Tanggal 1 Agustus waktu itu, Bapak berpulang ke rumah abadi karena kanker usus. Seperti film Jodie Foster, The Brave One, ada lubang dan kekosongan yang tak bisa diisi orang lain ketika seseorang yang sangat berarti pergi untuk selama-lamanya. Salah satu kutipan dialognya begini:

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”IMDb” quotestyle=”style01″] Detective Mercer: How did you… pull it back together after what happened to you?

Erica: You don’t

Detective Mercer: I’m sorry.

Erica: No, no.

Detective Mercer: Jacked-up question, man.

Erica: It’s a fair question. You… you become someone else. A stranger. [/sws_blockquote_endquote]

 

Ketiadaan Bapak buat saya adalah hilangnya “teman sejiwa”. Hanya Bapak yang bergolongan darah sama dengan saya, lahirnya pun sama-sama hari Sabtu sehingga banyak pula kemiripan karakter kami. Sampai yang nyeleneh-nyelenehnya, kata orang.

Mas Agus tentu saja jadi tempat cerita tersering ketika saya mengenang banyak hal. Kerasnya Bapak, arahan Bapak yang membuat saya mengenal diri sendiri, peran tidak kecil yang menjadikan saya sampai di tahap ini. Mas Agus berkomentar singkat saja, “Bapak yang mewariskan teknik mengasah naluri buat kamu. Kamu punya insting dalam banyak hal.”

Bacaan Mama beberapa hari setelah Bapak tiada

Benarkah? Mungkin. Pagi ini ketika Mas Agus hendak turun gunung menyabit rumput yang tumbuh tinggi di rumah seorang kerabat, saya ragu-ragu melihatnya membawa benda tajam itu. Maklum, kondisi serbarawan sekarang ini. Mas Agus menenangkan, kemudian saya bilang agar sekalian mampir ke rumah saudara jauh yang tinggal di dekat rumah tersebut. Kontradiktif yang bukan kebetulan, ya… ada “jauh” dan “dekat” di satu kalimat:D

Beberapa saat lalu Mas Agus menelepon saya, mengabarkan rumput sudah habis dibabat oleh… beliau yang saudara jauh itu. “Firasatmu benar,” katanya terkekeh-kekeh.

Bapak, tenteramlah di sana. Masih banyak orang baik yang menjaga kami. Menjaga saya.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Setelah Enam Tahun ”

  1. gravatar Nadiah Alwi Reply
    August 14th, 2013

    “you become someone else”

    I admit it, I kinda agree on that part. It changes who we are, how we see things.

    • gravatar Rini Nurul Reply
      August 15th, 2013

      It did, Nad, another turning point if I may say.

Leave a Reply

  • (not be published)