Pinjam gambar dari parcelbuku

Ini bukan resensi, ulasan, atau sejenisnya. Ihwal bertutur dalam komik hadis dan aneka tema religi yang bersangkutan dengan kehidupan sehari-hari, Vbi sudah menemukan tempat terbaiknya. Saya hanya ingin bercerita tentang kelebatan pemikiran ketika membaca kisah pertama, pengalaman pribadi sang komikus (sepertinya) dengan mendiang ayahanda.

Sudah pasti berbeda dengan Mas Agus, yang menangkap satu bagian cerita pembuka itu dengan kacamata politik.

Ini menyangkut penyesalan seorang anak yang merasa kurang memperhatikan orangtuanya. Belum lama berselang, hampir bersamaan dengan membaca komik ini, saya menonton video pendek Gift. Terlepas dari semua pesan positifnya, bagian dialog sang anak yang mengaku sibuk sehingga tidak bisa pulang sangat mengusik hati saya. Bukan karena sering berbuat serupa saja, namun lebih dari itu.

Sewaktu anak beranjak dewasa, ada hal-hal yang dituntut untuk membuktikan kematangan itu. Pertama, kemampuan mengatasi masalah sendiri. Kalau perlu, menutupinya dan “berpura-pura” semua baik-baik saja. Tidak sedikit-sedikit bercerita, apalagi mengeluh, pada orangtua. Kedua, tanggung jawab tatkala dia berkeluarga. Saya tidak hanya menyoroti lelaki, seperti yang ditokohkan komik Vbi dan video pendek tadi, namun juga wanita.

Betapa rumit dan beratnya apa yang harus dipikul seorang anak usia dewasa. Dia masih berstatus anak, sampai kapan pun konon, di mata orangtua. Tentu ada kewajiban-kewajiban yang diharapkan dipenuhi, di lain pihak dia juga harus menghadapi persoalan di depan mata. Bisa saja pekerjaan, keluarga, anak, pasangan yang butuh perhatian. Sering saya bertanya-tanya, seperti “mustahilnya” menyeimbangkan pekerjaan dengan keluarga, mampukah seseorang memberi porsi atensi sama besarnya kepada orangtua dan pasangan/anak setelah berumah tangga?

Mungkin kesimpulan saya kelewat menyederhanakan, malah menggampangkan. Memang tidak mungkin anak dapat membalas cinta orangtua dengan persentase persis hingga angka nol terkecil. Yang dapat kita lakukan, atau saya lakukan, sebatas semampunya. Di samping itu, yang lebih penting lagi, saya memutuskan memberlakukan prinsip menghindari penyesalan. Bukan berarti mengentengkan saja apa yang sudah terjadi, tapi perlu meminimalkan efek “hantu masa lalu” agar hidup di hari ini tidak berat dan sarat sesal melulu.

Saya bukan anak yang sempurna. Jauh dari itu. Bukan pula istri sempurna, juga menantu sempurna. Sudah pasti perlakuan saya pada orangtua penuh kekurangan. Namun saya bersyukur punya suami dan orangtua (terkhusus mertua yang jarang saya tengok) yang tidak sulit disenangkan. Semoga bila berposisi sebagai orangtua, saya lebih sadar lagi bahwa pengertian adalah bagian pelajaran ikhlas.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)