Seperti yang saya sampaikan dalam survey Nad di FB-nya, salah satu alasan mempertahankan buku tertentu adalah karena bisa dibaca ulang. Tentu banyak hal yang menjadikan buku tersebut demikian istimewa. Karakternya yang tak terlupakan, genre yang relatif sulit diterima pasar (sebut saja: thriller), tema cerita yang tidak lekang masa. Dibaca sekarang, dulu, kesannya tak berubah.

Benarkah tak berubah sama sekali? Ada juga yang mengalami pergeseran. Biasanya buku-buku remaja. Ketika masih SMP, saya merasa buku itu lucu, saya banget, dan sebagainya, namun ternyata pertambahan usia mengubah cara pandang tersebut. Kerap kali ini saya temui pada buku lokal. Agaknya sama dengan membaca tulisan sendiri. Selang sekian waktu, ketika saya simak lagi, saya heran sendiri mengapa memilih diksi dan gaya tutur demikian, misalnya.

Di antara buku yang saya baca ulang dan tak kunjung jemu, berikut ini beberapa:

1. Sisi Lain Diriku – Sidney Sheldon. Memoar yang langsung saya beli begitu terbit. Meski banyak pengarang bagus dengan genre senada, bagi saya Mr. Sheldon tak tergantikan. Saya tengah berupaya mencari edisi Inggrisnya. Yang masih melekat di benak antara lain nasihat sang ayah ketika Sheldon muda hendak bunuh diri,

“Life is like a novel. Its filled with suspense. You have no idea what is going to happen until you turn the page.”

2. Para Priyayi – Umar Kayam. Tiap kali membaca, tiap kali juga jebol bendungan air mata saya. Bila hati sedang kusut dan merasa jadi orang paling malang di dunia, saya menoleh pada novel ini.

3. Tell Me Your Dreams – Sidney Sheldon. Novel inilah yang pertama kali memperkenalkan saya pada kepribadian ganda lalu mengantarkan saya pada buku-buku sejenis, seperti Sybil yang sadisnya tak ketulungan itu. Alhamdulillah berkat kegigihan Retno dan Halaman Moeka Books, saya memperoleh buku Inggrisnya ^_^

4. Pengakuan Si Gila Belanja – Sophie Kinsella. Mujur sekali saya karena kakak, yang membelinya lantaran penasaran akan booming chicklit, memindahtangankan pada saya. Buku ini membuat saya terbahak-bahak karena kekonyolan Becky, meski ada gemasnya juga. Saya terngiang terus akan tips menyiasati keuangan dalam cerita ini: Kurangi Belanja atau Tambah Penghasilan.

5. Can You Keep A Secret? – Sophie Kinsella. Jujur, ceritanya relatif biasa. Tapi pengolahan tema dan konflik yang biasa, dengan ending tidak mengejutkan itu kok ya bisa menggiring saya terus membaca, tertawa lagi, mengalirkan air mata lagi? Mungkin karena yang biasa itu mengingatkan saya pada kebodohan sendiri.

6. Seri Shinchan – Yoshito Usui. Saya sedih sekali ketika sang komikus berpulang, sampai-sampai buku terakhirnya saya baca pelan-pelan agar tak lekas tamat. Keponakan mana pun yang datang ke rumah, yang SD atau dewasa, tidak saya izinkan menjamah koleksi satu ini. Kecuali sambil dipelototi:))

7. Malory Towers dan St. Clare – Enid Blyton. Dua seri yang setali tiga uang, karakternya lain-lain, namun seperti bergandengan. Tiap kali saya membaca ulang Malory Towers, St. Clare ikut keluar dari lemari menuju kamar saya:)

8. Seri Kumbang – Enid Blyton. Nunik Utami salah satu saksi betapa saya masih menggemari buku anak-anak ini hingga sekarang. Berita terkuaknya perangai asli sang pengarang yang tidak sebijaksana karya-karyanya yang penuh pesan moral tidak mengurangi rasa suka saya. Sedikit pun.

9. Seri Adikku yang Nakal – Dorothy Edwards. Penuh kenangan yang terlalu berharga. Ketika si Adik merepotkan ayahnya yang bekerja di rumah minta ini-itu, saya bertanya-tanya apakah pernah membuat kesal almarhum Bapak semasa seumur dia:)

10. Seri Madita-Lisbeth – Astrid Lindgren. Saya tak pernah terbiasa dengan nama aslinya yang kini dipulihkan dalam cetakan baru.

11. Trilogi Blomkvist-Salander – Stieg Larsson. Ketika menonton kedua versi filmnya, saya membuka-buka buku ini juga:)

12. Secret Garden – Frances Hodgson Burnett. Rasanya tak perlu dijelaskan mengapa:)

13. Lontong Sayur dalam Lembaran Fashion dan lanjutannya – Syahmedi Dean. Satu sinyal terang bahwa metropop tidak selalu ‘remeh’ tanpa pembelajaran dan Syahmedi Dean adalah salah satu penulis yang sukses menggarap seri tanpa  memerosotkan kualitas cerita di pengujung buku.

Postingan ini terilhami artikel di Guardian itu.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Serunya Membaca Ulang ”

  1. gravatar mute Reply
    April 19th, 2012

    hwaaaa jadi pengen ngumpulin seri kumbang lagi ah, kangen bacanya…
    eh itu ‘Can you keep a secret?’ kayaknya chicklit pertama yg aku baca, bikin sempet berburu chicklit, tp ga nemu yg sekocak itu sih 😀

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      April 19th, 2012

      Aku lebih mudah tertawa membaca chicklit daripada membaca buku berlabel komedi.

Leave a Reply

  • (not be published)