Tulisan ini berdasarkan pengalaman suami menyunting seri historical romance karya Mary Balogh dan beberapa buku genre serupa yang saya baca.

  • Kalau belum pernah menggarapnya, sempatkan membaca minimal satu buku. Dua lebih bagus lagi, sebagai pembanding dan mengayakan referensi.
  • Nonton film-film bernapas mirip, semisal The Duchess yang diperankan Keira Knightley atau The Other Boleyn Girl. Menyerap dialog akan membantu membiasakan diri pada gaya bahasa historical romance yang relatif berbunga-bunga dan “ruwet” seperti novel klasik.
  • Ciri kalimat historical romance cenderung berpanjang-panjang, karenanya hindari bahasa lugas. Namun bukan berarti mengulang-ulang kata. Contoh:

Margaret menyukainya dan ia tahu pria itu juga menyukainya pun demikian.

Rangkaian kejadian itu menjadi skandal paling spektakuler yang pernah disaksikan warga London setelah sekian tahun lamanya, dan mungkin menjadi skandal kegemparan terbesar sepanjang masa.

  • Karena latar waktunya sekian ratus tahun silam, usahakan menghindari bahasa “gaul” atau diksi yang berbau kekinian. Contoh:

meledek = mencemooh

mau berdiri = hendak berdiri

jatuh cinta berat = jatuh cinta mendalam

nyalang = tanpa memicingkan mata/membelalakkan mata (tergantung konteks)

lumayan = cukup

Apa-apaan = apa yang kaulakukan?/apa yang terjadi?
Sih = memang (sesuai konteks)
Sori = maaf/maafkan aku
Jomblo = lajang
Kok = sungguh
Macho = maskulin
Ketemu = bertemu
Culun = biasa saja
Ada maunya = mempunyai maksud tertentu
Cengiran = seringai.

Nyengir = menyeringai/tersenyum lebar

  • Karena banyaknya tokoh, pastikan menghafal mana yang kakak, mana yang adik. Jika tokoh memiliki banyak saudara/berasal dari keluarga besar, buat daftar tokoh agar tidak keliru atau tertukar. Catat juga nama-nama kecilnya sebab kadang sapaan atau nama kecil itu digunakan sebagai kata ganti oleh pengarang.
  • Sapaan dan gelar tidak perlu diterjemahkan, di antaranya: My lady, my lord, Baroness, Earl, Marquis.

Semoga tulisan pendek ini ada gunanya.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

6 Responses to “ Kiat Menerjemahkan Historical Romance ”

  1. gravatar zai Reply
    February 22nd, 2013

    Kata Memo disuruh nonton The Tudor .. :))

    • gravatar memo Reply
      February 22nd, 2013

      idiiiih pake bilang-bilang disuruh aku -__-
      bohong teh bohoooong wakakaka

      udah nonton juga kan kamu, neng -.-

      • gravatar Rini Nurul Reply
        February 22nd, 2013

        Pertanyaannya: Mery udah nonton belum?:))

    • gravatar Rini Nurul Reply
      February 22nd, 2013

      Betul juga sarannya, aku pun sudah nonton. Tapi Mas Agus lebih tahan nonton Elizabeth, kalo seri dia keteteran:)

  2. gravatar zai Reply
    February 22nd, 2013

    Nonton Elizabeth ketiduran, Teh hihihi…
    kalo Tudor, kan ada yang cakep.. eh di Tudor kan juga ada Anna Boleyn 😀

    wuii Memo mah udah bolak-balik nontonnya, Teh.. yang bukan versi sensor lagi.. *kabuur*

    • gravatar Rini Nurul Reply
      February 23rd, 2013

      Aku lebih suka Anna Boleyn versi Natalie Portman:)
      Tapi gara-gara Tudor ini, tiap lihat Jonathan Rhys-Meyer di film lain, imej playboynya susah hilang:D

Leave a Reply

  • (not be published)