flixster.com

Sering kali saya mendapat inspirasi dari film-film tentang seniman,

khususnya kisah nyata mereka. Saya hanya sering mendengar nama

Sylvia Plath, namun belum pernah membaca karyanya. Kemuraman

sepanjang film ini adalah kekhasan hidup banyak penulis besar yang

dirundung depresi dan penderitaan.

Sylvia sudah mempunyai ‘bakat’ tertekan sedari kecil, terutama sejak

ayahnya meninggal. Di film ini, tergambar bahwa pernikahan dua orang

seniman tidak menjamin saling pengertian dan kekompakan dalam berkarya

atau keseharian. Sylvia tenggelam dalam kesibukan rumah tangga dan

nyaris tidak pernah menulis lagi.

Kepedihan yang lebih besar kemudian melanda. Memang film ini kelam,

muram, seperti nada puisi-puisi sang penyair yang konon menonjolkan

kematian. Tapi cukup berkesan sebagai tontonan bagi saya pribadi, di

samping ruangan-ruangan kerja penuh bukunya yang menawan.

Bintang terbanyak untuk performa akting Gwyneth Paltrow.

 

Skor: 3,5/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

2 Responses to “ Sylvia (2003) ”

  1. gravatar selviya Reply
    December 5th, 2011

    Waduh, sepertinya harus kutonton nih, Mbak. Calonku sesama pekerja media juga. Meski dia ilustrator/komikus lepas, tapi juga punya passion untuk menulis. šŸ˜›

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 5th, 2011

      Selamat nonton, Selvy:)

Leave a Reply

  • (not be published)