Ini saya tulis karena terilhami buku No One To Someone yang masih inspiratif dan sesuai dengan sejumlah kondisi kami sehingga kemarin saya baca ulang. Saya sekadar ingin bercerita tentang sejumlah kerikil dan liku-liku di dunia kepekerjalepasan yang kami jalani. Tidak hanya bidang penerjemah dan penyunting buku, namun bersentuhan dengan yang di luar itu juga.

Perjalanan pada satu tahun pertama

Bekerja lepas setelah menikah memang sangat lain dengan semasa lajang. Lebih-lebih waktu itu kami masih tinggal seatap dengan orangtua. Lumrah saja bila mereka masih bertransisi membiarkan anak tumbuh dewasa dan punya pendamping yang lebih berhak “mengontrol”. Karena saya sudah melepaskan beberapa klien terjemahan nonbuku yang kemudian banting setir, saya mulai lagi dengan proyek “kecil-kecilan”. Biarpun nilainya relatif tidak besar, saya jalani saja meski waktu itu sempat harus menemui klien di lobi hotel selepas Maghrib di pusat kota. Dulu suami kerja kantoran dan karena kami terhitung manten baru, pertemuan itu dibuat asyik saja sebagai kesempatan jalan-jalan berdua. Di situlah saya mesti lihai “menyamarkan” informasi dari orangtua. Pasti mereka tidak sampai hati melihat anak berjuang walaupun saya sendiri senang. Oh ya, waktu itu Bandung belum semacet sekarang jadi saya masih bersedia bertemu klien di daerah kota.

Hampir bersamaan dengan wisuda saya, majalah IT tempat saya rutin menulis berhenti terbit. Perusahaan yang menyewa jasa saya sebagai web content writer lepas juga mengalami kesulitan keuangan sehingga proyek tak dilanjutkan. Itu tidak saya ceritakan pada orangtua dan saya harus tampak tetap gembira supaya tidak mengundang pertanyaan. Saya belum tahu nanti/besoknya mau ngapain, tapi alhamdulillah dapat “pesangon” lumayan dan bisa belanja kebutuhan Lebaran dengan sukacita. Kondisi itu semakin tertutupi karena suami, yang sudah jadi pekerja lepas juga, mulai mendapatkan relasi dan proyek yang memadai. Bisa deh bantu-bantu orangtua untuk pengeluaran rumah tangga walau tidak besar.

 

Ada kejadian yang bikin stres banget? Sempat terpikir menyerah?

Pukulan ya lumayan banyak. Perkara merugi dan ditinggal kabur klien, sejujurnya lebih sering di dunia nonbuku. Masa itu kami sering beriklan di media cetak, terutama harian terbesar di Jawa Barat. Karena rumah orangtua cukup jauh, kami menyewa kantor di daerah Utara dengan biaya terjangkau berkat kebaikan seorang saudara jauh yang juga berbisnis di rumah. Beliau menyediakan pesawat telepon dilengkapi Caller ID, sebab dulu ponsel belum terlalu menjamur. Kalau dipikir-pikir sebenarnya banyak kejadian lucu. Ada klien yang mengorder terjemahan laporan dari luar kota, setelah selesai masih berusaha menawar harga yang disepakati dengan berbagai alasan. Terjadilah tarik-tarikan di telepon sebelum hasil disetorkan. Lagi-lagi karena “induk semang” alias pemilik rumah tempat kami ngontrak itu ibu angkat kami, ada rasa tidak enak dan ingin menutupi “kesulitan” supaya beliau tidak cemas. Alhamdulillah cara beliau menyikapi sangat menenangkan. Beliau selalu bilang kami tengah berproses dan harus kuat. Jadi kami tidak jatuh dalam “drama” yang berlebihan.

Sekitar sepuluh tahun silam, kami kembali ke rumah orangtua karena saya sakit keras hampir setengah tahun. Orderan tengah sepi sehingga kami terpaksa berutang untuk pengobatan. Saya sedih banget ketika suami juga sakit. Di situlah saya sadar, harus bangkit agar keadaan ini tidak berlarut-larut. Walaupun stamina belum pulih benar, kami meneruskan usaha yang tertatih-tatih di tempat kontrakan dan sering menginap di sana. Saya ingat betul, penyakit waktu itu bikin saya tidak berdaya pada siang hari, lalu bangun tidur sekitar jam 7 malam dan baru bisa makan. Itu pun mi tektek yang lunak. Tapi saya tidak boleh menangis karena ada ibu angkat, saudara, dan anak-anaknya yang masih kecil akan semakin mencemaskan saya dalam proses berobat. Kalau ada order terjemahan, misalnya artikel untuk referensi laporan mahasiswa, saya kerjakan sambil tiduran kemudian suami yang mengetik.

Saya benar-benar lupa bagaimana mulanya kami bisa pulih. Namun ada kejadian berkesan yang sampai kini bikin saya ketawa-tawa. Hari itu kami baru pulang dari pasar, jalan kaki di trotoar mumpung masih segar. Suami cerita, “Nih ada pembayaran masuk, 450 ribu. Tapi kita cuma kebagian 50 ribu karena kemarin ngutang 400 buat berobat.” Saya kaget tapi tak bisa apa-apa karena sudah diputuskan, lagi pula memang semakin cepat lunas semakin baik:))

Benar kata seorang teman, pekerjaan yang dipandang orang sebelah mata karena hasilnya tidak banyak justru bisa jadi penyelamat di masa sulit. Teman baik lain bilang, “Nikmati masa lesu ordermu sebagai waktu istirahat. Nanti akan ada masanya kalian kewalahan mengatur waktu.”

Kata-katanya menjadi kenyataan. Bapak (mertua) jatuh sakit, berbarengan dengan ibu saya. Namanya sudah lansia, faktor psikis ikut kena. Kami masih harus bersyukur karena tidak perlu khawatir soal uang, rezeki tengah lancar. Saya “hanya” stres ketika ibu saya sebentar-sebentar opname. Pernah sampai setahun tiga kali. Puncaknya akhir tahun lalu, sewaktu beliau dijadwalkan endoskopi dan harus antre cukup lama karena rumah sakit tengah penuh-penuhnya. Kami benar-benar pusing mengatur waktu. Suami sudah datang pagi-pagi untuk mendampingi endoskopi, ternyata malah diundur. Dia sudah kehilangan waktu kerja sedangkan tenggat sangat rapat padahal uang baru masuk bila pekerjaan selesai.

Kalau dibilang ingin menyerah sih, nggak. Cuma sangat lelah. Para editor di penerbitan umumnya sangat mengerti dan memberi keleluasaan tenggat dalam kondisi begini. Tapi masa mau terus-terusan? Kalau saya jadi mereka, saya pun akan tinjau ulang kerja sama. Di lain pihak, proyek “santai” berarti honornya turun lebih lama. Jadilah saya berutang, hal yang sangat saya hindari setelah kejadian dahulu. Saya benar-benar sedih. Tapi Allah Mahabaik. Tanpa bermaksud mensyukuri kesusahan orang lain, ada sahabat yang tengah ditimpa musibah jauh lebih besar dan dampaknya jauh lebih panjang. Mereka jadi teman curhat saya dan kami bisa saling menabahkan. Saya masih untung banget karena ada pekerjaan yang bisa “diandalkan” untuk mengangsur pinjaman.

 

Apakah kebanyakan persoalannya terkait keuangan?

Saya pikir masih dalam batas wajar, pasti banyak orang yang mengalami jatuh-bangun semacam ini. Ada satu hal yang bikin saya tak habis heran, sejempalitan apa pun berstrategi, tiap Lebaran pasti kami “semibangkrut”. Bukan maksud tidak mensyukuri hari besar yang penting, tapi saya merasa gagal mengatur keuangan karena dompet pasti kempes di minggu-minggu itu. Padahal kepinginnya seusai Lebaran ada sisihan dana karena tagihan tetap berjalan. Nggak bisa dong, mentang-mentang baru lebaranan, terus listrik telat bayar?

Yang “mantap” banget itu seperti tahun lalu. Kontrakan fotokopi dan toko ATK kecil kami di kecamatan sebelah habis pas sebelum Lebaran. Minggu terakhir Ramadan pindahan ke tempat baru dekat rumah, baru selesai larut malam. Seminggu selepas Lebaran, bapak mertua wafat dan kami meluncur ke Jateng. Sepulang dari sana, akhir pekannya ibu saya pindahan juga. Mungkin Lebaran sudah identik dengan repot, jadi tahun ini saya “pasrah”. Ada klien penerbit yang memberitahukan libur administrasi, biasanya jauh-jauh hari sehingga kita bisa “kejar setoran” kalau mau. Tapi sudah lima tahun saya lari-lari melulu, jadi kemarin memutuskan tetap jalan perlahan saja. Lebarannya gimana, pasti bisa dijalani juga.

Biang kerepotan lainnya adalah kerja tim. Karena suami sibuk, adik sibuk, saya kadang puyeng menangani pekerjaan tertentu. Printilan semacam riset, misalnya mencari buku di lemari yang entah terselip di rak mana, print, cari kata susah di kamus, googling.  Lumayan menuntut perhatian jika masih ada yang perlu dikerjakan, katakanlah beberes, nyuci, ngepel:))

Ada keponakan yang cakap dan berpotensi, sempat tinggal dengan kami beberapa lama, tapi saya harus realistis ketika dia menikah dan menekuni profesi lain. Cari “gantinya” sulit bukan kepalang, mungkin karena saya cari “kembaran” dia. Saya juga harus belajar sabar mengurus SDM (baca: asisten) di toko kecil kami. Ganti-ganti orang, beragam kinerja dan etos kerja, sampai akhirnya saya lelah berharap bisa mendidik orang untuk bantu-bantu dan memutuskan mengurus berdua lagi. Yang bikin capek itu komentar orang (herannya, kok saya dengerin:p). Kontrakan sudah dibayar, kok ya fotokopinya sering tutup. Ini kami putuskan supaya tidak keteteran menyelesaikan pekerjaan “utama”, yang tidak mungkin dikerjakan di kontrakan sana walaupun ada ruang kantor pribadi. Masalah ini akan saya tulis secara terpisah.

Apakah bisa dikatakan keuangan sudah stabil? Ada taktik tambahan selain yang dulu?

Menurut saya, sejauh ini kami baik-baik saja. Artinya, kepuasan batin dan materi seimbang. Naik-turun jelas masih terjadi, tapi tidak se-zigzag dahulu.

Terlepas dari beberapa kendala teknis, umumnya kerja sama saya dengan penerbit cukup lancar. Termasuk segi administrasi. Ada penerbit yang punya jadwal hari tertentu untuk pembayaran, rata-rata dua minggu setelah setor hasil kerja. Di sinilah saya harus “kreatif” dan putar otak, di situ jugalah perlunya menepati tenggat sendiri selain yang ditetapkan penerbit. Misalnya hari bayaran Penerbit A Senin, otomatis saya harus setor sebelum Senin dan bukannya Minggu malam tentu. Biasanya saya perhatikan juga kisaran jam berapa PJ mengecek e-mail. Bila PJ sibuk, ada acara kantor atau tugas luar, saya harus siap-siap jauh sebelumnya (baca: uang jangan sampai ludes). Kalau administrasi tertunda karena PJ sakit, cuti, dan semacamnya, ya bukan salah siapa-siapa:)

Pembayaran belakangan (setelah kerja rampung) ini tak jarang jadi bahan “berbangga” ketika saya mengobrol dengan kerabat dan sanak saudara. Tidak jarang ada kejadian menyenangkan juga. Ada penerbit yang tidak punya “hari rutin” pencairan sehingga honor bisa masuk dua-tiga hari setelahnya, bahkan pada hari yang sama. Penerbit yang punya “hari khusus” pun pernah bikin kejutan. Saya kira honor akan mundur karena jatuh tempo dua minggu bentrok dengan tanggal merah, ternyata esok harinya tetap ditransfer. Beberapa PJ memangkas prosedur dengan tandatangan digital dan pencairan bisa lebih cepat lagi. Bila proyeknya besar dan memakan waktu (naskahnya tebal atau merupakan satu set yang terdiri atas beberapa naskah), setoran kerja dapat diangsur dan honor dicairkan per hasil yang diterima. Untuk yang terakhir ini, pernah saya pilih seluruh pembayaran di akhir proyek saja sehingga merasakan jadi “orang kaya” (pinjam istilah Nui). Oh ya, ada satu lagi yang takkan saya lupakan. PJ menghitung kekurangan honor terjemahan saya suatu waktu karena tercecer waktu diperiksa (kalau tidak salah semacam lampiran setelah bab terakhir), kemudian beliau urus transfernya tanpa perlu isi SPK lagi:) Kali lain, ada proyek yang batal, tepatnya ditunda entah sampai kapan karena rupanya naskah belum final dari penerbit asli dan masih perlu mereka sunting. PJ menawarkan pembayaran sejauh yang sudah saya kerjakan, kemudian diperhitungkan ulang ketika saya menerjemahkan naskah final nanti. Mengingat terjemahannya masih mentah dan bolong-bolong, saya putuskan dibayarnya setelah final saja untuk menghindari keruwetan berhitung:)

Masalah arus kas, mungkin karena kami tergolong editor generalis, jadwal kerja relatif tidak lama “kosong”. Tantangannya adalah merelakan tawaran menarik lantaran jadwal bentrok atau sudah telanjur janji dengan editor lain selepas PJ yang ini. Ada juga sih beberapa editor yang mau menunggu, tentu bila jadwal terbit bukunya tidak mendesak. Namanya manusia memang harus “dipaksa” merasa cukup supaya tidak tamak. Di samping itu, salah satu pencapaian materi buat saya adalah ketika barang produktif kembali modal dalam tempo relatif singkat.

Kenapa masih bertahan?

Ingat perjalanan panjang menuju titik ini. Saya tidak merasa berkorban dengan berhenti jadi orang kantoran, karena ini cita-cita saya. Di samping itu, makin banyak yang saya pelajari dari balik layar. Informasi yang tidak bisa saya sampaikan terlalu rinci, misalnya. Menjaga kepercayaan klien, di antaranya. Kalau saya tidak boleh menuliskan proses pengerjaan sesuatu, ya saya tidak perlu banyak tanya kenapa. Diskusi dan tukar pikirannya saya suka, sejauh ini komunikasi dengan para editor penanggung jawab tetap lancar dan sehat karena tidak pernah berujung debat kusir yang tidak perlu. Masalah produk nonbuku yang muncul di toko demi omzet, konsep-konsep baru dalam tren perbukuan, prosedur penghentian order seorang freelancer yang sudah diberi kesempatan beberapa kali, hal-hal semacam itu memperkaya wawasan saya. Belakangan saya juga sering dilibatkan bikin subjudul, sinopsis, elemen-elemen yang tampak sepele namun butuh kerja keras dan tidak mudah. Masih ada pihak yang menyangka karena saya, tepatnya kami, sudah lama di bidang ini, kami tidak perlu melewati tes. Padahal itu tetap ada, katakanlah karena PJ berganti atau kami diserahi genre yang tidak biasanya kami kerjakan. Itu sah-sah saja.

Sekarang ini mampu menerjemahkan/menyunting berapa halaman sehari?

Tetap relatif, tergantung tingkat kesulitan. Saya pribadi merasa materi yang dipercayakan penerbit semakin berat saja. Dalam penyuntingan lokal misalnya, banyak pengecekan dan kadang-kadang menulis ulang isi naskah. Sedangkan di naskah terjemahan, biasanya butuh sering-sering riset. Yang belum berubah, saya tidak mampu menerjemahkan satu buku dalam sebulan kecuali benar-benar tipis (contoh, buku anak bergambar yang teksnya sedikit sekali). Perihal kesukaran yang bertambah, saya menilainya tantangan dan kesempatan belajar lebih banyak. Jadinya berkembang, dinamis, dan tidak bosan. Karena begitu mengasyikkan, pekerjaan di luar buku yang memang jarang saya terima juga dipersedikit. Kalaupun mau, saya pilih yang masih berkaitan dengan buku dan tidak terlalu lebar jurangnya dibandingkan yang sehari-hari dikerjakan. Dengan begitu, ketika saya kembali menekuni buku, gaya bahasa saya tidak terpengaruh banyak.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)