Penulis dan komikus: Kim Dong Hwa

Penerjemah: Meilia Kusumadewi

Editor: Tanti Lesmana

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2012

Tebal: 176 halaman

Harga: Rp 48.000,00

Seperti Trilogi Warna, dengan kampiunnya Kim Dong Hwa bercerita dengan bunga. Memanjakan pembaca dengan tampilan visual nan rapi, warna-warni kalem tak mencolok mata, dipadu dengan bahasa yang memikat. Tak salah judul tersebut dipilih, masih dengan tuturan sang pengantar pos, guna menggulirkan kisah-kisah di buku kedua ini.

Yang lebih dominan di sini adalah hari tuadan pernak-perniknya. Di dalamnya ada cinta, salah satu aspek yang kerap diusung bebungaan. Bukan antara sejoli muda seperti trilogi yang disebut di atas, melainkan pasangan-pasangan yang telah membuktikan kesejatian dan kekuatan cinta dalam arungan dan tempaan kehidupan. Tema yang relatif jarang disentuh buku genre romance sekalipun, seakan kasih sayang dan kemesraan semata milik mereka yang muda.

Cinta tidak selalu dapat diutarakan dengan verbal, bungalah medianya. Tentu dengan teknik tidak biasa, jika ingin menyirami cinta yang sudah berumur. Seperti perhatian seorang suami pada istrinya yang berulang tahun (Surat Cinta). Ada lagi suami yang mengatakan istrinya tetap perlu berias, setelah sekian lama menjadi ibu yang baik. Baginya, di hari tua pun sang istri masih terlihat cantik (Bunga-bunga Pacar Air).

Tak hanya itu, Kim Dong Hwa menaburkan dialog-dialog yang pekat mengandung kasih sayang orangtua terhadap anak. Beberapa di antaranya, ihwal ayah dan anak perempuan yang telah dewasa. Lazim memang, para orangtua di masa senja tetap di pedesaan yang tenang. Namun pikiran mereka masih cukup terang dan bijaksana untuk menyejukkan hati anak-anak di masa sulit.

Kali lain, cinta seorang penghuni desa pada tempat tinggal dan lingkungannya ditularkan. Menyadarkan saya pada hal-hal “kecil” yang berarti besar.

Jika aku masih mengincar tanah lainnya, tidak akan ada waktu lagi untuk mengagumi matahari terbenam. Aku baru sadar bahwa aku memiliki impian lain sejak menua. Yaitu duduk bersandar sambil memandang matahari dan menikmati kehangatannya tanpa memikirkan hal lain.

(Impian Masa Kecil, hal. 52)

Saya tersenyum geli menyimak nenek yang terperanjat mengetahui harga piza, tapi tidak mengeluh demi kegembiraan cucunya. Menurut nenek itu, satu piza setara dengan empat ratus ketimun. Seperti dia, saya masih gemar bernostalgia akan jauhnya lonjakan harga semasa kecil dan remaja dulu dibandingkan sekarang. Kalaupun ada barang yang lebih murah, kemampuan dan daya tahannya sudah berbeda.

Saya juga tahu persis perasaan sang pengantar pos ketika berkata, “Tak peduli apa pun yang mereka pikirkan, hatiku luruh bagaikan istana pasir.” Ingin tahu penyebabnya? Silakan simak Uang adalah Uang.

Tak kalah eloknya, kisah Pohon (hal. 140-143). Kim Dong Hwa mengetuk hati agar lebih banyak menoleh pada alam dan memperoleh banyak hikmah:

Daun-daunnya memang berat bobotnya, meski demikian tidak meringis ketika menyambut burung-burung yang tak memiliki tempat tujuan.

Kita mungkin mengira dia bodoh karena tidak pernah mengatakan apa-apa. Tetapi penampilan dapat menjebak.

Ternyata seri ini merupakan kompilasi karya Kim Dong Hwa yang dimuat di surat kabar, dan terdiri dari empat buku. Semoga dua buku berikutnya tak lama lagi terbit ^_^

Skor: 5/5

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)