Postingan ini ditulis untuk menepati janji pada Nur Aini sebagai “wawancara balasan”. Dua pertanyaan pertama sudah cukup sering disampaikan dan dijawab, mudah-mudahan tidak membosankan.

Tentang bagaimana saya menjadi penerjemah dan editor freelance

Perjalanannya hampir sama dengan pekerja lepas lain. Yang terang, sebelum menjadi pegawai kantoran pun, saya sudah punya bayangan akan pensiun dini. Waktu itu saya memperkirakan usia 45 tahun. Tapi Tuhan mempercepat rencana itu, berikut kejutan-kejutan seiring prosesnya. Saya mulai sebagai penulis, itu pun bukan penulis buku seperti yang “meledak” sekarang (profesinya, bukan saya atau karya saya yang demikian). Saya sempat menulis artikel pendek-pendek di koran lokal, cerpen di majalah remaja, menjadi kontributor majalah anak, memberi les privat bahasa Prancis, bahkan tugas di kantor masih berhubungan dengan menulis yakni web copywriter. Pekerjaan yang sangat menarik karena saya suka menulis singkat-singkat, bisa melatih bahasa Inggris, dan juga meminati IT.

Sebenarnya keinginan menerjuni dunia buku, tepatnya penerbitan secara in house, sudah ada sejak jatah SKS hampir habis. Waktu itu lowongan di sejumlah penerbitan Bandung sering saya baca di koran, berikut syarat-syaratnya yang tidak mudah. Setelah berkali-kali melamar dan ikut tes tanpa hasil, saya pikir kesempatan tersebut lebih terbuka untuk lulusan Editing, yang memang ada di fakultas tempat saya menimba ilmu. Meski demikian, masih ada rasa penasaran karena ketika membaca buku Menjadi Penerbit (antara lain kontributornya Ibu Sofia Mansoor), para penulisnya mengatakan bahwa mereka mulai sejak dini. Bahkan ada yang sejak masih kuliah.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya mengesampingkan dulu impian itu. Saya menulis komik untuk proyek independen sehingga sempat merasakan komentar-komentar seperti, “Ngomik di mana, Mizan bukan?” Tapi semuanya proses belajar yang tetap menyenangkan, termasuk mengenyam beberapa profesi lain begitu mengenal internet. Ikut tes menulis skrip animasi anak, sinopsis sinetron, skenario film, menjadi kontributor tetap majalah IT, kemudian kembali ke kampus untuk persiapan sidang akhir. Setelah lulus, saya mulai dari nol lagi untuk menjadi freelancer penuh. Membangun jejaring lagi, tapi di jalur yang berbeda. Saya belajar menulis buku dan menerjemahkan textbook. Di sela-sela itu, saya pernah ikut menulis teks iklan layanan masyarakat, menjadi ghostwriter, dan menulis transkrip rekaman film untuk klien perorangan.

Tentang bertemu suami dan sama-sama menjadi freelancer fulltime

Saya dan Mas Agus dulu teman main. Dia kakak angkatan saya lain jurusan, pertama kali bertemu di acara Opspek Fakultas tahun 1995, sama-sama menjadi panitia. Bertemu lagi ketika dia main teater, juga kegiatan fakultas. Kalau ditanya kenapa awalnya bisa akrab, simpel saja. Di Sastra Prancis masa itu mahasiswanya sedikit, sedangkan di Sastra Arab angkatan Mas Agus, perempuannya yang sedikit. Jadi seperti SMEA ketemu STM. Atau seperti kata teman saya, hubungan bilateral yang berkembang menjadi kamus dwibahasa.

Karena sejak kecil Mas Agus sudah dipupuk berwirausaha atau kerja mandiri, sebenarnya dia yang lebih berpengalaman sebagai freelancer. Bukan karena lahir duluan saja. Dia mulai dari bawah sekali di bidang yang berbeda, jadi tukang cat dan pekerja bangunan. Kegiatan itu masih dilakukannya pada liburan semester, di samping membantu usaha material kakak. Mas Agus juga yang lebih dulu menjadi freelancer penuh, setelah satu tahun bekerja kantoran di Bandung. Sebelumnya kami pernah membuka rental komputer, coba-coba punya kolam ikan, tapi di dunia tulis-menulis jam terbangnya sebagai ghostwriter lebih banyak. Keputusan kami bisa dibilang nekat karena menjadi freelancer total tidak lama setelah menikah.

Tentang rumah

Seperti disampaikan Nui dan para pekerja lepas lainnya, status nonkantoran memang tidak “menguntungkan” terkait urusan KPR. Saya dan Mas Agus memandang itu sebagai segi positif, supaya kami tidak tergoda berutang. Opsinya macam-macam, antara lain tinggal di luar Jawa agar mampu membeli rumah sederhana, sampai beli rumah knockdown segala. Gara-gara baca majalah:)

Kondisi rumah sewaktu kami baru memproses oper kredit. Sekarang yang sebelah sudah ambruk karena lama dikosongkan.

Kondisi rumah waktu kami lihat pertama kali.

Sekarang sebelahnya sudah ambruk kena angin ribut.

Alhamdulillah, tawaran oper kredit rumah yang pernah kami tolak ketika baru menikah (karena masih ngantor dan jaraknya cukup jauh) masih berlaku. Kami survey dulu, berhitung biaya. Modal awalnya mungkin semi nekat dari segi mental, dalam arti sama-sama sadar bahwa dengan kondisi penghasilan tidak tetap seperti ini, kami tidak bisa berekspektasi banyak. Tapi alhamdulillah rumah yang ketika didatangi sudah hampir runtuh semua ini cocok dengan visi kami berdua untuk menempati desa yang tenang. Waktu itu pas dapat rezeki untuk membayar oper kreditnya. Belum semuanya, sih. Namun yang penting, tidak ada surat-surat khusus sebagai persyaratan ketika berhadapan dengan empunya rumah. FYI, beliau sekadar membeli dan tidak pernah menempati rumah ini. Jadi sewaktu kami kemari pun, banyak yang masih kosong. Bahkan sampai sekarang.

Baru diberi sorondoy, belum ditutup seperti sekarang

Waktu baru dibuat sorondoy. Belum ditutup seperti sekarang.

 

Setelah tahap pertama penggantian kredit yang sudah berjalan, kami bulatkan tekad kerja keras. Kira-kira dua bulan kemudian harus sudah lunas. Angsuran bulanannya terhitung sangat terjangkau sih, tapi jika disekaliguskan begitu lumayan banyak juga. Menjelang tanggal jatuh tempo, saya lupa H- berapa, kami dapat melunasinya. Alhamdulillah dapat rezeki pula dari suatu proyek untuk memulai perbaikan sederhana. Sederhana yang tentunya membutuhkan dana cukup banyak juga, apalagi waktu itu menjelang Lebaran.

Karena Mas Agus suka bertukang, dia ikut kerjakan bareng dua kerabat jauh kami. Kira-kira dua minggu, dana habis. Itu sudah ditambah honor terjemahan novel yang saya peroleh. Tapi yang penting kondisi rumah telah “berbentuk” dan ada listrik serta air. Kami masih harus mengumpulkan uang untuk pindahan dan urusan kecil-kecil seperti membuat KTP serta KK baru. Pindah resmi ke lereng gunung ini setelah 6 tahun berumah tangga, tepat di usia saya ke-30 (penting:p).

Selebihnya, rumah dilengkapi perlahan-lahan dalam arti kalau ada yang perlu dibuat dan ada dananya, baru dikerjakan. Karena itu baru sekian waktu kemudian kami buat lubang ventilasi di kamar belakang dan depan, merapikan teras agar bisa duduk-duduk di luar, dan semacamnya. Perkara berbenah, kami sama-sama supermoody dan tidak peduli dicap berantakan atau pemalas. Tapi buat kami, rumah sekaligus ada berikut perabotnya dan “tinggal masuk” itu tidak seru. Kami ingin tumbuh dan berkembang secara bertahap, supaya tidak “kaget” dan repot sendiri.

Karena angsuran bulanan sangat ringan, kami sering tergoda untuk menunda-nunda. Tapi tidak boleh begitu, apalagi masih ada tunggakan akibat denda atas pemilik sebelumnya yang bisa dilunasi kemudian. Supaya tidak terlena dan berhubung banknya jauh, begitu dapat rezeki kami langsung bayar beberapa bulan sekaligus. Alhamdulillah sudah lunas awal tahun ini.

Kembali ke urusan rumah, oper kredit dan tinggal di tempat terpencil memang keputusan bulat yang cocok dengan gaya hidup kami. Belum tentu cocok dengan Anda.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)