Kantor baru ^_^

Suatu ketika, seorang (calon) pembaca menanyakan lewat blog apakah saya menyukai atau menilai bagus sebuah novel yang saya terjemahkan dan sudah lama terbit waktu itu. Saya berkelit diplomatis, bahwa sebagai penerjemah  mungkin penilaian saya bias. Penanya tersebut agak mendesak, menyatakan bahwa kenalan-kenalan penerjemahnya biasa mengungkapkan secara terbuka apakah cerita (menurut buku aslinya, tentu) memang bagus dan layak beli atau tidak.

Di kemudian hari, buku itu dibedah dan diulas oleh seorang penerjemah senior yang kampiun. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk membaca bukan hanya karena beliau amat sibuk, namun juga meneliti dan menyampaikan penilaian terjemahan kepada saya (yang ini secara pribadi tentunya). Saya belajar ihwal etika menilai dari beliau juga, yang mengatakan bahwa dua bintang yang disematkan semata karena tidak respek pada karakter sentralnya. Saya menghargai itu, sekaligus ‘menikmati’ kejutan yang diberitakan penyunting bahwa masyarakat tertentu yang menyukai dan menghormati tokoh dalam novel tersebut menunjukkan respons positif, kendati bukunya tidak dicetak ulang karena satu dan lain hal.

Dunia (industri) buku termasuk salah satu wilayah yang amat sukar diprediksi, menurut saya. Terlalu banyak faktor bermain, apa yang diyakini bisa bergeser, apa yang semula dipesimiskan bisa meleset jauh.

Kembali pada penilaian pekerja buku sendiri, memang dilemalah yang timbul. Seorang kolega berkata, “Apa salahnya Rin, memberi lima bintang di GR pada karya sendiri?” Tidak salah, bahkan itu hak prerogatif sang pekerja buku. Kendati saya juga menghargai pendapat kolega lain, bahwa baginya terasa tidak ‘sah’ menyematkan satu bintang pun pada buku yang ditulis, disunting, atau diterjemahkannya. Entah karena sesungguhnya sangat suka, atau sebaliknya.

Tak ayal, ‘hukum tak tertulis’ seorang pekerja buku untuk berpromosi, yang tentu berdampak pada karier profesionalnya sendiri tetap berlaku. Namun begitu mendapati subjektivitas ini sedemikian variatif alias tak ada rumus bakunya, terkhusus pada yang saya baca dan konsumsi sendiri, informasi dari sang awak penggarap buku semata menjadi pengetahuan sekilas. Contohnya, penerjemah yang secara blakblakan mengutarakan ketidaksenangan pada cover buku garapannya yang baru terbit sementara penerjemah lain dan penyunting yang terlibat sangat menyukainya. Juga, seperti yang baru saya lihat di rak salah seorang penyunting. Ia memberi satu bintang pada sebuah buku yang teramat dinikmati penerjemahnya, tentu dari segi cerita dan bukan hasil terjemahan. Penilaian itu bukan tolok ukur kualitas buku, sekadar info bahwa sang penyunting tidak menyukai unsur-unsur tertentu di dalamnya.

Bagaimana hubungan preferensi pekerja buku dengan minat dan ketertarikannya? Sayang sekali, kebanyakan ternyata berbanding lurus. Beberapa kolega editor in house yang tidak ingin disebut namanya mendapati bahwa penerjemah, penyunting atau penyelaras aksara lepasnya (outsource) yang secara personal tidak menyukai buku yang dikerjakan ternyata menunjukkan kinerja kurang memuaskan. Memang ada kasus-kasus ‘ajaib’, ibarat mahasiswa yang kuliah setengah-setengah bahkan sering bolos namun mencapai IPK gemilang karena keberuntungan. Ada yang mengaku kurang sreg dengan genre tertentu atau jalan cerita secara garis besar, ternyata hasil kerjanya sangat bagus. Sebaliknya, ada juga yang secara ekspresif mengaku memfavoritkan buku tersebut atau penulisnya, hasil kerjanya cukup mengecewakan. Catatan: standar penilaian penyunting satu dengan lainnya atau anggota tim penerbitan bersangkutan bisa berbeda jauh pula. Itulah sebabnya kadang-kadang ada fenomena mengherankan. Penerjemah yang kurang bagus atau kurang luwes di penerbit A dan B tetap diorder oleh penerbit C.

Subjektivitas adalah titik yang tak bisa diganggu gugat. Lewat ulasan-ulasan di Goodreads atau aneka blog, misalnya, bisa saja kita mengukur selera seseorang. Katakanlah, ada yang ‘keukeuh’ tidak suka buku remaja, ada yang tidak mau sama sekali membaca buku terjemahan (seseorang mengatakan ini kepada saya), ada juga yang merasa lebih ‘nyaman’ membaca buku-buku impor dan minim buku bahasa Indonesia baik terjemahan maupun karya asli. Toh, komentar dan opini yang bertebaran itu belum mewakili pasar ‘nyata’ secara keseluruhan. Tidak semua pembaca aktif di sosmed atau dunia maya sehingga parameternya memang hanya pada laporan penjualan, besaran retur dan cetak ulang.

Catatan tambahan: tidak semua pekerja buku (bahkan penulis) ingin tahu hasil penjualan karyanya. Sebaliknya, tidak semua penyunting in house ‘terbuka’ mengenai laporan tersebut.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)