Jujur, belum pernah saya menyukai buku sampai sangat ingin bertemu penulisnya (khususnya yang saya ikut tangani) serta mengetahui komentar berbagai pihak mengenainya. Saya juga tidak ingat kapan terakhir kali datang ke bedah buku.

Sewaktu menghadiri bedah buku Playing ‘God’ di Auditorium Fakultas Kedokteran Unpad Jl. Eyckman kemarin, suasana yang terbangun sudah terasa berbeda. Dikelilingi para dokter, dosen kedokteran dan mahasiswa, salah satunya. Juga iringan gamelan Sunda yang membuat nyaman ketika memasuki auditorium. Saya tidak menyangka konsepnya mirip ‘sidang terbuka’, demikian sebutan sang moderator ditimpali Abah Iwan (Iwan Abdurrahman) di ruangan tenang itu ketika para narasumber mulai diperkenalkan.

Antusiasme hadirin sangat menarik perhatian saya. Memang ini zaman teknologi, saya pribadi sempat nge-twit dan ber-FB sepanjang acara sekadar laporan sekilas, ditambah kekhawatiran lupa beberapa hal mengesankan dalam acara tersebut. Di antaranya kelakar Pak Rektor, (kalau tidak salah) FK sebaiknya berubah nama menjadi FMT (Fakultas Menghindari Takdir). Beliau menyoroti cerita Euthanasikon dan memaparkan komentar bahwa berusaha maksimal adalah kewajiban.

dari twitter Mbak Esti

Tak kalah impresif, uraian Prof. Deddy Mulyana. Dekan Fikom Unpad yang mengaku tidak memahami sastra namun tahu sedikit-sedikit ihwal perkalimatan ini menyampaikan kritik. Menurut beliau, “Penyunting saja ya yang mengerjakan, kalau Prof. Rully kan sibuk.” Beberapa contoh menyangkut subjek-predikat dan hiperkorek membuat saya tertawa sambil memberi isyarat dari kejauhan kepada Mbak Esti yang duduk cukup jauh (silakan Anda bayangkan sendiri). Toh, Prof. Deddy menyatakan Playing ‘God’ buku yang bermanfaat, inspiratif, dan mellow. Sungguh, ini kritik yang jauh dari menyinggung apalagi membuat sakit hati:)

Kisah-kisah nyata dalam buku Prof. Rully Roesli ini rupanya banyak mengendap dalam hati pembaca. Seperti kata Abah Iwan yang membaca bolak-balik dalam semalam, mengenang kebimbangan memutuskan siapa yang berhak meneruskan pengobatan gratis, keberanian sang penulis terkait white lie (saya lupa narasumber mana lagi yang membahas ini), dan pesan mendiang ibunda beliau, “Jadilah dokter yang baik. Yang lain akan datang sendiri.”

Di pengujung acara, yang ditutup dengan bagi-bagi buku untuk semua undangan, mereka yang belum  membaca dipersilakan memberi komentar atau sekadar pertanyaan. Ketika ditanya perihal akhir cerita, Prof. Rully Roesli menjawab, “Buku ini berakhir dengan husnul khotimah.”

Cetakan ke-2:)

Perjumpaan yang menyentuh, tak terlupakan, dan membuat saya (dan Mas Agus) geli bercampur haru karena ternyata beliau suka membaca ‘kelakuan kami’ di FB. Bahkan sang dokter berkomentar kala hendak membubuhkan tanda tangan, “Buat Rinurbad, kan itu namanya di FB.”

Terima kasih banyak Mizan, Mbak Sari, Mbak Tutuk, Mbak Esti, Prof. Rully dan Ibu, sungguh menyenangkan:)

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ ‘Sidang Terbuka’ Playing ‘God’ ”

  1. gravatar nita Reply
    March 14th, 2012

    wah bagi2 tanda-tangan bareng penulisnyaa *liat poto pertama*
    selamat ya Rin, udah ikut membidani buku yg pastinya bagus n bermanfaat ini 🙂

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      March 15th, 2012

      Itu barter tanda tangan sama penulisnya aja kok, Mbak Nita. Yang selebritas kan Profesor, bukan saya, hihihi…
      Aamiin, terima kasih, Mbak:)

Leave a Reply

  • (not be published)