123rf.com

Sejauh ini, baru dua kali buku terjemahan saya (yang sudah terbit) ditangani editor lepas. Sudah menjadi kebiasaan, saya menanyakan editor yang menangani pekerjaan tersebut. Saya merasakan sendiri repotnya tatkala mendadak penyuntingnya berganti sebelum order selesai dikerjakan, padahal SPK dan berkas sudah turun. Biasanya aturan main berubah. Misalnya penyunting pertama tidak keberatan dengan setoran via email, namun yang baru ini malah minta hardcopy. Syukurlah itu terjadi sekali saja.

Apalagi kalau yang mengontak adalah pemilik perusahaan atau Chief Editor, menanyakan penyunting semakin dirasa perlu untuk diskusi.

Berdasarkan sejumlah obrolan, beberapa kolega editor lepas mengaku terbuka pada diskusi sepanjang terjemahan tersebut disunting. Tetapi mereka tidak menyengajakan diri, misalnya, mengontak atau add akun FB penerjemah bersangkutan. Malah kadang cukup mengetahui saja profilnya secara sekilas atau membaca blognya kalau memang ada, tanpa ‘wajib’ menjadi kontak. Barangkali mengingat keterbatasan waktu, sebagaimana yang pernah saya alami ketika menyunting terjemahan. Kadang-kadang yang saya garap adalah terjemahannya yang sudah lama disetorkan, bahkan bertahun-tahun silam, sehingga penerjemah bersangkutan telah lupa. Belum lagi ia sendiri tengah sibuk dengan pekerjaan lain dan saya tidak enak hati mengganggunya.

Rata-rata editor in house pun jarang membahas permasalahan terjemahan itu dengan saya, kecuali memang ada yang terpotong/ketinggalan atau ada hal yang kurang jelas. Cukup dimaklumi karena tugas mereka sudah sangat banyak di luar urusan naskah saja. Ketika menggunakan jasa penyunting lepas, editor in house pula menjadi jembatan komunikasi dengan saya selaku penerjemah.

Alhamdulillah, dari pengalaman yang sedikit (dengan editor lepas itu) cukup menyenangkan. Salah satunya memberikan umpan balik ketika saya meminta, berupa catatan koreksi agar tidak terulang di kemudian hari. Kali lain, saya pernah tidak sreg dengan hasil editan yang lumayan drastis kendati semua itu atas arahan penanggung jawab penerbitannya meski tidak sampai bersitegang. Masih jauh lebih baik daripada teman sesama penerjemah yang tahu-tahu mendapati kalimat dan diksinya berubah total (kalau tak hendak dikatakan aneh/salah) sehingga langsung protes pada penyunting lepas yang merombaknya.

Ada pihak penerbit yang sering meminta catatan khusus mengenai hasil penerjemahan, bahkan berupa skor dengan skala tertentu. Saya kadang termenung, bagaimana kalau saya di posisi penerjemahnya ya?

Mudah-mudahan selalu terjalin komunikasi dan kerja sama yang baik, ketika saya menjadi penerjemah atau duduk sebagai editor:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

4 Responses to “ Saat Ditangani Editor Freelance ”

  1. gravatar Linda B Reply
    October 10th, 2011

    kemarin ini pernah kerjaan saya disunting entah oleh siapa dan ada kata2 yang ganjil dalam arti waktu saya terjemahkan sepertinya bukan begitu dan kelihatannya salah pula. Sayangnya tidak punya buku aslinya dan tidak ada pula yang menjualnya (karena buku lama), jadi ga bisa protes dah 🙁

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      October 11th, 2011

      Kalau tidak tahu editornya, ya sulit, Mbak. Memang di bukunya nggak tercantum nama editor?

      • gravatar Linda B Reply
        October 12th, 2011

        ealah ampe lupa jawab. Ga tercantum 🙁

        • gravatar admin rinurbad.com Reply
          October 12th, 2011

          Ooh, coba ditanyakan saja baik-baik Mbak, ke editor yang ngorder:)

Leave a Reply

  • (not be published)