Penulis dan komikus: Kim Dong Hwa

Penerjemah: Meilia Kusumadewi

Editor: Tanti Lesmana

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2012

Tebal: 144 halaman

Harga: Rp 48.000,00

 

‘Bertemu lagi’ dengan karya Kim Dong Hwa, langsung disapa kalimat ini:

Menjadi penulis itu mirip dengan menjadi tukang pos.

Bukan rahasia lagi, seniman Korea – antara lain dalam film-film – piawai mengolah unsur sederhana dalam kehidupan menjadi karya yang cemerlang dan mengendap dalam hati penikmatnya. Demikian pula Kim Dong Hwa, penulis manhwa ini. Kini yang ia angkat adalah keseharian pengantar pos. Orang-orang yang terlupakan dalam gerusan zaman dan teknologi modern, tapi toh dibutuhkan di wilayah-wilayah pelosok yang tak terjangkau baik sinyal maupun jasa tertentu. Di sini, pengantar pos itu seorang pemuda yang tak pernah disebutkan namanya.

Saya sempat teringat iklan sebuah perusahaan rokok yang memang sukar dilupakan. Pengantar pos yang berpayah-payah mencari alamat, lalu melihat dalam hitungan menit, kartu yang disampaikannya dibuang lewat jendela mobil si penerima.

Dalam Sepeda Merah, sang pengantar pos hadir secara romantis dalam ikatan khusus dengan desa yang disusurinya, orang-orang yang dijumpainya. Di Yahwari, alamat dikenal dalam kode untaian kalimat indah. Bukan blok, nomor, dan semacamnya. Penghuni menamai rumah masing-masing, semisal “Rumah Paling Indah di bawah Langit Berbintang”. Membuat saya terpikir menamai kediaman sendiri. Rumah tempat lebah-lebah bernyanyi? Rumah tempat kelelawar pernah singgah? Rumah di balik semak beri hitam? Atau mungkin, Rumah tempat hati senantiasa tenteram.

Warga amat apresiatif terhadap jasa sang pengantar pos. Ada penyair yang meninggalkan puisi khusus sebagai ucapan terima kasih, wanita tua yang melambai dari balik gorden, dan banyak lagi yang mengajak sang pengantar surat berbincang-bincang. Bukan basa-basi belaka, melainkan dari hati ke hati. Mereka “memanusiakan” pengantar surat tersebut, sebagaimana tampak dalam obrolan di bawah ini:

Anda tidak merasa terlalu kesepian?

– Tidak apa. Memikirkan anak-anakku menyibukkan benakku.

… Aku bisa dengan mudahnya memikirkan mereka karena jiwaku merdeka di pegunungan.

– Sayang sekali istri Anda tidak ada lagi di dunia ini…

Aku tidak terlalu sering memikirkannya karena dia sudah pergi pada waktunya.

(Pagoda Batu, hal. 46-49)

Jalinan kasih sayang dalam keluarga, utamanya orangtua dan anak, menghangatkan hati saya. Bicara kaus kaki saja, contohnya, sudah mengharukan sekali.

Yang baru untuk si Sulung, dan yang paling bagus dikhususkan untuk si Bungsu. Pada akhirnya, selalu sang ayah yang memakai kaus kaki yang berlubang…

(hal. 57)

Banyak kisah pendek digelar di novel grafis berwarna anggun ini, masing-masing dalam empat halaman yang penuh pesona. Ada yang berkata, membaca kumpulan kisah tidak memuaskan karena baru sebentar sudah habis. Tapi adakalanya, yang sekelebat-sekelebat lebih mencuri hati ketimbang yang berpanjang lebar.

Di sini Kim Dong Hwa menunjukkan, romantisme bukan melulu milik pasangan kekasih. Betapa dalam cinta seorang nenek yang rela berjalan kaki mendekap keranjang bekal agar tetap hangat saat sampai di tangan cucunya. Ibu yang gembira menantikan surat dari anak-anaknya yang jauh. Belum lagi, kerinduan pengantar pos tatkala mendapati kotak surat kosong.

Kondektur kereta membawa tubuh dan tukang pos membawa hati… mereka mirip satu sama lain.

(hal. 109)

Skor: 5/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)