Mengutip ucapan seorang editor dan penerjemah senior yang enggan disebut namanya, rasa bahasa tidak bisa ditularkan. Kalaupun ada dua orang yang memilikinya, kadarnya pasti berbeda.

Saya baru menyadari kaitan hal itu dengan pemilihan kata (diksi) para penyunting khususnya, yang secara spesifik mengarah pada subjektivitas. Beberapa bulan ke belakang saya membaca koreksian edit dari penanggung jawab dan batal mencatat. Pasalnya, yang diubah hanya hal-hal “kecil” sehubungan dengan diksi dan subjektivitas tadi. Contohnya, beliau kurang menyukai “kala” yang sekali-sekali saya pakai. Rasanya tidak dewasa jika saya menuduh sang penanggung jawab ini cari-cari kerjaan, sebab saya sendiri kerap memberlakukan subjektivitas itu. Maka saya menghormati preferensi beliau.

Dalam arahan penyuntingan yang jadi pedoman kerja saya pun demikian. Salah satu editor penanggung jawab pernah mewanti-wanti agar tidak memakai kata “alih-alih”. Beberapa buku kemudian, saya semakin menyadari perbedaan “prinsip” subjektivitas ini dengan sesama editor yang seatap alias Mas Agus.

Dia tidak suka kata “sekitar” untuk umur, contohnya. Katanya “sekitar” terlalu identik dengan “sekitar rumah” dan sejenisnya. Untuk itu, Mas Agus menggunakan “sekira”. Saya pribadi tidak memasalahkan bila konteksnya jelas, namun lebih sering menggunakan “kira-kira” atau “berkisar”. Kadang saya pakai “lima puluhan” daripada “sekitar lima puluh”.

Saya menarik garis batas antara pemakaian “sementara” dan “sedangkan”. Kerap kali saya menemukan kalimat “Dia masih kecil, sementara kakaknya sudah remaja”. Menurut saya ini kurang pas. “Sementara” tidak selalu dapat menggantikan “sedangkan”. Kebanyakan yang lebih tepat dalam kalimat berkata kerja. Misalnya “Dia tidur, sementara ibunya menjahit.”

Itu beberapa contoh saja dan menjadi semacam ciri khas dalam gaya penyuntingan saya.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)