sebab naskah yang saya terjemahkan pun tidak jadi terbit karena satu dan lain hal.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)