Judul: Si Cantik dari Notre Dame

Penulis: Victor Hugo

Penerjemah: Sunaryono Basuki KS

Penerbit: Serambi

Tebal: 570 halaman

 

 

Sumber gambar

Sumber cover

 

Mengapa judulnya Si Cantik dari Notre Dame? Meskipun Quasimodo, si bungkuk yang tuli dikarenakan membunyikan lonceng gereja

secara terus-menerus, adalah karakter yang cukup unik, sesungguhnya pusaran cerita bertolak pada seorang gadis gipsi

bernama Esmeralda. Sosok yang jelita dan dalam setiap atraksinya menampilkan kambing bertanduk emas, Djali, sehingga kemudian

malah dituduh penyihir.

 

Paras menawan Esmeralda membuatnya diperebutkan banyak pria, salah satunya Claude Frollo. Ia seorang pendeta, tetapi tidak

mampu memerangi nafsunya. Bahkan hasrat terhadap Esmeralda mendorong Frollo menyusun berbagai siasat, termasuk menggiring

gadis itu ke bibir maut. Kontras dengan pemuka agama satu ini, Quasimodo justru menaruh hati kepada Esmeralda dengan cara

yang santun dan memberikan perlindungan.

 

Bagaimana dengan Esmeralda sendiri? Ia terpikat pada seorang perwira bernama Phoebus, yang naasnya telah terikat kepada

perempuan lain. Bagian ini membuat saya teringat novel klasik Prancis lain, La Dame de Camelia karya Alexandre Dumas.

Cinta senantiasa dibaurkan dengan problem sosial dan martabat. Seperti halnya Dumas, Hugo menyindir masyarakat yang

begitu gila hormat dan konservatif pada masa itu sehingga tega melontarkan praduga negatif kepada Esmeralda.

 

Aliran romantisme yang dianut Victor Hugo amat kental dalam novel ini dibandingkan buah penanya yang tidak kalah tersohor,

Les Miserables. Secara umum, membaca Si Cantik dari Notre Dame menggiring memori saya pada film buatan negeri parfum ini

yang berjudul Babine. Sosok Quasimodo yang dekat dengan gereja namun dipandang sebelah mata, adanya syak wasangka akan

penyihir, dan aroma ketamakan penguasa agaknya menjadi bahan dasar yang acap digunakan oleh para seniman Prancis.

 

Menariknya, Victor Hugo sempat terlunta-lunta mengejar tenggat ketika menggarap novel ini. Guna menyelesaikannya,

ia menghabiskan enam bulan dan tidak bepergian ke mana pun kecuali ke gereja. Si Cantik dari Notre Dame, yang banyak

dialihbahasakan dan ditampilkan dalam aneka format termasuk pertunjukan balet, akan lebih nyaman dinikmati apabila

mencantumkan daftar karakter di bagian muka. Dua jempol untuk penerjemahan yang amat larut. Pendek kata, jika Anda menyukai

kisah roman melankolis, seperti novel Bonjour Tristesse-nya Francoise Sagan, buku ini laik dibawa pulang.

Judul: Si Cantik dari Notre Dame Penulis: Victor Hugo Penerjemah: Sunaryono Basuki KS Penerbit: Serambi Tebal: 570 halaman     Sumber cover   Mengapa judulnya Si Cantik dari Notre Dame? Meskipun Quasimodo, si bungkuk yang tuli dikarenakan membunyikan lonceng gereja secara terus-menerus, adalah karakter yang cukup unik, sesungguhnya pusaran cerita bertolak pada seorang gadis gipsi bernama Esmeralda. Sosok yang jelita dan dalam setiap atraksinya menampilkan kambing bertanduk emas, Djali, sehingga kemudian malah dituduh penyihir.   Paras menawan Esmeralda membuatnya diperebutkan banyak pria, salah satunya Claude Frollo. Ia seorang pendeta, tetapi tidak mampu memerangi nafsunya. Bahkan hasrat terhadap Esmeralda mendorong Frollo menyusun berbagai siasat, termasuk menggiring gadis itu ke bibir maut. Kontras dengan pemuka agama satu ini, Quasimodo justru menaruh hati kepada Esmeralda dengan cara yang santun dan memberikan perlindungan.   Bagaimana dengan Esmeralda sendiri? Ia terpikat pada seorang perwira bernama Phoebus, yang naasnya telah terikat kepada perempuan lain. Bagian ini membuat saya teringat novel klasik Prancis lain, La Dame de Camelia karya Alexandre Dumas. Cinta senantiasa dibaurkan dengan problem sosial dan martabat. Seperti halnya Dumas, Hugo menyindir masyarakat yang begitu gila hormat dan konservatif pada masa itu sehingga tega melontarkan praduga negatif kepada Esmeralda.   Aliran romantisme yang dianut Victor Hugo amat kental dalam novel ini dibandingkan buah penanya yang tidak kalah tersohor, Les Miserables. Secara umum, membaca Si Cantik dari Notre Dame menggiring memori saya pada film buatan negeri parfum ini yang berjudul Babine. Sosok Quasimodo yang dekat dengan gereja namun dipandang sebelah mata, adanya syak wasangka akan penyihir, dan aroma ketamakan penguasa agaknya menjadi bahan dasar yang acap digunakan oleh para seniman Prancis.   Menariknya, Victor Hugo sempat terlunta-lunta mengejar tenggat ketika menggarap novel ini. Guna menyelesaikannya, ia menghabiskan enam bulan dan tidak bepergian ke mana pun kecuali ke gereja. Si Cantik dari Notre Dame, yang banyak dialihbahasakan dan ditampilkan dalam aneka format termasuk pertunjukan balet, akan lebih nyaman dinikmati apabila mencantumkan daftar karakter di bagian muka. Dua jempol untuk penerjemahan yang amat larut. Pendek kata, jika Anda menyukai kisah roman melankolis, seperti novel Bonjour Tristesse-nya Francoise Sagan, buku ini laik dibawa pulang.

Kesan Rinurbad

Total - 7.8

7.8

User Rating: Be the first one !
8

Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)