Membaca kutipan di atas di buku SOHO karya Imelda Akmal Architectural Writer Studio, saya jadi teringat beberapa hal terkait kebisingan dan ketenteraman selama bekerja di rumah. Pengutamaan privasi demi konsentrasi bekerja memang tantangan yang lumayan. Semasa kuliah, saya sengaja kos di rumah yang mayoritas berpenghuni mahasiswa kedokteran. Kesibukan membuat “keharusan” bersosialisasi menjadi jarang, ditambah lagi ketenangan untuk mengerjakan tugas dan belajar. Maksudnya, mereka nugas sampai malam, saya tidur enak:p

Membisingi Tetangga

Suatu waktu, kami pernah ditegur tetangga persis belakang rumah. Masnya sering bekerja larut malam, bahkan menjerang kopi dan mi pukul dua dinihari. Mereka terganggu dan bahkan takut mendengar suara-suara di jam yang tidak lazim, maklum lereng gunung ini sangat sepi sehingga bunyi apa pun mudah tembus ke mana-mana. Kami berusaha maklum. Saya upayakan ada nasi dan lauk sehingga keributan dapat diminimalkan saat Masnya lapar di tengah malam. Tidak setiap hari sih, tapi minimal dengan “komunikasi” (baca: insiden) tempo hari, tetangga tahu bahwa kami kerja di rumah dan menghasilkan bebunyian.  Seiring waktu, memang saya belajar menghadapi kenyataan bahwa hidup tidak bisa seperti Melvin Udall di As Good As It Gets:

Benar, adakalanya kami perlu egois dan “tega”. Namun saya tidak menampik, sangat mungkin tetangga terganggu bila kami nge-print pagi buta. Lain dengan tetangga di kantor yang malah senang karena itu berarti rumah sebelah tidak kosong. Haneuteun, kata orang Sunda.

Belum lagi jika saya nonton film thriller siang atau sore. Kalau lagi insaf, suaranya tidak saya keraskan amat karena khawatir tetangga sedang istirahat (dan ada anak kecilnya). Tapi kalau lagi suntuk (dan bebalnya kumat), saya pikir apa serunya nonton pelan-pelan? Terutama bila subtitle kurang bagus dan saya butuh mendengarkan dialog agar mengerti. Toh bukan malam hari ini. Kami juga gemar bekerja ditemani lagu-lagu rock atau lainnya yang belum tentu diselerai tetangga, ditimpali wayang dari rumah sebelah:))

Panggung gedumbrengan semalam suntuk, dangdut koplo, bunyi pesawat mini rakitan (entah apa namanya), pesawat dan heli yang seliweran sudah di luar kontrol kami. Paling-paling jika terberisiki dan kurang tidur, sumbu saya tambah pendek:p Tidak semuanya mengganggu, sih. Bila hajatan nanggap wayang golek atau degung, cukup menghibur. Malah jadi nyenyak tidur.

Tenggang Rasa Keluarga

Poin kedua di gambar teratas membuat saya sadar, keluarga atau sesama penghuni rumah bisa “terusik” oleh aktivitas kami yang tidak lazim. Sekat tidak selalu menjadi jalan keluar. Suatu tahun, saya pernah diajak ngobrol terus oleh sepupu siang-siang. Pikiran saya terarah terus pada tenggat, jadi saya ngabur mengurung diri di kamar (yang posisinya di pojok) dan mengetik di kasur walaupun tidak nyaman. Sepupu sampai bingung. Juga ketika saya baru punya laptop. Tiap siang sepulang sekolah, ponakan bungsu loncat ke kamar di samping saya dan bertanya, “Mana laptopku?” Bukan berarti harus dituruti terus, memang. Butuh waktu untuk mengharapkan pengertian dan kerja sama, utamanya dari anggota keluarga yang masih kecil. Saya hanya berusaha melihat dari kacamata lain, kacamata orang-orang yang tidak menekuni profesi ini.

Misalnya saat Mbakyu datang dari Jateng sana, melihat komputer menyala, “Kamu lagi sibuk ya?” Lalu ada saudara lain bertandang, sampai tidak mau menginap karena tidak enak, “Nanti Mas dan Mbak nggak bisa nyambi.”

Klien Bertamu ke Rumah

Kembali ke urusan ketenteraman tetangga, tinggal di perumahan memang riskan “gesekan”. Waktu baru menikah, kami minta izin Mamah untuk menerima klien di rumah. Beliau tidak keberatan, apalagi ruang tamu itu lebih banyak nganggurnya. Keputusan ini kami tinjau ulang saat numpang tinggal di rumah kakak 10 tahun silam. Sering bingung jika ditanya, “Itu tamu siapa? Kenal di mana?” Bagaimanapun ada urusan kerja yang perlu dirahasiakan (makanya repot juga kalau ketemu di luar, semacam kafe yang ramai dan ngobrolnya harus keras-keras). Alhamdulillah kami kenal baik dengan Pak RT yang juga bukan orang kantoran dan menjelaskan begini-begitu pada beliau. Tetap saja, saat ada klien Masnya (masih muda dan perempuan) perlu bertemu malam-malam, saya perkenankan datang ke rumah dengan syarat tidak berisik. Rumah dempet-dempetan, menimbulkan banyak pertanyaan. Klien ini datang bersama temannya sesama perempuan, karena ruangan Masnya waktu itu di lantai atas dan… pekerjaan baru rampung pukul satu pagi:D
Betapapun, saya tetap cinta ketenangan dan keheningan. Sungguh mencolok perbedaan hasil kerja yang dilakukan dalam suasana senyap dengan yang gaduh.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)