Membaca obrolan ihwal pendapatan penerjemah di postingan Mbak Dina Begum, saya jadi terkenang masa-masa tertentu. Terkadang hasil kerja keras “diakui” karena tampak dan memenuhi kebutuhan yang relatif besar-besar. Misalnya untuk biaya sekolah anak, cicilan rumah, biaya pengobatan, dan alat rumah tangga. Contohnya ketika kami dapat memiliki tempat tidur dari besi hasil rancangan sendiri, rasanya puas sekali. Biaya membuat kasur kapuknya saja sudah naik berkali-kali lipat sekarang ini.

Namun di masa sulit (yang berdampak otomatis pada penurunan penghasilan), jumlah berapa pun terasa amat berarti. Saya sering senyum-senyum, yang terkesan menghibur diri, sambil bergumam, “Beras dan bawang merah ini belinya dari honor yang sekian lembar kemarin, lho.”

Meski bosan berdalih “Manusia memang begitu”, nyatanya standar kita memang aneh. Orang dianggap “sukses” punya rumah kalau berupa gedong sigrong (bangunan megah) yang kadang menggiring ingatan saya pada kisah seorang mendiang pejabat militer yang mampu membeli rumah karena diisukan berhantu. Kalau rumahnya nyungsep di gang, murni milik sendiri dan SHM pun, serta PBB-nya tidak pernah nunggak, ya belum “sukses”.

Tapi omong-omong, rasanya nggak pernah menemukan atau mendengar orang “bangga” karena dapat membiayai pengobatan atau perawatan. Atau ada? Mungkin lantaran sakit terlalu identik dengan musibah. Saya merenung sendiri, apakah itu yang membuat saya hobi mengeluh dan lama sembuh ketika sakit? Di dinding suatu rumah sakit dan puskesmas yang saya datangi terpampang “Obat Paling Manjur Adalah Hati Gembira”. Tapi bagaimana caranya bersikap riang di klinik, apotik, dan tempat-tempat sejenis? Tersenyum saja berat sekali.

Ini pertanyaan dalam hati belaka.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)