Sumber: flixster

[sws_yellow_box box_size=”100″] Falling in love is an act of magic. [/sws_yellow_box]

Kembali, Paul Dano memerankan penulis. Masih dengan stereotipe yang sama, tipe penyendiri dan cenderung introvert. Bahkan ia harus rutin menyambangi psikolog karena berbagai sebab yang dipendam, antara lain sakit hati pada mantan kekasih.

Barangkali karakter penulis semacam itu lebih mudah untuk pengembangan dan eksplorasi ide cerita. Seperti Calvin, yang dikisahkan pernah menangguk sukses di usia muda dan memikul beban selaku bintang dunia buku. Ketika bukunya dicetak ulang sepuluh tahun kemudian, orang masih ingin tahu apa karya berikutnya dan apa yang tengah ia garap. Nasihat sang agen pada Calvin, “Kalau ingin jadi seperti J.D. Salinger, langsung menghilang saja. Jangan pernah tampil di depan publik.”

Dari mimpi-mimpinya, sekaligus saran psikolog untuk menulis lagi, Calvin mengolah inspirasi. Ia mengira dirinya gila ketika gadis dalam mimpi dan imajinasi itu, Ruby Sparks, benar-benar ada di depan mata. Untuk beberapa saat, saya ikut bingung dan berharap cerita tidak jatuh menjadi “biasa”, lagi mudah diterka. Syukurlah tidak.

Kepada Harry, abang dan satu-satunya orang terdekat, Calvin bercerita. Harry-lah yang menguak fakta bahwa apa yang ditulis Calvin melalui mesin tik manualnya bisa menjadi kenyataan. Terkhusus menyangkut Ruby seorang.

Ihwal Harry dan Calvin ini, terungkap hubungan persaudaraan yang khas lelaki namun saling memperhatikan. Selaku abang, Harry tetap mengayomi adiknya dan mendengarkan semua permasalahannya. Bahkan ketika ia berada di tengah rapat. Menjadi semacam pelajaran akan sikap yang tepat apabila memiliki adik yang terbilang eksentrik. Toh, Harry terus memotivasi Calvin menulis.

Segi lain yang memikat di film ini ialah sosok ibu mereka, Gertrude (Annette Bening) yang menikah lagi dengan Mort, seorang pengrajin kayu (Antonio Banderas). Tidak mudah bagi dua anak lelaki yang sudah dewasa untuk beradaptasi dengan ayah tiri dan itu tergambar dengan baik.

Kembali pada Ruby Sparks, makin gamblang mencuat pertanyaan, “Apakah jika kita memiliki kontrol atas sesuatu, dan bisa dengan mudah mewujudkan keinginan, kita akan bahagia?”

Film yang “gila” dan relatif tidak biasa, bahkan ending-nya pun memberi saya ide.

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)