reita

 

Mengapa memilih judul di atas yang saya nukil dari keseluruhan hasil wawancara dengan Reita? Pertanyaan itu sudah lama mengendap di benak saya, tapi belum sempat menulis sendiri secara panjang dari hasil pengamatan pribadi. Semua butir pertanyaan yang saya ajukan ini dijawab Reita dengan gamblang dan tak kalah serunya.

  1. Inget nggak, buku yang diterjemahkan pertama kali? Gimana kesannya waktu itu?

 

Buku yang pertama kali saya terjemahkan itu buku Interpreting Children’s Drawing, atas permintaan dosen UPI. Tapi ini bukan untuk diterbitkan dan dipublikasikan secara luas. Dan saya mengerjakan ini sebelum bergabung di Gramedia Pustaka Utama (GPU).

Sementara buku terjemahan pertama saya bersama GPU adalah “A Mediterranean Marriage” karya Lynne Graham. Judul terjemahannya “Janji Setia di Mediterania”. Excited banget waktu itu. Novel fiksi pertama gitu lho. Tapi juga deg-degan, soalnya akan dibaca banyak orang kan. Khawatir enggak bagus lah bahasa Indonesia-nya, khawatir ada salah menerjemahkan. Saya memang agak pencemas, sepertinya. Tapi setelah akhirnya selesai dan diterbitkan, rasanya lega. Dan merasa keren sendiri ngeliat nama saya terpampang di lembar voorwerk, hihihi…

 

  1. Kapan persisnya Reita merasa jatuh cinta dan ingin menekuni dunia perbukuan?

 

Proses jatuh cinta sama buku sudah dimulai dari kecil. Saya tumbuh besar di keluarga penikmat buku. Sejak pertama kali bisa ingat, yang saya sadari ada di setiap ruangan di rumah adalah buku, termasuk di kamar mandi, dudududu… Dengan orangtua dan tiga saudara perempuan yang memiliki berbagai macam koleksi buku, saya biasa membaca buku apa pun yang ada, termasuk ensiklopedia, bahkan brosur apa pun yang kebetulan ada di meja. Terus ya, kata ibu saya, saya sudah bisa membaca sendiri sejak usia 4 tahun, saya sendiri enggak ingat sih, hihihi… Satu momen yang saya ingat, kelas 4 SD saya berkunjung ke rumah teman bapak saya, dan dia terkejut melihat saya menenteng “Tirai”. Waktu itu saya heran kenapa dia heran. Padahal itu buku tebal kesekian yang sudah saya baca. Hahaha, mungkin dia bingung ada anak kecil baca bukunya Agatha Christie :p

Nah, cerita saya akhirnya nyemplung ke dunia penerbitan buku bisa jadi dimulai waktu tahun 2004. Saya belum lulus kuliah waktu itu, lagi duduk-duduk santai, mengobrol dengan seorang teman dekat, dan tiba-tiba sesuatu tebersit di pikiran saya, dan saya bilang sama teman saya itu, “Pengin deh kerja yang berurusan dengan buku. Ngapain aja deh, bebas, asal sama buku.” Lalu ucapan sepintas lalu itu pun terlupakan.

Bertahun-tahun kemudian, tahun 2007, teman dekat saya lainnya mengirimkan e-mail tentang penerbitan yang membuka lowongan kerja sebagai editor. Teman saya itu bilang, kurang-lebih, “Re, ini elu banget nih. Ayo ke Jakarta!”

Dalam hati, seru juga ini kayaknya. Enggak ngerti padahal, editor itu kerjanya apa, ngapain aja entar, Gramedia Pustaka Utama itu penerbit apaan (sumpah payah banget emang, saya tiap baca ya baca aja, enggak lihat-lihat siapa penerbitnya, tahun terbit, dan kawan-kawannya, enggak nyadar sejak kecil banyak buku terbitan GPU yang jadi teman saya). Yang saya highlight cuma persyaratannya, “suka membaca, terutama buku cerita”. Ya sih, gue banget ini mah. Ya udah, kirim! Bener-bener polos pokoknya, enggak ada kepikiran apa-apa, enggak ada perasaan harus bangetngetnget keterima. Ya jalan aja.

Eh, enggak tahunya keterima. Saya sama sekali lupa dengan omongan saya waktu tahun 2004 itu. Kebetulan, teman saya yang itu yang mengantar saat pindahan ke Jakarta, padahal sudah lama juga kami tidak kontak. Dan di perjalanan dia mengingatkan saya tentang ucapan saya bertahun-tahun lalu itu. Saya terdiam dan merenung, ada beberapa kali omongan saya yang saya ucapkan tanpa banyak pikir, eh enggak tahunya malah kejadian. Dan saya bersyukur, omongan sepintas lalu yang ini menjadi kenyataan. Sejak saat itu saya jadi semakin yakin bahwa setiap ucapan adalah doa, jadi kalau mau berucap, usahakan yang baik-baik aja ya, hehe…

 

  1. Pernahkah lesu, bosan, atau sejenisnya lalu terpikir untuk beralih profesi?

 

Enggak. Sampai saat ini sih tidak 🙂 karena saya menerjemahkan buku dari genre yang bervariasi, jadi selalu beda-beda rasanya tiap buku. Kalau bosan di tengah-tengah pengerjaan satu buku pasti pernah yah, tapi enggak sampai membuat jadi pengin ganti profesi. Saya juga cukup beruntung karena punya banyak pengalih perhatian. Saya suka ikut kelas-kelas di Tobucil, terutama kelas-kelas craft-nya. Bertemu banyak orang dan melakukan hobi atau hal lain di luar pekerjaan malah bikin saya kangen kerja. Keluarga saya juga jenis yang doyan jalan-jalan. Jadi sepertinya tanpa disengaja, cukup ada keseimbangan antara kerjaan dan kegiatan lain.

 

  1. Sepanjang menjadi penerjemah dan editor, paling lama pernah libur berapa hari/minggu?

 

Kayaknya pernah deh sampai 10 hari enggak kerja. Waktu itu liburan sekeluarga besar, dengan bawa anak yang umurnya masih belum dua tahun, enggak memungkinkan bawa beban tambahan berupa laptop dan kerjaan, hahaha… Tapi kalau enggak salah saya membawa novel kerjaan untuk dibaca-baca di perjalanan. Teteeeuuppp…

Susah juga sih melepaskan diri dari kerjaan. Pertama saya suka baca, terus kalau lagi bengong, bingung mau ngapain, pilihan utama saya ya baca, atau kerja. Ini tuh seperti kamu melakukan hobi dan dibayar untuk melakukannya.

  1. Gimana strategi Reita menghadapi deadline dan tetap punya waktu yang berkualitas dengan keluarga, terutama anak? (Ini pertanyaan klise sih, tapi banyak yang kepingin tahu jadi insya Allah bermanfaat)

 

Masa-masa awal setelah melahirkan, saya sulit banget cari waktu untuk bekerja. Sampai-sampai novel yang lagi saya kerjain dikembalikan ke penerbit untuk dibagi dua pengerjaannya dengan penerjemah lain. Sedih rasanya, dan enggak enak hati sama penerbit. Tapi setelah ketemu celah bagaimana membagi ritme kerja dan waktu bersama keluarga, akhirnya semua relatif lancar jaya.

Saya cukup beruntung karena banyak sekali yang bersedia membantu saya. Terkadang saya meminta PRT (waktu masih punya PRT) menemani anak saya bermain saat pekerjaan utama dia sudah selesai, atau nenek-kakeknya yang menawarkan diri menemani. Dan kalau kebetulan suami sedang bekerja dari rumah juga, kami giliran. Misalnya, pagi-pagi saya kerja, suami menemani anak, sore-sore giliran saya yang mengurus anak, suami yang kerja.

Sekarang, karena anak saya sudah mulai sekolah-sekolahan, saya kerja saat dia sekolah. Atau kalau suami sedang santai, kami kencan pagi-pagi, hehe… Ngopi-ngopi, nonton, jalan-jalan. Kami suka bercanda bahwa kami ini setengah pengangguran. Punya pekerjaan sih, tapi kelakuan kayak pengangguran.

Dan saya jenis yang suka mengekor suami, sebenarnya. Dia latihan di studio, misalnya, saya ngelapak, alias buka laptop dan nyempetin kerja. Dia dan teman-teman band-nya latihan, saya kerja sambil dengerin musik live. Pengaturan yang menyenangkan, bukan? hihi… Kadang saya juga suka ikutan jadi peserta “tambahan” saat suami saya diminta jadi pembicara di mana dan di acara apa gitu. Atau kadang-kadang ikut suami ke kantornya, lalu saya menguasai meja di sebelah meja dia. Lumayan, wifi-nya kenceeeenggg, hahaha… Dan selama di perjalanan kami bisa mengobrol, makan siang bareng, terus jemput anak. Kalau target-target hari itu selesai, main dengan anak juga lebih tenang.

Bersyukur juga anak saya enggak rewel dan sekarang sudah bisa main sendiri. Jadi kalau saya perlu waktu untuk bekerja sementara enggak ada siapa-siapa di rumah, saya minta izin sama dia untuk dibolehkan bekerja. Biasanya sih dia mengerti, walau sesekali ada permintaan bukain kaleng kue, pasangin film, bacain buku, menyiapkan alat-alat menggambar, atau urusan ke kamar mandi.

Jadi pada dasarnya saya membawa pekerjaan saya ke mana-mana, dan menerapkan sistem memanfaatkan waktu dan momen yang ada. Kalau sekiranya saya bisa menemani suami berkegiatan sembari saya juga bisa menyelipkan waktu untuk bekerja, kenapa tidak? Dan saya juga mengusahakan untuk bekerja saat anak saya sekolah atau tidur, jadi ketika anak saya sedang bersama saya, waktu saya digunakan untuk berkegiatan bersama dia. Bangun lebih pagi dan tidur lebih malam juga sering saya lakukan ketika perlu dan memungkinkan. Dan tanggal kalender merah biasanya enggak ngaruh. Justru biasanya kami memilih waktu tengah minggu untuk jalan-jalan bertiga. Atau Minggu sore. Bandung relatif tidak macet, dan tempat-tempat yang biasanya pada akhir minggu selalu penuh, lebih nyaman dikunjungi saat tengah minggu. Mungkin pola seperti ini akan berubah saat anak saya sudah sekolah betulan, masa mau diajakin mabal terus, hahaha….

 

 

  1. Kapan terakhir kali memegang/menggunakan kamus cetak?

 

Di proyek terakhir saya masih pakai kamus cetak, kok. Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Kamus Visual seringnya. Kalau kamus cetak Inggris-Indonesia sih sudah lama banget enggak disentuh. Terakhir mungkin sewaktu masih kuliah, zaman belum menggunakan Internet.

 

  1. Genre apa yang belum pernah diterjemahkan/diedit tapi Rei pengen banget mengerjakannya?

 

Sastra. Saya pengin banget menerjemahkan karya Amin Maalouf atau Virginia Woolf. Susah banget pastinya. Mungkin malah jadi terkesan terlalu ambisius ya, hihi. Tapi kadang kita butuh tantangan ya (cieehhh).

Cerita-cerita horor juga belum pernah. Kayaknya seru juga ya itu.

 

  1. Karena pernah jadi editor inhouse, bisakah Reita cerita ciri-ciri terjemahan yang bagus dan ramah pembaca/editor? Bisakah itu dinilai dengan membaca sekian halaman pertama?

 

Bisa banget. Maksudnya ini menjawab pertanyaan yang menilai naskah ya. Beberapa halaman pertama juga udah langsung kelihatan dan kerasa kok apakah saya bakal bekerja keras untuk mengeditnya atau enggak.

Saya tidak terlalu mempermasalahkan EYD kalau untuk menilai hasil terjemahan orang lain. Itu relatif lebih mudah diatasi. Tapi bukan berarti ini lantas diabaikan ya. Akan lebih menyenangkan kalau penerjemah-penerjemah juga mau cari tahu dan menggunakan EYD yang benar, dan yang sesuai selingkung penerbit.

Yang biasanya jadi persoalan bagi saya kalau hasil terjemahan tidak bisa saya mengerti, struktur kalimat-kalimatnya berantakan atau diterjemahkan secara leterlek, misalnya. Terkadang ada juga yang menerjemahkan tidak sesuai konteks atau malah mengarang bebas. Satu contoh, kata “solution” diterjemahkan menjadi solusi. Benar sih, solution itu salah satu artinya solusi. Masalahnya, dalam konteks kalimat, solution yang dimaksud adalah larutan. Waaaah, jadi kacau kalimatnya.

Lalu idiom atau slang, ini yang juga suka banyak kelewat sama penerjemah. Butuh sensitivitas yang lumayan untuk bisa membedakan mana yang idiom dan mana yang bukan. Kadang penerjemah menerjemahkan saja sesuai dengan kalimat yang ada. Padahal kalau dibaca lagi, eh, enggak nyambung sama kalimat-kalimat lain.

Jadi penerjemah itu harus rajin-rajin penasaran. Sekarang mah udah enak banget ya kalau mau cari informasi tentang apa pun. Tinggal cari di Internet. Jadi kalau menemukan hal-hal aneh di tengah perjalanan kerjaanmu, google ajaaahh, jangan ragu dan jangan malas. Kalau kecurigaanmu ternyata tidak beralasan, ya enggak apa-apa toh. Kalau ternyata pemahaman awalmu salah dan setelah “kepo” jadi tercerahkan, rasanya seneng banget, serius deh.

Lalu, kalau dalam suatu kalimat sebenarnya tidak perlu menggunakan kata oleh, bahwa, yang, sebuah/seekor/seorang, enggak usah dicantumkan.

Pada intinya, setelah menerjemahkan, baca lagi hasilnya. Kalau kita saja sudah enggak nyaman membaca terjemahan sendiri, apa lagi orang lain. Dan plis, plis, pliiisss, jangan hobi pencet space bar berkali-kali, antarkata itu spasinya cukup satu. Lalu antarparagraf juga enter-nya cukup sekali saja. Saya pernah beberapa kali menemukan penerjemah yang seperti ini. Sungguh, saya sampai bosan mencetin delete. Hahahaha…

 

  1. Kalau pernah ngedit terjemahan pria (penerjemahnya pria, gitu), benar nggak kalau penerjemah wanita lebih teliti?

 

Nah, ini sulit. Perbandingan jumlah penerjemah wanita dan pria yang pekerjaannya pernah saya edit juga jauh banget. Jadi jawaban saya mungkin enggak bisa mewakili kenyataan sebenarnya. Saya baru satu kali mendapatkan penerjemah pria. Suami saya sendiri, hahaha…. Dan hasil terjemahan dia masih lebih baik dibandingkan beberapa hasil terjemahan wanita yang pernah saya pegang. Jadi, kalau berdasarkan pengalaman saya, wanita penerjemah lebih teliti dibandingkan pria penerjemah itu tidak tepat juga.

 

  1. Buku apa yang paling cepat diterjemahkan/diedit?

 

Ow, harus baca blog saya yang cerita tentang Sapphire Battersea kalau ini mah 😀

Sapphire Battersea buku terjemahan yang paling cepat saya edit. Sebenarnya, ketiga buku di trilogi Hetty Feather ini relatif paling cepat saya edit. Selain ceritanya bagus, penerjemahnya juga oke. Satu lagi yang baru-baru ini saya edit, seri keenam Black Dagger Brotherhood, Lover Enshrined. Itu juga relatif cepat. 600 sekian halaman selesai diedit dalam waktu kurang-lebih sebulan. Ngantre dieditnya yang lama ^_^v

Sementara buku yang paling cepat saya terjemahkan itu Angry Birds Star Wars. Masuk hitungan, enggak, ya? Soalnya lebih banyak gambarnya daripada teksnya, hihi…

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

6 Responses to “ Reita Ariyanti: Pria Penerjemah Belum Tentu Kurang Teliti ”

  1. gravatar lulu Reply
    June 4th, 2014

    Sukaaa juga sama seri Hetty Feather. Good job, Rere ^^. Makasih wawancaranya, Rin. Tapi ini susah banget di-like.

    • gravatar Rini Nurul Reply
      June 4th, 2014

      Tengkyu, Lul. Lagi-lagi masalah Firefox, mungkin. Aku juga bisanya di Chrome. Maaf ya:)

    • gravatar Reita Reply
      November 5th, 2015

      ih, aku baru baca ini. maap, semacam setengah-blogger aku mah, hahahaha… makasih, MbakLu. Aku juga menikmati banget “baca” Hetty Feather, sampe nangis-nangis xD

  2. gravatar Dina Begum Reply
    June 4th, 2014

    Rere, asik banget kerja sambil diiringi live music!
    Uhuyyyyy terjemahanku disebut-sebut. *salto*

    • gravatar Dina Begum Reply
      June 4th, 2014

      Ummm… sebenarnya minder siy. Koreksiannya banyaaak banget. Maapkeun.

      • gravatar Reita Reply
        November 5th, 2015

        Iyes, Mbak, asyik ya, walaupun keluar dari studio aku rada pekak, hahahaha…

Leave a Reply

  • (not be published)