Kepanjangan SPK ini berlainan. Ada penerbit yang menyebutnya Surat Perintah Kerja, di tempat lain Surat Perjanjian Kerja. Ada juga yang menggunakan istilah Surat Perjanjian Penerjemahan.

Tidak semua penerbit memberikan dokumen kesepakatan tertulis seperti ini, yang sebenarnya bisa dipandang dari kacamata positif. Pertama, mereka percaya penuh kepada freelancer-nya yang bahkan belum pernah bertemu muka sekalipun, seperti pengalaman saya dengan sebuah penerbit besar yang hanya berkomunikasi lewat email. Itu pun pendek-pendek saja. Kedua, memudahkan secara prosedural, sebab menunggu surat dikirim ke rumah, membaca pasal demi pasal, menandatangani di atas materai dan mengirimkan kembali bagaimanapun membutuhkan waktu.

Ada SPK yang ringkas, hanya satu halaman, ada yang detail. Contoh SPK yang ringkas, tercantum poin-poin berikut:

  1. Nomor surat
  2. Tanggal
  3. Order dari: *nama penerbit*
  4. Penanggung jawab
  5. Nama freelancer
  6. Judul buku
  7. Jenis order (penerjemahan, penyuntingan, layout, atau proofread )
  8. Judul buku
  9. Biaya
  10. Ketentuan (spasi, jenis huruf, margin)
  11. Ada juga yang mencantumkan kualitas penyelesaian: well edited
  12. Deadline
  13. Cara pembayaran dan nomor rekening
  14. Tanda tangan

Berikut contoh isi SPK yang rinci/panjang, menyerupai kontrak resmi yang mungkin familier bila Anda pernah menulis buku. Beberapa pasalnya antara lain:

Tugas dan tanggung jawab

Di sini tercantum, di antaranya, bahwa hasil terjemahan sudah diketik dan diedit rapi.

Honor dan cara pembayaran

Menyangkut nilai kompensasi, pajak, dan waktu pembayaran

Jangka waktu penyerahan

Deadline dan denda (kalau ada)

Salah satu pasal menyebutkan, meski kebanyakan penerjemah sudah tahu, bahwa penerjemah tidak memegang hak cipta hasil terjemahan buku tersebut dan tidak memperoleh royalti karenanya. Ada pula penerbit yang menegaskan dalam pasal SPK-nya bahwa hasil terjemahan tidak boleh diserahkan kepada pihak lain dan tidak boleh disubkontrakkan.

Suatu waktu, saya pernah memperoleh SPK yang mengandung pasal ini:

Jika setelah melalui proses perbaikan, naskah tersebut belum memenuhi taraf mutu yang diharapkan, maka Pemilik Naskah berhak untuk tidak memakai hasil terjemahan tersebut dan Penerjemah tidak berhak menerima pembayaran yang telah disepakati.

Kebijakan mengenai penyerahan SPK ini berbeda-beda. Ada yang sedari awal memberikan dalam bentuk softcopy, ada yang hardcopy dulu dan harus dikembalikan melalui pos/kurir pula, namun ada juga yang mengirimkan hardcopy namun saya boleh mengembalikan yang bertanda tangan via email. Dengan begitu, bila SPK-nya rinci sekali, saya tinggal menandatangani halaman terakhir dan mengirimkan hasil scan-nya.

Bentuknya kira-kira seperti itu.

Catatan penting: selalu konfirmasikan penerimaan SPK yang sudah ditandatangani kepada editor, agar pembayaran tepat waktu. Bila kita terlambat mengirimkan kembali berkas itu, terlambat pula pengajuannya ke bagian keuangan.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

8 Responses to “ SPK Penerjemahan Buku ”

  1. gravatar esti Reply
    May 26th, 2011

    Betul,
    selalulah konfirmasi pada editor, apalagi editor pelupa seperti saya hehehe…

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      May 26th, 2011

      Pelupa tapi mudah dihubungi sih, tak apa, Mbak Esti:D

  2. gravatar Mery Riansyah Reply
    May 30th, 2011

    terima kasih infonya Teteh 🙂

    oh iya SPK itu ada yang berbentuk PDF kan yah Teh?
    jujur saja, aku lebih suka SPK yang bentuknya kertas, jadi tidak repot untuk menandatanganinya hehehe.
    Maklum gaptek -.-

    jadi kalau dapat yang PDF, pasti aku print dulu. 🙁

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      May 30th, 2011

      Sama-sama:) Iya Mo, ada. Kalau penerbit bersangkutan menggunakan jasa kurir yang menurut pengalamanku sering tidak sampai atau lama sampainya ke rumahku, aku minta PDF saja. Kuprint, tanda tangan, scan lagi, dan emailkan kembali.
      Repot memang, tapi lebih murah dan lebih cepat daripada ke kantor pos yang jauh sekali dari rumahku:)

      • gravatar Mery Reply
        May 30th, 2011

        oh iya ada scanner ;D
        lupa kalo bisa discan huehehe.

        • gravatar admin rinurbad.com Reply
          May 31st, 2011

          Hihihi…aku nyimpen tanda tangan digital juga Mo, praktis:D

  3. gravatar Ridha Harwan Reply
    January 3rd, 2013

    Kebetulan lagi nyari surat tentang ini, lagi mau belajar nerjemahin buku dan sedang membuat dan mencari rancangan surat kontraknya.
    terima kasih banyak

    • gravatar Rini Nurul Reply
      January 3rd, 2013

      Sama-sama:)

Leave a Reply

  • (not be published)