Keputusan menekuni bidang penerjemahan buku secara penuh tahun 2007 tidak datang serta-merta, namun secara sadar. Tulisan ini bukan untuk mengiming-imingi siapa pun, sebab risiko dalam setiap pekerjaan selalu ada. Di samping itu, pilihan hidup relatif sederhana adalah yang saya anggap sesuai sampai sekarang sebagai pekerja lepas dengan penghasilan ‘tidak menentu’. Perlu diketahui bahwa order datang secara teratur (baca: tiap bulan) baru pada tahun 2009. Saya memulai tahun 2005 dan sempat kosong total selama dua tahun.

Mungkin ‘kelebihan’ yang dipandang kebanyakan orang pada diri kami adalah masih berupa keluarga mini alias belum punya anak (kandung). Saya tidak akan menjelaskan perihal keuangan secara rinci, semata siasat-siasat yang kami terapkan untuk mengelolanya. Perlu saya sampaikan bahwa kami tidak memiliki kendaraan roda empat dan sebisa mungkin ke mana-mana naik motor.

Alhamdulillah, kami sudah memiliki rumah sendiri yang sederhana dalam pengertian sebenarnya (RSS tipe 36). Cicilan per bulannya sangat terjangkau karena memang bukan di lokasi strategis, bahkan bisa dikatakan ‘terpencil’ beserta beberapa kekurangannya, yakni masalah air. Tapi di Bandung, ini persoalan jamak. Kualitas air di tempat kami bagus, hanya saja jumlahnya terbatas. Jujur, tidak seluruhnya dari hasil menerjemahkan. Rumah operan cicil yang lumayan ambruk ini (karena dibiarkan kosong bertahun-tahun oleh empunya) harus direnovasi dulu dan belum semuanya dicat.

Angsuran rumah sudah lunas sehingga kami tinggal memikirkan pengeluaran rutin rumah tangga secara umum, termasuk PBB, iuran rutin RT, dll.

Ihwal pengelolaan keuangan ini, tak dimungkiri perlu iktikad kuat dan kekompakan dengan pasangan. Sedari awal, kami sudah berkomitmen untuk menjalani hidup relatif sederhana. Karena itulah, kami menikah dengan akad di rumah. Kami perlu berterima kasih pada orangtua masing-masing yang mendidik secara tidak langsung dengan mengizinkan kami kos semasa kuliah.

Bentuk kekompakan tersebut antara lain, kami sama-sama enggan mengeluh apabila harus membayar tagihan bulanan. Selama enam tahun pertama pernikahan, kami hanya menyeringai ketika tagihan telepon meledak sangat tinggi akibat internet. Meski sempat kena denda karena tidak bisa menelepon ke luar untuk beberapa lama, kami usahakan tidak berkepanjangan. Lucunya, saya sering malu apabila membayar di antrean Telkom kemudian penjaga loket menggunakan pengeras suara. Mungkin orang-orang pikir saya buka usaha sehingga tagihannya sebesar itu. Lebih rikuh lagi kalau ada tetangga di tempat yang sama. Padahal ini kecemasan konyol. Saya toh datang untuk bayar. Orang lain pun belum tentu mengurusi saya :))

Setelah pindah ke rumah sendiri, terbukti ucapan orangtua bahwa tinggal terpisah membuka keleluasaan untuk membeli barang milik sendiri pula. Di tahun pernikahan ke-7 kami bisa membeli mesin cuci. Dulu bukannya tidak mampu, tapi selain bingung menaruh di mana, niat kami kurang kuat.

Catatan: Kami tidak mempekerjakan pembantu rumah tangga. Membeli kulkas pun baru beberapa bulan lalu, sebagai tempat penyimpanan buah dan sayur.

Salah satu komponen pengeluaran yang kerap mendebarkan jantung adalah masalah kesehatan. Fisik saya tidak terlalu kuat dan pernah mondar-mandir masuk rumah sakit. Tidak adanya tunjangan seperti karyawan ditambah jauhnya lokasi tempat tinggal dari fasilitas umum (baca: dokter) saya hadapi dengan berusaha hidup sehat, kendati tidak kelewat ‘patuh’. Berusaha banyak bergerak, misalnya, jalan pagi sebentar, mengonsumsi obat hanya bila sangat mendesak dan dosis ringan sesuai anjuran dokter yang pernah merawat lambung saya. Makan sedikit-sedikit tapi sering, walau harus diakui bahwa pos pengeluaran kami yang cukup besar adalah jajan. Syukurlah, lambung saya sangat jarang kambuh sakitnya sejak saya stop mengonsumsi soda, pedas-pedas, dan mengurangi es sekitar 3 tahun lalu.

Untuk menjaga kesehatan juga, saya sedapat mungkin tidak begadang. Duduk di kursi ergonomis untuk mengurangi frekuensi sakit punggung dan masuk angin, bekerja di meja (hampir selalu) dan zoom layar secara ‘layak’ yang juga bermanfaat guna menyelamatkan mata dari keharusan memakai kacamata. Strategi lainnya ialah jarang nonton televisi.

Apakah kami ‘memusuhi’ dokter? Tidak, tapi kami juga tidak ‘gengsi’ berobat ke puskesmas.

Saya bukan penyuka traveling, meski gemar jalan-jalan dalam kota. Frekuensinya bisa dikatakan sedikit. Tidak suka nonton bioskop, tidak juga mengikuti mode. Belanja tersier terbesar kami adalah buku dan pernak-pernik komputer, selain jajan-jajan seperti yang disebutkan di atas.

Libur atau “cuti” bisa dilakukan kapan saja. Sewaktu harus turun gunung untuk belanja bulanan sambil bayar-bayar tagihan, itu dihitung libur karena pasti kami mampir sebentar makan di luar. Sewaktu benar-benar harus libur agak lama lantaran pergi ke luar kota, diperhitungkan sedemikian rupa agar uang yang dibawa mencukupi, syukur-syukur masih ada sisanya. Sedapat mungkin menyelesaikan pekerjaan lebih dulu, supaya sepulang dari luar kota ada uang masuk rekening. Puas banget rasanya jika liburan tetap menyenangkan tapi tidak boros, apalagi “bangkrut” usai Lebaran.

Kesukaan saya dan Mas Agus utak-atik barang (kalau saya khusus mengoprek komputer dan ponsel) alhamdulillah berguna pula. Kalau komputer kena virus, misalnya, saya bisa format ulang sendiri dan memperbaiki kerusakan-kerusakan yang relatif tidak parah. Dulu, kami sering menggunakan jasa teman yang bergerak di bidang ini dan diajari langsung sehingga bisa memperbaiki sendiri. Karena Mas Agus pun suka bertukang, sejumlah perabot di rumah adalah hasil karyanya:) Ia juga bisa memperbaiki motor sedikit-sedikit, minimal ganti oli sendiri.

Ada penerjemah yang jadi semacam ‘sambilan’ bagi karyawan di bidang lain, ada juga penerjemah buku yang memadukan dengan penerjemahan dokumen dan film. Saya tidak secara sengaja merangkap editor. Saya suka melakukannya, maka ketika kegiatan itu dapat diandalkan sebagai penghasilan juga, saya anggap bonus.

Kalau boleh buka dapur sedikit, kami menghindari berutang. Mengevaluasi kerja sama, spesifiknya soal pembayaran yang tidak lancar dan harus ditagih-tagih, juga penting. Daripada menghabiskan tenaga dan waktu untuk mengejar-ngejar klien yang belum membayar, bukankah lebih baik mengerjakan order dari klien lain yang lebih tepercaya?

Lain-lainnya sama saja dengan para freelancer secara umum. Katakanlah, dapat honor tanggal 3, sementara pekerjaan yang digarap bertenggat tanggal 20 dan baru dibayar tanggal 5 bulan berikutnya. Maka, pendapatan tanggal 3 itu sebisa mungkin dicukupkan sampai tanggal 5. Atau pekerjaan tersebut diusahakan selesai sebelum tanggal 20. Di sini terlihat kalau sampai terlambat setor, kita sendiri yang rugi.

Kecukupan merupakan nilai yang sangat subjektif. Hidup kami tidak berlebih, tapi saya pandang memadai.Agak sukar bermatematika ‘mati’ dalam perhitungan keluar-masuk pendapatan. Contohnya, honor satu naskah terjemahan Rp3.000.000,- dan merupakan hasil kerja 2 bulan, ditambah 2 minggu masa pencairan. Memang ada yang menganggap ini kecil, namun kami mensyukuri betul sebab masih banyak orang yang bisa hidup dengan pendapatan lebih rendah padahal tanggungannya lebih banyak. Malah, apabila mampu membeli barang yang dibutuhkan atau memenuhi sesuatu murni dari honor menyunting atau menerjemahkan, saya puas karena merasa mampu membuktikan pada diri sendiri:)

Yang kami lakukan adalah menyesuaikan gaya hidup dengan pendapatan, bukan sebaliknya. Sejauh ini, menurut kami yang berlaku adalah matematika Tuhan. Dua tambah dua tidak selalu empat hasilnya. Contoh, memasang lampu satu di luar. tagihan listrik kami sekian per bulan. Setelah memasang tiga, tidak membengkak dan malah sempat turun.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

6 Responses to “ Strategi Keuangan Saya Sebagai Penerjemah dan Penyunting Buku ”

  1. gravatar ambhitadhyan Reply
    October 1st, 2011

    Aku pernah mengira kau terjun di dunia editorial dulu baru penerjemahan, hehehe…. Ternyata kebalik, ya.

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      October 1st, 2011

      Sejujurnya aku… lupa:)) Menulis dulu apa, ya?:D

  2. gravatar Retnadi Reply
    October 3rd, 2011

    menarik nih strateginya, makasih mb rin :) jadi kepikiran strategiku mengatur keuangan sejak masku resign *eh, ada gak ya, strateginya? :D hihihi.

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      October 3rd, 2011

      Sama-sama, No. Apakah gerangan, bagi-bagi dong:D

  3. gravatar Femmy Reply
    January 10th, 2013

    Karena kami tidak pernah bisa mematuhi anggaran yang dibuat sendiri, strategi kami adalah menabung di muka. Masukkan jumlah tertentu ke deposito, meski jumlahnya kecil. Sisanya boleh digunakan sebagai pengeluaran. Jadi, terpaksa dicukupkan, kan?

    • gravatar Rini Nurul Reply
      January 11th, 2013

      Setuju Fem, menabung memang perlu walaupun sedikit. Yang penting disiplin. Bentuknya bisa dipilih yang paling sesuai:)

Leave a Reply

  • (not be published)