After Tak jauh berbeda ))

Sebelumnya, perlu saya sampaikan bahwa tidak semua penerbit menganut kebijakan penyensoran ini. Ada yang membiarkan saja apa adanya, dengan alasan tertentu semisal ingin menghadirkan karya secara utuh atau disebabkan kesepakatan tertulis sewaktu negosiasi hak penerbitan terjemahannya. Dalam suatu diskusi dengan seorang Manajer Redaksi penerbit, yang memang identik dengan keislaman, beliau mencontohkan satu chicklit dan mengatakan bahwa adegan hubungan badan di sana sebenarnya tidak perlu.

Sementara di kalangan penerbit yang membolehkan sampai batas tertentu, teknik penghalusan menciptakan kepusingan tersendiri. Karena itu, sekiranya tidak berlebihan (baca: sampai mual), saya lebih sering menandai teksnya dan memberi catatan untuk diperhatikan editor in house. Biasanya penerbit memberi label buku ‘Dewasa’, tentu saja jika cerita dan karakternya memang diperuntukkan orang dewasa.

Ada juga penerbit yang lumayan ketat sehingga adegan cium, meski sekilas, pun tidak boleh. Lucunya, saya sudah mendiskusikan dengan editor yang satu untuk mengganti dengan cium kening atau cium pipi, ternyata oleh editor yang menangani (beda orang) dibabat habis. Saya tidak menyalahkan, namun lain kali mengganti dengan pegangan tangan atau pelukan saja.

Pengguntingan harus sedemikian rupa agar tidak mengganggu kepembacaan, dengan kata lain agar pembaca tidak mengetahui bahwa sebenarnya sejumlah adegan kena sensor (kecuali membaca buku aslinya). Saya pribadi memilih diam saja dan tidak menginformasikan hal itu saat mengabarkan atau mempromosikan buku yang sudah terbit tersebut. Melayani pro-kontra masalah ini sangat kontraproduktif dan hanya menjadi perdebatan tak berujung. Selalu ada pembaca yang berargumen bahwa mestinya tak perlu dibabat/disensor, tapi saya yakin apabila dibiarkan utuh-utuh, akan timbul kecaman juga.

Idealnya memang, jika menggambarkan hubungan suami-istri, cukup dituliskan ‘masuk kamar, tutup pintu’. Selesai. Namun ada kalanya perlu ditinggalkan sedikit informasi, seperti kata seorang editor senior, misalnya jika di dalam kamar ternyata ada adegan penyiksaan atau suami/istri menyebut nama wanita/pria lain. Di sinilah ketelitian tinggi diperlukan agar tidak asal babat.

Jangan salah, jengah karena adegan demikian, apalagi sampai banyak, tidak hanya dirasakan editor wanita. Seorang Chief Editor prialah yang mengajari saya teknik menyensor dan menghaluskan, serta menandai secara detail contoh-contoh yang perlu dibuang. Selain rayuan yang menjurus, beliau mengatakan bahwa gaun tidur ‘ehem’ (saya kok tidak tega ya menyebut kata tertentu) perlu disamarkan dengan ‘dalaman’ karena lebih halus konotasinya. Bagian-bagian tubuh yang kelewat rinci juga tidak usah diterjemahkan, dengan kata lain bila tak penting dalam cerita, saya tidak perlu ragu membuangnya. Riset waktu itu menunjukkan bahwa pembaca di mancanegara pun risi dengan yang berlebihan.

Buku anak-anak, khususnya yang bergambar, pun menuntut kecermatan. Dalam sebuah buku sains, saya dan editor in house sepakat menggunting ujung ilustrasi yang menunjukkan salah satu bagian proses kehamilan (silakan Anda tebak sendiri). Di penerbit lain yang sedikit lebih longgar, sebuah buku dewasa pun tak luput dari pengguntingan ketika menceritakan detail hubungan sesama jenis.

Saya tidak bisa menjabarkan contoh-contoh pengguntingan dan penghalusan itu lebih jauh, karena kesulitan mencari diksi yang tidak membingungkan sekaligus menghindarkan blog ini di-report karena konten ‘berbahaya’. Anda bisa simak lebih detail dalam lampiran data yang dianalisis seorang mahasiswa terkait penghalusan terjemahan The Kite Runner di sana. Semoga cukup jelas.

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

3 Responses to “ Penyensoran Adegan ‘Seram’ dalam Buku Terjemahan ”

  1. gravatar Linda Reply
    February 12th, 2012

    Pernah baca adegan cium yg diganti jd pegangan tangan di buku terjemahan tertentu. Padahal ciuman itu mempunyai dampak magis besar pada pasangan itu dng menciptakan ikatan batin di antara mereka. Aneh kan kalo ikatan batin diciptakan hanya dng pegangan tangan. Kadang2 penyensoran spt ini menurut saya agak berlebihan.

    • gravatar selviya hanna Reply
      February 12th, 2012

      Sepakat, Mbak Linda. Kalau kayak gitu, ya susah juga, hehe 🙂 Novel yang kuterjemahin tempo lalu ada yang kayak begituan juga. Kalau dibuang/diganti cium pipi/gandengan doang, pasti kurang ‘nendang’ hehe. Entah nanti digimanain sama editornyaa.

  2. gravatar Aini Reply
    February 13th, 2012

    Memang menyensor adegan yang terlalu visual itu benar-benar … menguras energi. Banyak banget pertimbangannya.

Leave a Reply

  • (not be published)