Pada saat itu, saya sedang jenuh menggarap fantasi. Lumrah saja agaknya, sebab hampir setengah tahun 2011 dihabiskan untuk menerjemahkan dan menyunting fantasi, rata-rata seri. Ketika akan menyelesaikan buku terakhir sebuah seri, saya mengajukan pada editor untuk genre ‘selingan’ guna menyegarkan otak. Kepadanya, saya sampaikan bahwa genre romance pun tidak jadi soal.

Jujur saja, jika tidak bekerja sama dengan editor penanggung jawab ini, saya tidak akan tahu bahwa ada Harlequin yang berbau parenting. Kebanyakan romance, Harlequin atau bukan, yang saya baca ‘sangat wanita’, drama ringan kehidupan atau murni percintaan. Tetapi karya Sharon Kendrick ini berbeda. Saya sempat agak khawatir tidak dapat mencerna bagian-bagian tertentu dengan baik,  khususnya yang menyangkut bayi dan pernak-perniknya.

Semakin yakinlah saya, bagaimana pun bergidiknya orang (akibat stigma) ketika mendengar perihal fiksi romance, ada kalimat-kalimat bagus yang saya peroleh di novel The Baby Bond ini:

All that stuff about putting things off until tomorrow was so much nonsense, when everyone knew that tomorrow might never come.

You often didn’t realise you were in a rut until you got the chance to escape from it.

Then we cross the bridge when we get to it. Yang ini lumayan menampar kesadaran saya, yang gemar menduga-duga dan cemas akan hal yang belum (pasti) terjadi.

“I work long hours, but it’s work I enjoy.”

They didn’t necessarily need a job to define them.

She had spent her life conforming to other people’s expectations, and she suddenly found herself asking why.

If you didn’t agree with something on principle, why on earth bother going through with it?

But grief didn’t come in constant flow.

No one can look into the future and predict what was going to happen, and I don’t intend to try.

Mengecap pengalaman baru dalam kekaryaan sungguh menyenangkan. Saya belajar banyak sekali sebab berganti genre berarti mulai dari nol lagi. Salut atas kesabaran editor membimbing saya:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)