… mengapa tidak ada kabar? Mungkin ini pertanyaan yang mirip dengan para penulis ketika mengirimkan naskah ke media atau penerbit (tertentu). Sepertinya klise jika saya harus menerangkan kondisi pekerjaan di meja redaksi, dan tanpa mengurangi rasa hormat pada para editor tersebut, memang pada akhirnya kita sering menyimpulkan sendiri bahwa ketiadaan kabar berarti tidak lulus.

Selain pengalaman tiga tahun silam ini, satu kali saya memperoleh pemberitahuan usai menempuh tes di penerbit lain bahwa terjemahan saya masih kurang tepat. Waktu itu editor menyarankan saya mengontak rekan sekantornya untuk tes genre lain. Dugaan beliau benar, saya lulus tes kedua namun sampai sekarang belum bekerja sama sebab tawaran ordernya bentrok dengan jadwal.

Di penerbit yang memberlakukan sistem tender, biasanya hasil tes juga tidak diumumkan. Bila penerjemah tidak dihubungi, berarti gugur. Dalam sistem tender ini, penerbit bersangkutan membuka seleksi untuk satu buku saja. Saya pernah menempuh tes gaya tender dua kali untuk buku romance dan lima kali untuk sebuah penerbit buku remaja, keduanya di Jakarta. Tak ada kabar, berarti belum berjodoh.

Penerbit yang ramai diminati penerjemah, bahkan terkesan mempunyai penerjemah ‘langganan’ pun, ada kalanya membuka lowongan dengan sistem tender ini dengan alasan berbeda. Suatu kali, saya mengikuti tes di suatu penerbit yang membuka imprint baru. Pilihan dijatuhkan pada penerjemah lain dan kini bukunya sudah terbit. Saat iseng-iseng bertanya jauh setelah tesnya disetor, editor mengatakan bahwa memang hanya dicari satu orang. Peserta tes lain menerima email balasan berbunyi, “Terima kasih. Bila ada buku yang cocok, akan kami hubungi.” Karena sudah mengenal editor tersebut, saya mencoba menanyakan penilaiannya mengenai terjemahan saya. Ia menjawab, semua naskah tes dikelola oleh sekretaris redaksi dan diserahkan pada tim seleksi tanpa membubuhkan nama demi objektivitas, dengan demikian sang editor tidak tahu mana terjemahan saya.

Ada lagi suatu penerbit di Bandung yang tidak memberitahukan hasil tes. Ketika kami berkomunikasi kembali lewat blog dan diteruskan via japri, Chief Editor mengatakan bahwa terjemahan saya dinilai baik. Hanya saja lantaran target produksi mereka relatif tidak banyak, belum ada buku yang cocok untuk saya garap.

Berdasarkan pengalaman yang tidak banyak itu, saya menyimpulkan sebagai berikut:

1. Penasaran menembus satu penerbit sangat wajar. Namun bila sudah terlalu sering tidak lolos, lumrah juga bila kita beralih melamar ke penerbit lain dan tidak meminati tawaran tes tertentu.

2. Penilaian hari ini dan bulan depan bisa saja berbeda. Selain kemampuan penerjemah bertambah, misalnya karena kita sudah menggarap beberapa buku, penanggung jawab tes pun bisa jadi berubah. Katakanlah, penilaian Chief Editor belum tentu sama dengan Direktur Produksi (ini pernah saya alami).

3. Kita boleh memilih: mengajukan lamaran tanpa menunggu lowongan atau khusus menunggu informasi lowongan yang disebarluaskan saja. Kedua-duanya pun boleh.

Semoga bermanfaat.

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

8 Responses to “ Saat Tidak Lulus Tes Menerjemahkan ”

  1. gravatar Nurchasanah Reply
    January 25th, 2012

    sudah melamar, dan sedang harap harap cemas menanti kabar. kabar baik atau pun buruk. hehehe

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      January 25th, 2012

      Semoga yang terbaik, aamiin…:)

  2. gravatar Tika Reply
    January 25th, 2012

    Mbak, aku jadi penasaran soal karakter-karakter penerjemah (mis. cenderung romance atau cenderung thriller). Mbak Rini sudah pernah menulis tentang ini kah?
    Mungkinkah kalau dalam CV penerjemah banyak buku romance (misalnya) editor akan enggan memberikan naskah genre lain?

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      January 25th, 2012

      Hmm… karakter atau spesialisasi, Mbak Tika? Kalau spesialisasi, aku pernah nulis di sini.
      Mengenai CV, kurasa tidak masalah. Kan ada tes. Para editor tentu paham bahwa itu hanya masalah kesempatan, dan bisa diasah. CMIIW:)

      • gravatar Tika Reply
        January 26th, 2012

        Dua-duanya deng maksudku… baiknya mungkin ada kecenderungan berkarakter tertentu (kalau memang ada), dan yg memang memilih genre tertentu.
        Ngga papa ya? Soalnya aku lagi mau melepaskan diri dari romance..hihihi

  3. gravatar Ren Reply
    February 3rd, 2012

    Teh Rini, mau nanya dong. Aku pernah ngelamar jadi penerjemah di salah satu penerbit, dan diberitahu hasil tes akan diberitahukan tanggal sekian, baik lulus maupun tidak. Terus udah selang dua bulan lebih sampai sekarang, tiap aku hubungi, alasannya selalu masih dikoreksi.
    Itu kenapa ya. Teh? Apa memang bener gitu, atau emang aku ga diterima?
    Makasih atas jawabannya 🙂

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      February 3rd, 2012

      Halo Ren, aku pernah dengar kejadian seperti ini.
      Dugaanku (kalau memang sama dan mudah-mudahan begitu), mungkin yang melamar banyak sekali dan di luar dugaan penerbit sehingga mereka masih ‘kewalahan’ menyortir dan menyeleksinya. Bisa jadi yang duluan terlihat diorder lebih awal, sedangkan yang masih dalam proses akan dihubungi kemudian. Mudah-mudahan jawabanku memuaskan ya:)

      • gravatar Femmy Reply
        February 4th, 2012

        Setuju sama Rini. Aku juga pernah ditugasi memeriksa lamaran penerjemah di penerbit. Tapi ya karena tugas utama editor adalah memproses naskah, biasanya memeriksa contoh terjemahan terpaksa dikerjakan saat ada waktu agak luang. Alhasil, pemeriksaan membutuhkan waktu lama.

Leave a Reply

  • (not be published)