Hidup digelayuti rasa bersalah sama sekali tak punya arti. Kegelisahan itulah yang terus melanda Ben Thomas (Will Smith), seorang penagih di IRS.

Mendadak saja Ben memutuskan bepergian, mendatangi beberapa orang yang namanya tertulis dalam daftar khusus. Semua tidak beruntung, paling tidak di matanya. Ezra Turner (Woody Harrelson), salesman daging sapi via telepon yang tunanetra namun memiliki kesabaran baja menghadapi omelan pelanggan cerewet. Ada lagi pelatih olahraga yang ingin membuka lebih banyak kesempatan bagi anak berdarah Latin, menggalang beasiswa, tanpa mengindahkan kondisinya sendiri yang membutuhkan donor sumsum tulang belakang.

Tidak semua sebaik hati itu memang. Ada yang masih memohon perpanjangan untuk melunasi tunggakan pajak, namun “cacat” di mata Ben karena melalaikan tugas kemanusiaan yang diembannya.

Keputusan Ben berdiam di motel selama dua minggu cukup panjang dan ganjil bagi si pemilik motel. Ia menaruh ubur-ubur dalam akuarium di kamar, sering keluar dan menemui, salah satunya, Emily Posa (Rosario Dawson). Desainer kartu undangan ini harus istirahat total dari pekerjaan karena sakit jantung yang cukup berat.

Hidup mereka semua tidak mudah, namun optimisme mereka tidak pudar. Mereka tampak bahagia, tidak merasa paling sengsara. Ben masih gelisah, masih mengamati dari dekat. Ia menjauh dari adik satu-satunya yang terus cemas dan menghubungi sang kakak, hanya menaruh kepercayaan pada pengacara sekaligus sahabatnya, Dan.

Film ini dibuka dengan adegan Ben menelepon 911, melaporkan peristiwa bunuh diri dan meminta ambulans datang. Siapa pelakunya dan penyebabnyalah yang dikuak seperti kulit bawang dalam cerita, selapis demi selapis.

Familier dengan paras menderita Will Smith di sini? Saya teringat Pursuit of Happyness, namun Seven Pounds jauh lebih menyentuh dan lebih bagus. Di sini juga pertama kalinya saya mendengar Will Smith berbahasa Spanyol.

Salah satu pesannya: jangan menggunakan ponsel sewaktu mengemudi. Akibatnya sangat fatal, banyak nyawa melayang sia-sia.

[rating=5]


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

NEXT ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)