Pernah ada yang berkata, “Punya akun yang berjejaring itu seperti hidup bermasyarakat dengan tetangga yang erat dan saling memperhatikan. Sedangkan punya situs atau blog dengan domain berbayar itu seperti punya rumah gedung mewah yang mencuat eksklusif.”

Saya tersenyum saja, tak ingin menanggapi meski jelas-jelas pernyataan itu ditujukan pada saya, sekitar dua tahun ke belakang. Satu-satunya orang yang berhak mengomentari keputusan saya, terkait pengeluaran baik dengan penghasilannya atau hasil keringat saya sendiri, hanya Mas Agus. Dan dia sangat mendukung cita-cita saya memiliki web sendiri ini. Itu yang penting.

Saya tak hendak mengulang-ngulang pernyataan atau pendapat umum bahwa domain berbayar atau blog gratisan sekadar pilihan. Preferensi. Semua orang punya alasan. Saya tak ingin memengaruhi siapa pun yang sudah nyaman di blog cuma-cuma ke yang berbayar. Namun perkara analogi “tempat tinggal”, rasa memiliki lebih kental setelah saya mempunyai web pribadi ini. Situs dengan nama sendiri yang saya pilih, dan kalau boleh menginformasikan sedikit, sudah jadi impian semenjak saya bekerja di perusahaan IT 11 tahun lampau.

Terus terang, saya senang “hubungan anonimitas”. Artinya, blogwalking ke mana saja, tidak wajib membubuhkan komentar, tidak wajib pula bertukar link, tidak ada “beban” mengunjungi kembali atau bertandang rutin. Insya Allah jika konten menarik dan waktunya ada, saya menyempatkan mampir. Tidak selalu berdasarkan link postingan yang muncul di media sosial, kadang dari hasil googling atau memang berlangganan via e-mail. Bukan berarti saya tidak suka media sosial dan tidak butuh sama sekali. Adakalanya saya lebih suka membaca buah pikiran seseorang yang saya follow atau jadi kontak FB di blognya. Bahkan postingan lama sekalipun bisa saya baca berulang-ulang.

Kembali ke rasa memiliki dan “beban” tadi, memang di web inilah, saya terus terang, merasa punya keleluasaan. Menyunting komentar masuk yang dirasa tidak menyamankan, memilah spam, memutuskan mana yang perlu di-approve dan tidak, kapan membalas dan menjawab, tanpa perlu mengumumkan atau merasa bersalah karenanya. Itu hak lazim di dunia maya yang saya yakini, sangat dihargai dan dimengerti para blogger yang bijak dan dewasa. Menyitir perkataan adik saya, di rumah sungguhan sekalipun, tuan rumah berhak “menyeleksi” tamu.

Masih menyambung perkataan di alinea pertama postingan ini, ada juga yang menilai tulisan-tulisan saya makin terasa “resmi” di web pribadi. Saya anggap itu pujian, dan rasanya itu sudah gaya saya sedari dulu.

Terima kasih atas perhatiannya.

 

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Situs Pribadi yang “Resmi” ”

  1. gravatar Desak Pusparini Reply
    June 30th, 2012

    Senang sekali baca artikel ini, karena saya juga punya “rumah resmi” di http://dnpusparini.com/:-)
    Saya juga punya blog satu lagi, masih gratisan sih, menghidupkan akun WP yang sudah lamaaaa banget terabaikan. Ternyata ngutak-ngatik WP itu asyik ya, Mbak 😀

    • gravatar Rini Nurul Reply
      July 1st, 2012

      Iya, Mbak Desak. Gratisan atau berbayar sama-sama menambah ilmu:)

Leave a Reply

  • (not be published)