Photo-0564

Belum lama ini saya terantuk suatu artikel wawancara singkat mengenai gemerlapnya dunia penerjemah (dalam segala spektrum, artinya mencakup juru bahasa dan penerjemah nonbuku juga). Berdasarkan keterangan beberapa narasumber dan pemosisian kalimat yang “cetar” mengundang daya tarik, disebutkanlah bahwa penghasilan penerjemah sangat besar berikut angka yang menggiurkan.

Di situ saya selalu merasa sedih.

Bukan tak gembira akan kesuksesan orang lain, seperti yang dituduhkan beberapa pihak. Terkait profesi apa pun, artikel yang tendensius sangat bertebaran. Hanya mengangkat sisi indah dan angka yang megah, tanpa menyebut hal-hal berikut ini:

  • Berapa banyak beban kerja tiap bulan, berikut konsekuensi kurang tidur dan lainnya
  • Berapa lama perjalanan karier sang pelaku profesi sejak merintis, sehingga tidak terkesan ujug-ujug dapat duit sekian banyak seperti habis ngepet

Mohon maafkan bahasa saya yang gregetan ini. Artikel semacam tadi sangat berpotensi menyuburkan salah persepsi yang sudah lama timbul. Seolah-olah semua penerjemah tanpa kecuali memperoleh penghasilan persis sama.

Saya teringat ucapan seorang kenalan, “Kamu terjun dong di bidang XYZ (masih dalam lingkup penerjemahan) seperti Mas itu. Supaya bisa beli SUV.”

Nurani saya yang sensi langsung merasa dianggap sengsara oleh kenalan tersebut. Dia bukan orang pertama, sih. Tapi bukan salah saya juga jika tolok ukur kesuksesan masyarakat umum masih berupa hal-hal yang bersifat fisik dan kelihatan. Denngan senyum dimanis-maniskan, saya bilang, “Nggak punya SUV buatku nggak bikin mati, sih. Omong-omong kamu punya SUV? Beli tunai apa nyicil?

Mau gimana lagi, menghargai perbedaan tidak semudah kedengarannya. Rekan sejawat belum tentu sepaham dan sepandangan. Pantas ada beberapa kenalan yang kaget ketika bertandang dan mengira rumah kami adalah rumah tetangga seberang jalan yang lebih bagus dan berpagar kokoh. Tersinggung? Ah, tidak. Kata Mas Caroge, “Berarti persembunyian kita sukses.” Saya tukas, “Ya nggak sukses lagi, wong udah ketahuan.”:p

Ada juga saudara yang mendorong-dorong kami pelesir ke beberapa tempat wisata tersohor karena dipandang sudah mampu. Jawaban saya hanya hahaha, hehehe. Banyak kenalan kami yang tidak pernah ke mana-mana bukan lantaran tidak sehat, tidak punya waktu, atau lainnya. Ya memang nggak/belum kepingin. Ini bukan hal aneh, sama dengan zaman dulu orang tidak kenal sampo, pasta gigi, lemari es, atau internet tapi hidupnya baik-baik saja. Di samping itu sepengamatan saya, kita bisa berlibur untuk sementara di suatu tempat berkat jasa sebagian orang yang bersedia tidak libur.

Definisi sukses buat saya, antara lain mampu melunasi pinjaman. Lebih bagus lagi, tidak punya utang. Tidur nyenyak tanpa terganjal pikiran juga sukses besar. Membayar tagihan sembari tersenyum, itu pun sukses tersendiri.

Kaya di mata saya adalah kemampuan memberi. Seperti pedagang bubur keliling yang saya lihat memberikan makanan pada tunawisma sebelum masuk gang. Seperti pemilik kios buah yang memberikan mangga kepada peminta-minta tunanetra. Kaya adalah ketika mampu membeli gas 12 kilogram tanpa misuh-misuh, hanya ngos-ngosan mencari di pom bensin yang lumayan jauh. Kaya adalah hati yang merasa cukup.

Rezeki juga bisa berarti bertemu orang baik dalam perjalanan jauh. Atau bertemu pakar yang mampu menjelaskan dengan bahasa yang dimengerti awam.

Kedengarannya muluk dan spiritualis banget ya? Bukan berarti saya menyalahkan kesenangan materi atau tidak suka pemerolehan duniawi, lho. Saya bersyukur sekali, suatu tahun dapat bonus beras 25 kilogram dari klien. Terasa besar sekali artinya karena kami baru “bangkit” dari kekosongan order. Kami juga pernah mendapat kompensasi tambahan suatu proyek berupa tanggungan tagihan listrik selama lima tahun.

Judul tulisan ini saya peroleh dari jawaban seorang penjual jasa sol sepatu di artikel blog Mang Memed. Seperti perkawinan, walau kedengarannya gombal (gombal ya buat ngepel saja), pemilihan profesi dan segala atribut kerja ini juga lantaran cinta. Cinta adalah kebiasaan, kata Tere Liye. Kendati dipandang “sengsara” oleh orang tertentu.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)