Sumber poster

Bila mengaku fans Stephen King, mungkin saya dianggap tidak sah karena baru membaca beberapa bukunya dan adakalanya, lebih mendahulukan nonton filmnya seperti sekarang ini. Jujur, saya belum pernah mengecek sinopsis buku tersebut sehingga baru tahu bahwa tokoh utamanya seorang penulis. Pierce Brosnan memerankan penulis? Wah, makin banyaklah alasan untuk nonton.

Ini bukan kali pertama SK mengangkat penulis sebagai karakter sentral, selain Secret Window, Misery, The Dark Half dan Lisey’s Story. Tentu saja saya terpukau pada gambar-gambar yang muncul: ruang kerja penuh buku, rumah kayu di tepi danau, tak lupa alur jauh dari membosankan sejak istri sekaligus penyemangat Michael Noonan, sang pengarang, tewas ketika suaminya tengah menandatangani buku baru.

Seperti kebanyakan film yang diangkat dari buku SK, Bag of Bones terkesan seperti miniseri yang disingkat. Ternyata memang berupa miniseri TV, jeda sebentar-sebentar di versi layar lebar menurut saya memberi kesempatan penonton menghela napas. Suasana bertambah tegang karena kemarin angin kencang sekali, layar goyang-goyang dan tidak langsung tuntas menonton lantaran mati lampu berkali-kali.

Walau amat berduka, hidup harus terus berjalan. Mike dituntut tanggung jawab menulis novel baru oleh penerbitnya, yang ketar-ketir karena bermunculannya karya-karya baru pengarang genre sejenis seperti James Patterson dan John Grisham. Di sini saya mendapat istilah baru, summer authors dan trunk books. Saya belum sempat riset istilah kedua, namun kira-kira berarti naskah lama seorang pengarang jauh sebelum ia terkenal dan semua tidak diniatkan untuk diterbitkan.

Maka Mike pergi ke suatu tempat yang belakangan kerap muncul dalam mimpinya, rumah yang diwariskan sang kakek kepadanya dan Jo, istri Mike. Lokasinya di Dark Lake, kota kecil yang mempertemukan Mike dengan orang-orang baru sekaligus misteri yang rumit sepanjang proses revisi naskah.

Sebaiknya saya pungkas sampai di sini agar rasa penasaran Anda tidak terkontaminasi. Kalau boleh memberi gambaran, beberapa elemennya mengingatkan pada Shutter dan Stir of Echoes, semacam formula ‘abadi’ film horor. Seram sih pasti, namun jika Anda menyukai horor dan khususnya karya-karya SK, tentu sudah familier dengan itu. Secara keseluruhan, idenya brilian. Dialog (skenario, tepatnya) bisa membawa napas SK yang suka nyeleneh dalam tata bahasa dan menciptakan kata baru yang aneh-aneh.

Saya paling suka adegan Mike Noonan menghadapi pengacara Max Devore terkait kesaksian melihat si kecil Kyra di jalan raya. Ketika didesak untuk memberi pernyataan bahwa ibu Kyra lalai dan anaknya bisa saja tertabrak pengemudi lain, ia menjawab, “Sorry, I left my crystal ball at home. I can’t say.”

Film horor yang memuaskan, sampai hampir tiga perempat film belum tertebak arahnya. Saya suka idenya.

Skor: 4,5/5

 

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

NEXT ARTICLE

4 Responses to “ Stephen King’s Bag of Bones (2011) ”

  1. gravatar Nurchasanah Reply
    January 29th, 2012

    jadi pengen nonton jg 🙂 makasih reviewnya mbak rin. 🙂

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      January 29th, 2012

      Sama-sama, Nur. Suka horor juga rupanya:)

      • gravatar Nurchasanah Reply
        January 29th, 2012

        banyakan tutup matanya siy mbak, dan nontonnya harus siang-siang… kalau malem … tetep gak berani … hehehe…

        • gravatar admin rinurbad.com Reply
          January 30th, 2012

          Hehehe, menurutku film ini perlu ditonton para pelaku perbukuan. Tapi kalau nggak tahan sadisnya ya, nggak apa-apa juga:)

Leave a Reply

  • (not be published)