Catatan: ini untuk penerjemah yang belum berjam terbang banyak dan belum terlalu dikenal penerbit sehingga dapat menjadi andalan.

Seorang teman mengeluhkan keinginannya menerjemahkan genre yang dirasa lebih sesuai (dengan hati), yakni fiksi yang tidak didominasi drama percintaan. Menurutnya, dia tidak mampu beroman-ria. Saya pribadi berkeyakinan editor memiliki insting tersendiri untuk menilai kompetensi penerjemah/editor. Tidak jarang, apa yang kita sukai tidak cukup memuaskan hasilnya atau sebaliknya.

Pada teman tadi, saya menyarankan untuk mencoba genre lain yang “bebas” drama percintaan. Menilik tren sekarang, fantasilah yang saya usulkan. Kalau perlu di penerbit lain. Ini tidak selalu berhasil. Suatu tahun, editor in house satu penerbit bersikukuh bahwa saya lebih mampu menerjemahkan bahasa Prancis daripada Inggris. Jadilah order dari beliau belum melebihi hitungan jari dan yang terakhir sudah cukup lama berselang:D. Ada juga editor yang bersikukuh lebih suka mempekerjakan saya sebagai penerjemah daripada penyunting. Tapi setelah dia pindah bagian, penggantinya menawari saya menyunting… atas rekomendasi beliau:)

Memang sulit menetapkan spesialis berdasarkan genre. Bila sedang tren, bukunya bisa jadi banyak sekali namun peminatnya pun tidak sedikit. Butuh waktu agar penerbit memercayakan tugas tertentu yang “berubah genre” tadi. Padahal, sependek pengetahuan saya, sempat terjadi penurunan produksi terjemahan bahasa Inggris ketika demam Korea melanda. Risikonya, yang tidak menguasai penerjemahan bahasa negeri ginseng tersebut harus bersedia menggarap apa saja atau jarang memperoleh order. Lain halnya jika menjadi spesialis yang “lebih luas” misalnya khusus fiksi atau nonfiksi. Di sini pun kompetensi bisa berjenjang dan variatif. Penerjemah yang lancar mengerjakan memoar belum tentu mulus mengalihbahasakan how to, contohnya.

Postingan ini tidak bermaksud “menakut-nakuti” atau membuat pesimistis Anda yang ingin menjadi spesialis. Hanya saja sebaiknya ini dilakukan dengan hati-hati dan perlahan. Begitu mendapatkan genre yang diinginkan, berikan lebih dari maksimal. Biasanya genre lain berskor 9,9 (katakan saja begitu), yang ini harus lebih dari 10. Terjemahan yang tepat, rapi, risetnya benar, tidak mundur dari tenggat, pokoknya diupayakan “sempurna”.

Sangat tidak dianjurkan memutuskan spesialisasi hanya karena ingin mengelak dari elemen buku tertentu. Ada kenalan saya yang mundur dari rutinitas menerjemahkan buku klasik karena dirasa berat, mendayu-dayu, dan dia menyerah bertemu puisi yang “nyastra”. Ketika memperoleh genre fantasi sesuai keinginan, ternyata ceritanya berisi syair yang mengandung kata sandi. Pendek kata, apa yang kita hindari biasanya malah muncul lagi dan lagi dalam bentuk lain.

 

 

 

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)