sejarahpersminang

Sebagai generasi Internet 90-an, saya gembira sekali mendapat tawaran pekerjaan melalui e-mail. Buku ini merupakan satu dari sedikit karya suntingan yang “berbeda warna” tahun lalu, antara lain karena penulisnya (melalui istri beliau) yang menghubungi saya.

Waktu itu saya sedang menangani sesuatu dan tidak bisa buru-buru. Sesuai kebiasaan, saya merekomendasikan editor lepas lain. Ternyata ketika dihubungi sekian minggu kemudian, sang editor sudah menerima pekerjaan lain dan saya kembali dikontak. Karena pekerjaan sebelumnya telah rampung, saya mengiyakan dengan perkiraan waktu dan minta dokumennya untuk dibaca-baca dulu.

Sebagian besar naskah masih berbahasa Inggris, lalu saya diberi dokumen sumbernya yang berupa disertasi penulis. Setelah membaca lagi dari awal, bahasa Inggrisnya memiliki keunikan “aksen” yaitu gaya Melayu. Sangat pas bahasa Indonesia bernuansa Minang yang melodius dipadukan dengan bahasa Inggris seperti itu. Saya kroscek, bandingkan, dan memeriksa beberapa bab. Sempat saya renungkan untuk menerjemahkan seluruh bagian berbahasa Inggrisnya, namun alhamdulillah hanya beberapa yang perlu dialihbahasakan.

Selain bolak-balik tanya Mbah Google mengenai beberapa tokoh yang disebut di naskah, saya baca-baca sedikit dan berkonsultasi dengan Mas Agus. Sejumlah istilah Minang perlu saya komunikasikan juga, untuk itu saya berterima kasih pada Uni Eva Nukman. Beliau menjelaskan secara cair apa yang saya temukan di Google sehingga lebih mudah dimengerti. PR saya lainnya adalah mengecek bahasa Belanda, ejaan nama, dan membenahi daftar pustaka.

Karena lama berkutat dengan fiksi, tak ayal terjadi “badai” di otak saya. Tapi itu masalah pembiasaan dan pemanasan yang memadai. Dengan buku-buku yang saya peroleh, saya tambahi sedikit daftar pustaka dan catatannya. Itu pun masih dikritik Mas Agus setelah terbit. Katanya, dalam karya yang bersifat ilmiah, hindari kata penghubung di awal alinea. Bila itu membuka anak kalimat, sebaiknya dipindahkan/diubah struktur kalimatnya.

Saya masih harus belajar lagi tentang ini, tapi saya sangat menyukai pengalaman tersebut:)

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)