Penulis: Fauzan Mukrim

Penyunting: Gita Romadhona

Penyelaras aksara: Nuning Zuni Astuti

Desain sampul: Indieguerillaz

Penerbit: Nourabooks, 2012

Tebal: 268 halaman

 

Jangan banyak bicara yang tak perlu, karena banyak bicara yang tak perlu adalah tanda orang tidak berakal.

Ada semacam pameo bahwa hukum gender berlaku di hubungan mesra orangtua dengan anak. Sungguhpun banyak bapak mengidamkan anak lelaki untuk dijadikan teman berolahraga, menonton bola, diajari memanjat pohon, dan sejenisnya, yang barangkali memercikkan impian masa kecil dikombinasikan dengan persepsi sendiri, konon para ayah lebih erat dengan anak perempuan sedangkan anak laki-laki “lengket” dengan ibu masing-masing.

Penulis dan istrinya mempersiapkan nama yang bisa dipakai putra atau putri, River. Buku bergelimang cinta yang puitis ini sejenis pembuktian bahwa tidaklah benar anak laki-laki patut dibiarkan saja, tumbuh sesuka hatinya dalam arti tanpa pantauan, bimbingan, dan tentu kasih sayang sebagai penerang. Baru kali ini saya mampu menelan untaian kalimat melodius tanpa mengernyit ibarat minum teh kebanyakan gula. Salah satu penyebabnya, di samping tidak “haram” penulis pria bertutur ala pujangga, sangat mengharukan membaca ungkapan cinta kasih seorang ayah kepada putranya.

Benar pula pernyataan Pak Haji Pidi Baiq di lembar ucapan terima kasih, “Anakmu memang butuh uang, tapi dia lebih butuh bangga siapa ayahnya.” Bukan satu-dua kali saya mendengar “penyesalan” dalam aneka bentuk, anak-anak perempuan dan lelaki yang telah dewasa merasa kurang kenal sosok ayah mereka. Seperti temuan saya di sebuah Page Facebook,

Sometimes you will never know the true value of a moment until it becomes a memory.

Melalui tulisan demi tulisan, Fauzan Mukrim tak bermaksud mencitrakan dirinya sebagai “makhluk sempurna”, meski sudah kelaziman seorang ayah atau orangtua mana pun menjadi teladan terdekat bagi buah hatinya. Saya tersenyum-senyum membaca pengakuan penulis ihwal korupsi berupa main Facebook di jam kerja, mematuhi keinginan istri yang tak tega melihat kucing anteng di depan restoran siap saji, dan kelakar-kelakar bersama saudara tatkala ayah tercinta berpulang ke rahmatullah.

Di banyak halaman, penulis memaparkan pertemuan dengan orang-orang luar biasa. Hati mereka berisi cinta, berupaya sepenuh yang mereka mampu untuk anak masing-masing. Pemancing yang membawa anaknya mengail ikan di sungai-sungai kotor Jakarta, misalnya. Komparasi dengan hobiis mancing yang memilih melepaskan ikan-ikan kendati sudah ada luka yang timbul dan membuat saya tercenung. Dosen yang bahagia meski bertahun-tahun menekuni profesi “hanya” memiliki vespa, tapi dalam kebutaannya malah bisa merampungkan S3. Lagu The Panasdalam yang mengajak berkontemplasi. Sebagaimana kaum ibu, para suami yang menanjak tahap menjadi ayah pun perlu banyak belajar dan menimba pengalaman.

Tidak hanya para ayah yang dikisahkan, tapi juga para ibu. Ibu River yang hanya sanggup satu hari meninggalkan si kecil kemudian menetapkan hati menanggalkan karier. Ibu lain yang melakukan aksi diam akibat ketidakadilan terhadap anaknya yang menjadi korban peristiwa mengenaskan sekian belas tahun silam. Ibunda penulis sendiri pula, yang menegaskan bahwa kejujuran tak boleh menunggu pagi. Memang, siapa yang tahu di mana dan sedang apa kita ketika malaikat maut menjemput?

River’s Note juga media penulis menghadirkan ayah terkasihnya. Ketika hati seperti ditikam sembilu, tak bisa menghadiahkan buku-buku tebal sesuai minat sang ayah di hari pensiun sebab penglihatan beliau terganggu. Kejadian menggelikan semisal ikan goreng kiriman yang digondol kucing dan tidak diketahui sang pengirim sampai wafatnya.

Semalaman, aku menghilang dan akhirnya menjelang Subuh aku kembali mengetuk pintu dan mendapati Bapak duduk di ruang tamu, terkantuk-kantuk menungguku untuk membukakan pintu. Saat itu, aku ingin memeluknya dan bilang, “Aku pulang karena aku mencintaimu,” tetapi egoisme masa remaja menahanku untuk mengatakan itu.

(hal. 101)

Tak terbilang air mata saya yang menetes membaca ini.

Ada beberapa hal yang tidak saya sepakati, namun saya hargai sebagai pendapat personal penulis. Secara keseluruhan, inilah buku indah yang istimewa, terutama untuk anak-anak yang merindukan ayah mereka. Seperti saya.

Skor: 4,5/5

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)