Penulis: Wahyu Aditya

Cetakan: Pertama, Januari 2013

Penyunting: Nurjannah Intan

Pemeriksa aksara: Intan Ren & Intari Dyah

Tebal: xvii + 302 halaman

Penerbit: Bentang

Harga: Rp59.000,00

 

Ini bukan ulasan, lebih banyak curhatnya. Saya sudah lama mendengar nama Waditya, demikian nama populernya, di sejumlah majalah berbau teknologi dan desain. Sekali waktu melihatnya menjadi narasumber suatu acara talkshow di televisi swasta, saya belum tahu dia menulis buku yang dilabeli genre Kemampuan Kreatif ini.

Secara menyeluruh, Waditya menunjukkan bahwa bersemangat tidak perlu dengan teriak-teriak. Memberikan aliran aura positif dan provokasi yang juga positif bisa dilakukan dengan contoh tindakan. Isi buku ini simpel, namun seru dan semarak.

Yang paling membekas dalam hati saya adalah proses tugas akhirnya semasa menyelesaikan kuliah. Karena tidak menetapkan target kelewat muluk, menggunakan bahan yang ada dan sederhana (diistilahkan penulis: merangkul keterbatasan), tugasnya selesai tepat waktu. Di sana terkandung pesan agar menentukan target yang realistis, atau seperti kata Chris Pine dalam film People Like Us, “One mess at a time.”

Sedari mula penulis menegaskan bahwa kreatif bukan hak prerogatif seniman dan siapa pun yang menceburkan diri di bidang itu. Saya sependapat, karena seni bukan melulu gambar dan keberbahasaan. Bertukang misalnya, membutuhkan keterampilan seni dan kadang-kadang mood juga. Saya teringat obrolan dengan beberapa tukang yang sudah kampiun. Menurut mereka, celotehan pemilik rumah (atau pemilik modal) yang mengatur berlebihan dan kadang tidak masuk akal bisa mengganggu suasana hati serta kinerja mereka.

Tentu tidak hanya itu. Kisah panjang Waditya menjadi kreator klip Padi yang berupa animasi sangat menarik dan perlu dibaca banyak orang. Prosesnya jauh dari instan. Secara terang, penulis menunjukkan contoh sangat baik. Bukan berarti begitu kenal atau merasa “akrab” (seperti yang banyak terlihat di jesos belakangan ini) lalu boleh nyelonong menawarkan diri. Ada pendekatan, ada “pemanasan”, harus ada kesabaran untuk menunggu “timing” yang tepat.

Ketika tercapai pun kesepakatan itu, belum final. Ibarat lulus UMPTN (sebutan zaman saya dulu untuk SMBPTN sekarang ini), perjuangan belum selesai sampai “plonco” sejati yakni skripsi. Dalam kurun waktu yang tidak sebentar, Waditya disemangati oleh personel Padi yang bersahaja dan ramah. Ditunggui membuat klip sembari diiringi lagu oleh sang vokalis pasti pengalaman yang sangat tak terlupakanJ

Bermunculannya situs dan ide DIY dewasa ini mengamini pendapat Waditya bahwa kreatif sebenarnya tidak rumit. Menyitir tagline suatu iklan, less is more. Saya jadi ingat tindakan-tindakan kreatif (bisa juga disebut inovatif) beberapa orang di sekitar. Antara lain menggunakan obat luar untuk otot nyeri sebagai pembalur perut sewaktu masuk angin. Kesannya melenceng tapi toh, yang dicari efek panasnya. Memanfaatkan fitur Text di kamera digital sewaktu tidak punya scanner juga termasuk. Terkesan sepele, namun ada gunanya. Atau seperti gadis cilik yang bangga pada karyanya sendiri ini.

Paparan Waditya terasa kian akrab sewaktu membahas asah imajinasi dengan memandangi bentuk awan seperti kanak-kanak. Itu hobi saya sampai sekarang.

Kenyataannya, untuk menemukan suatu jawaban memang tidak secepat membuat sebuah pertanyaan. (hal. 79)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati! ”

    • gravatar Rini Nurul Reply
      May 23rd, 2013

      Iya, Dit, itu juga. Sudah lama ngincar buku Susan Cain, masih harus bersabar:D

Leave a Reply

  • (not be published)