Mari memerankan penulis lagi, mungkin begitu kata Ethan Hawke pada penonton.

Penulis seperti apa? Ellison Oswalt pernah mengenyam kesuksesan sepuluh tahun silam dengan buku nonfiksi kriminal, Kentucky Blood, kendati dikemukakannya bahwa tujuan utama adalah mencari keadilan. Kembali Ellison ingin mengangkat satu misteri, teka-teki pembunuhan satu keluarga yang mengenaskan, untuk dibukukan. Diboyongnya seluruh keluarga ke rumah baru. Buku tersebut menjadi tumpuan ekonomi karena Ellison nyaris bangkrut.

Yang tidak diketahui sang istri, Tracy, bahwa rumah tersebut adalah TKP. Dulu dihuni keluarga yang tewas secara tragis, digantung di pohon di halaman belakang sedangkan satu anak mereka hilang sampai kini. Upaya menyembunyikannya membuat Ellison stres. Semula ia tidak yakin kejahatan yang diselidikinya, antara lain berbekal sejumlah rekaman sadis, bukan tindak kriminal biasa.

Namun muncul tanda-tanda aneh. Putra sulungnya, Trevor, yang mengalami night terror semakin parah. Tracy curiga, sedangkan putri bungsu mereka masih menaruh harapan akan pulang sesuai janji sang ayah jika ternyata rumah baru ini tidak menyenangkan.

Jujur, menonton Sinister “melanggar” upaya saya untuk belajar berani, nonton horor di malam hari. Kendati lagi-lagi Ethan Hawke memerankan penulis, di sini ada beberapa hal yang menarik untuk diamati. Contohnya, Ellison sadar menulis nonfiksi yang dicintainya menimbulkan risiko dan tidak menghasilkan uang secara tetap, dibandingkan mengedit buku teks dan mengajar seperti dulu. Demi kenyamanan dan ketenteraman jiwa anak-anak, mereka dilarang memasuki ruang kantor sang ayah.

Namun untuk ukuran keluarga yang bermasalah secara finansial, rumah baru tersebut sangat lapang dan bagus. Memang saya masih memakai kacamata Indonesia.

Setelah berkomunikasi dengan seorang deputi, Ellison menyadari bahwa kejahatan yang diselidikinya berupa pembunuhan berantai. Haruskah ia mengabaikan rasa penasaran menyelesaikan buku baru ini dan mendengarkan istri serta anak-anaknya?

Sinister salah satu film horor yang tidak membosankan, tidak begitu-begitu lagi endingnya, rasa merinding dan ngeri akan beberapa kejutannya cukup sepadan.

[rating=4]


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

4 Responses to “ Sinister (2012) ”

  1. gravatar Nita Reply
    February 24th, 2013

    saya nonton ini sendirian malam-malam. Lumayan susah tidur, hehe.

    Di Before Sunset Ethan juga kebagian peran jadi penulis ya (dan nulis scriptnya).
    Novelnya–The Hottest State–difilmkan dan dia jadi scriptwriternya juga :))

    • gravatar Rini Nurul Reply
      February 25th, 2013

      Wah, ternyata Mbak Nita terdepan dalam perhororan:)) *plok plok plok*
      Itu saya belum nonton Mbak, sengaja nunggu DVD-nya agak lama biar teksnya bagus. Malas mikir.
      Terima kasih infonya:)

  2. gravatar OctaNH Reply
    December 25th, 2013

    Ah, iya. Tentang ending. Setelah saya inget-inget lagi, ending-nya emang rada gak mainstream. Bikin stress…. >.<"

    Adegan yang difilmin dan jadi found-footage itu yang bikin ngeri menurut saya. Mana gambarnya burem. Mana gak keliatan semua kejadiannya diframe. T_____T

    • gravatar Rini Nurul Reply
      December 26th, 2013

      Menurutku ini salah satu film terbaik Ethan Hawke, Mbak:)

Leave a Reply

  • (not be published)