Negara Belanda yang seluas provinsi Lampung dan berpenduduk sebanyak Jabotabek saja punya berjenis-jenis kamus bahasa Belanda untuk penuturnya sendiri.

Pernyataan Ikhlasul Amal dalam postingan beliau enam tahun silam itu saya yakini masih relevan guna menggambarkan betapa perlunya rujukan yang bernama KBBI. Karena sudah menulis postingan menyoal hal tersebut, saya tidak akan mengulang atau mengungkit.

Sekadar menambahkan, ada keengganan menggunakan KBBI sebagai salah satu (harap dicatat, salah satu tapi termasuk yang penting) dikarenakan dugaan kaku. Mungkin KBBI dikira semacam kitab undang-undang, pakemnya tidak boleh diutak-atik, padahal sudah jelas secara berkala ada kongres dan pembahasan yang membuahkan edisi (revisi) berikutnya. Saya sendiri tidak paham benar ihwal konvensi anggota tim penyusun, selain hipotesis sebagaimana temuan uraian di sana dan pemaparan di situ.

Untuk memuliakan Bahasa Indonesia di tanah sendiri, seperti tulisan Eddy Roesdiono, salah satu cara praktis yang bisa dilakukan adalah dengan cara bersahabat dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Sumber kutipan

Dulu, saya termasuk yang tidak acuh (atau tidak peduli, barangkali) terhadap KBBI. Setelah ditilik-tilik, alasan sesungguhnya adalah malas. Padahal membolak-balik KBBI adalah rantai proses kreatif yang jauh dari menjemukan.

Sebut saja di halaman 663, saya jadi tahu bahwa ‘kemenyan’ juga berarti ‘ikan hiu’. Dengan membuka halaman yang sama, terkuak pula lema-lema lain:

ke·men·tam, ber·ke·men·tam v berbunyi berdentam

Bahasa Indonesia, khususnya yang terekam dalam KBBI, acap disangka ‘miskin’ dan abai terhadap kosakata bahasa daerah. Namun sesuai yang saya baca di sini, justru saya memperoleh pengetahuan tak berkesudahan (saya sebut demikian karena belum membaca dari halaman pertama sampai pamungkas) dari kamus tersebut. Katakanlah salah satunya, saya baru tahu bahwa ‘kemit’ yang saya akrabi dalam bahasa Sunda juga sudah tercatat di KBBI.

ke·mit n penjaga malam

Masih kurang? Ini contoh-contoh lainnya yang menurut saya tak kalah menarik:

me·lan·tam·kan v 1 mengatakan (menyerukan) dng suara keras (kuat); 2 menggembar-gemborkan; mengabar-ngabarkan

gi·ris Jw a ketakutan; ngeri

na·la Mk v, ber·na·la-na·la v berpikir-pikir; menimbang-nimbang

Jadi apakah KBBI mengekang dan memasung kreativitas bahasa? Menurut saya tidak. Bila tidak direkam dalam himpunan tertulis sedemikian rupa, entah harus ke mana menoleh dan bertanya. Karena itu, kenalilah KBBI. Apa gerangan salahnya sampai ia dimusuhi?


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.