Istilah “mental berkelimpahan” saya tiru dari buku Guru Gokil Murid Unyu karya J. Sumardianta. Saya pribadi biasa mendengar dari Mas Agus, “sing sugih atine“. Ini sebenarnya versi lain nasihat yang lebih “klise” saking seringnya diucapkan, yakni belajar ikhlas dan tidak perhitungan. Tapi faktanya, saya akui belajar ikhlas itu berat, sehingga ungkapan sugih ati relatif lebih pas dan mengandung nilai positif yang tak kalah besar.

Bukan berarti sugih ati itu mudah. Seorang kerabat pernah “digerutui” ketua RT-nya karena dianggap menyumbang perbaikan jalan terlalu besar. Kerabat itu merahasiakan nama, tapi tentu saja ketua RT harus tahu. Dia tersenyum-senyum kendati sadar benar jalan yang diperbaiki tadi dalam hitungan bulan kembali rusak karena (kalau boleh menyalahkan) perangai pengguna jalan yang acap semena-mena.

Di kemudian hari, warga sekitar berkata, “Sebenarnya kita kan cuma lewat, yang lebih wajib memperbaiki ya orang desa situ dong.” Kerabat tadi menanggapi dengan canda, “Oh, jadi kalau sudah bagus, kita lewat sana sambil terbang? Tidak pakai jalannya?”

Kerelaan demi kepentingan orang banyak ini memang sukar dibangkitkan. Setelah gotong-royong perbaikan jalan untuk kesekian kalinya, dipasanglah spanduk besar yang berupa teguran halus (bahasa Sundanya “siloka”), “Dengan hormat kami mengharapkan pemakai jalan agar tidak bising dan memakai jalan kita bersama ini dengan sebaik-baiknya, serta saling menghormati sesama pengguna dan warga sekitar.” Bisa jadi ada yang mengabaikan, namun yang penting usahanya.

Contoh lain, di suatu RT penduduknya biasa mengandalkan warga paling berdaya (secara ekonomi paling mampu) untuk iuran terbesar atau sumbangan yang terkait kepentingan setempat. Perangkat RT-nya menjadi gemas dan berkata, “Ya gimana mau maju kalau sebentar-sebentar menunjuk hanya karena orang lain lebih kaya? Harusnya perbuatan baik itu ditiru, bukan jadi ketergantungan.” Makin mengertilah saya ucapan Mario Teguh yang kira-kira berbunyi begini, “Beruntungkan dan bahagiakan orang lain, maka kebahagiaan Anda menjadi urusan Tuhan langsung.”

Belum lama ini kenalan baik saya bercerita, dia merasa perlu menyebarluaskan informasi fasilitas kesehatan bagi masyarakat kurang mampu di tempat tinggalnya. Ini termasuk pengasuh anak kenalan tadi, yang dinilainya membutuhkan fasilitas tersebut. Di luar dugaan, sang pengasuh menjawab, “Nggak usahlah, nanti malah manja. Sakit sedikit pengen opname.” Tak ayal saya teringat suatu episode New Girl, dengan santai dan percaya diri (di mata saya) Nick yang memang tidak memiliki asuransi kesehatan hendak membayar pemeriksaan laboratorium dengan uang tunai yang disimpannya dalam semacam kantong plastik.

Memang mental berkelimpahan ini tidak berbanding lurus dengan status ekonomi, semata perilaku dan prinsip seseorang.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

NEXT ARTICLE