Kenapa sekarang lebih banyak menyunting ketimbang menerjemahkan?

Sederhananya, kesempatan. Tawaran menyunting buat saya sangat perlu disyukuri ketika penerbit banyak yang tutup atau banting stir ke tren novel Korea seperti sekarang.

Lebih suka menyunting terjemahan atau naskah lokal?

Terjemahan. Naskah lokal masih sesekali, dengan beberapa pertimbangan. Masih terkait kondisi penerjemahan buku seperti yang saya sebut tadi, misalnya, ketika menerjemahkan saya baru sekali bertemu thriller. Menyunting membuka peluang untuk lebih dekat bersentuhan dengan genre favorit saya.

Apa kemenarikan lain pekerjaan ini?

Banyak yang bisa digali. Diskusi internal dengan editor-editor in house, tahu lebih dalam mengenai proses penerbitan, meskipun tidak semuanya bisa disampaikan ke umum karena memang menyangkut “dapur” perusahaan. Saya belajar lebih menenggang rasa dan sabar, meskipun mengedit itu sulit dan berat, masih jauh lebih mendingan ketimbang rekan-rekan editor in house yang tugasnya bukan sekadar mengurus naskah. Alhamdulillah diajak tukar pikiran hal sederhana seperti menentukan kutipan yang cocok untuk pembatas buku dan/atau promosi membuat saya makin merasa dipercaya:)

Jadi bisa dikatakan lebih seimbang antara pengetahuan terkait profesi ini dan pengayaan secara mental?

Betul. Menyunting, apa pun naskahnya, membuat saya bersyukur punya mata, berusaha merawat dan menjaga kesehatannya. Belakangan ini juga saya sadar telah mengabaikan rahmat lain, seperti tangan dan bahu yang ketika sakit, ternyata berpengaruh dalam pekerjaan. Tentu saja ada pelajaran-pelajaran yang disampaikan para kolega editor in house, menyangkut pentingnya perilaku dalam membina hubungan profesional dan soal rasa bahasa yang tidak bisa diajarkan/ditularkan.

Apakah menyunting berdampak pada komunikasi lisan dan tulisan, selain (idealnya) kesadaran akan mengoreksi kekeliruan berbahasa?

Otomatis. Yang paling sering saya rasakan, terpapar bahasa terjemahan yang belum diluweskan. Misalnya ketika ngobrol dengan suami, saya pernah bilang, “Hampir seperti itulah kira-kira…” atau “Saya terganggu oleh kenyataan itu.”

Benarkah dari segi waktu, penyuntingan bisa lebih efektif dan singkat dibandingkan penerjemahan?

Penyuntingan terjemahan, ya. Bagaimanapun, menerjemahkan seperti dihadapkan pada kertas kosong dan harus mulai dari nol. Sedangkan menyunting, disodori sesuatu yang sudah ada. Ibaratnya, menerjemahkan itu mengecat dinding dan harus memilah warna, memikirkan campuran, harga, merk… sedangkan menyunting bisa jadi mengerik sedikit-sedikit dan memoles ulang. Tentu dengan catatan terjemahannya sudah baik.

Apa sajakah parameter terjemahan yang baik?

Umumnya editor lebih memilih terjemahan yang kaku daripada yang salah/meleset. Salah mengartikan idiom sangat dimaklumi, tapi jika kekeliruannya banyak sekali hingga tiap kalimat harus dicek di buku aslinya, sudah tergolong fatal. Apalagi bila sampai di kesimpulan bahwa menerjemahkan ulang lebih cepat daripada merombaknya. Menyunting satu terjemahan yang demikian bisa memakan waktu setara menyunting dua terjemahan yang baik.

Satu lagi, menyunting terjemahan membuat saya sadar bahwa typo bukan “kiamat”. Lagi pula jarang sekali penerjemah yang menghasilkan typo, kecuali beberapa kasus.

Kasus seperti apa contohnya?

Ejaan-ejaan yang belum familier, karena satu dan lain hal. Soal huruf besar dan kecil. Tapi dari terjemahan-terjemahan itu juga saya belajar, bahwa sebaiknya tidak menggunakan softcopy baik hasil scan atau bukan untuk ditimpa. Biasanya ada yang terlewat diterjemahkan, lupa dihapus, atau bahkan ada tanda baca yang masih ikut naskah aslinya. Ini tampak sepele, sekadar mengganti tanda petik, namun jika naskahnya setebal 700 halaman, sangat merepotkan dan membuang waktu.

Apa pengalaman paling menarik dari keeditoran ini?

Saya menikmati sekali membaca buku di luar pekerjaan tanpa cerewet dalam hati, benar-benar meresapi dan menyimak kalimat demi kalimat. Kesempatan seperti itu sudah “langka”, jadi saya tidak ingin merusaknya. Saya juga sudah tidak memikirkan lagi soal kerjaan freelance yang dipandang sebelah mata, editor yang tidak diakui, dan sejenisnya, karena lebih baik energinya untuk mengasah kemampuan dan bekerja sebaik mungkin.

Bagaimana rasanya menerjemahkan setelah sering menyunting?

Sama dengan menulis, jadi lebih lama.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)