IMG_20130512_094559

Belum lama ini, saya keliru mengerjakan suatu naskah terjemahan. Bukan kesalahan fatal, memang. Salah menerapkan selingkung karena lupa atau telanjur terbiasa dengan penerbit lain yang lebih sering (kalau tak hendak bilang sudah menancap). Semua titik tiga yang mestinya didahului spasi ” … ” saya tulis tanpa spasi “… “. Sepele tapi repot kalau banyak. Saya rasakan sendiri waktu mengoreksi naskah karena replace all kelewat berisiko.

Bukan berarti saya sudah hafal luar kepala selingkung penerbit tadi. Butuh usaha dan waktu untuk mempelajari lagi dan lagi. Kadang saya menyempatkan mengetik ulang dari buku cetak guna melihat yang “kecil-kecil” dan meminimalkan koreksi di dalam sana. Yang paling tak terukur adalah subjektivitas diksi. Contohnya saya pakai “istri tercintanya”, sedangkan PIC lebih suka “istrinya tercinta”. Keduanya benar. Atau bila PIC yang satu suka memadankan “pendeta” untuk vicarist sedangkan PIC lain memilih “vikaris” saja. Ini bukan untuk diperdebatkan atau dicari rumusnya.

Berikut beberapa contoh lagi:

Ia juga merasa begitu segar, bahkan lebih dari rasa puas biasa dengan hanya sekadar berbaring.

Koreksi editor:

Ia juga merasa begitu segar, bahkan melebihi rasa puas biasa dengan hanya sekadar berbaring.

 

Suntingan saya:

Jika ini tidak diketahui, tak ada bahayanya, bukan curang.

 

Koreksi editor:

Jika ini tidak diketahui, takkan ada bahayanya, bukan curang.

 

 

Suntingan Mas Agus:

Michael menyatakan ketidaksetujuannya dari samping perapian, dengan berselimut untuk mengusir hawa dingin.

 

Koreksi editor:

Michael menyatakan ketidaksetujuannya dari samping perapian, sambil berselimut untuk mengusir hawa dingin.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)