Sejak akhir Januari lalu, saya lebih berfokus pada menyunting (dalam arti belum menerjemahkan lagi). Bukan menyengaja, tapi tampaknya begitulah yang sudah diatur Yang Maha Kuasa. Tawaran-tawaran yang datang berupa penyuntingan novel terjemahan, bagi saya patut disyukuri karena bagaimanapun itu pertanda kepercayaan.

Pernah memang saya meniatkan khusus menyunting sekitar dua tahun silam, dan hanya sesekali menerjemahkan. Namun seperti biasa, manusia hanya bisa berencana. Bukan berarti menerjemahkan ‘kurang seru’, tapi barangkali ada faktor cita-cita lama untuk menjadi editor. Ini pun sudah mengerucut ke naskah terjemahan, karena rata-rata tawaran menyunting naskah lokal tidak cocok dari segi tenggat.

Memang sukar menjawab mana yang lebih disukai dari dua aktivitas yang saling berkaitan ini. Diplomatisnya, dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan tersendiri. Namun pada titik ini saya paham, mengapa Mas Agus lebih senang menyunting ketimbang menerjemahkan atau menulis. Bahasa mudahnya, materi editan sudah ‘tersedia’, sedangkan menerjemahkan harus dari nol. Dan tetap saja, penerjemah yang cakap dituntut memiliki kemampuan menyunting juga.

Ketika ditanya seorang sahabat seprofesi, saya beralasan bahwa menyunting relatif tidak terlalu stres dibandingkan menerjemahkan. Saya pribadi tidak keberatan dengan ‘tidak terkenalnya’ penyunting dibanding penerjemah, yang kadang-kadang tidak tertera namanya atau hanya tercantum kecil saja di halaman hak cipta dan sebagainya. Hal semacam itu hanya pantas saya keluhkan sepuluh tahunan lalu, sekarang saya harus berkonsentrasi pada proses belajar dan meningkatkan kualitas. Memang terlihat bedanya, untuk menyunting saya lebih jarang membutuhkan tambahan waktu ketimbang menerjemahkan.

Apakah berarti saya sudah tidak suka lagi menerjemahkan? Saya mengutip satu kalimat bijak saja, “Never say never.” Atau sesuai judul lagu Roxxette, Never is a long time.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

8 Responses to “ Tahun Menyunting Nasional ”

  1. gravatar mery riansyah Reply
    March 12th, 2012

    Kalimat bijaknya dari Justin Bieber yah Teh? hihi.

    Jadi teteh lebih senang menyunting dari menerjemahkan ya… 😀
    Menyunting memang asik, aku akuin 😀

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      March 12th, 2012

      Never say never? Oh, dari judul film James Bond:)

  2. gravatar Linda Reply
    March 12th, 2012

    Kalau aku pribadi lbh suka menerjemahkan meskipun waktunya mungkin perlu lbh lama dan tenaga yg dikeluarkan lbh besar. Pada dasarnya aku bukan org yg terlalu teliti, sdgkan sbg editor dituntut kejelian melihat hal-hal yang terlewat. Dan entah kenapa aku suka ‘perjalanan kreatif’ menerjemahkan…maksudku bukan berarti mengedit bukan pekerjaan kreatif, tetapi sbg penerjemah kita lbh dulu menghadapi ‘medan’ dan mencari padanan bahasa Indonesia yg tepat sblm dihaluskan/dipermak editor, dan bagiku itu yang menjadikan prosesnya mengasyikkan. Tp berhubung belum pernah ngedit (selain kerjaan sendiri), mungkin aku msh belum tau serunya. Mudah2an suatu hari nanti bisa menjajal 🙂

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      March 12th, 2012

      Semoga, Linda:)
      BTW aku belakangan hobi menyarankan orang-orang yang suka memprotes dan mengeluhkan editor untuk menerjuni bidang ini sekaligus, biar tahu ‘jeroannya’.

  3. gravatar Femmy Reply
    March 12th, 2012

    Saya justru lebih stres saat menyunting 🙂 soalnya selalu bingung menarik garis antara memperbaiki/memperhalus dan memaksakan gaya terjemahan sendiri. Setiap kali ingin mengubah sesuatu, bingung dulu, ini ganti-jangan-ganti-jangan-ganti-jangan… streeeeessss…. 🙂

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      March 12th, 2012

      Aku pun pernah mengalami dilema itu:)

  4. gravatar selviya Reply
    March 13th, 2012

    Pas menyunting dan ketemu hasil terjemahan yang bagus, aku pasti senang banget. 🙂 Tapi kalau pas ketemu yang jelek, harus kerja keras, deh. 🙁
    Selamat, ya, Mbak Rini. Semoga lancar dan sukses semua proyek penyuntingannya 😀

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      March 14th, 2012

      Terima kasih, Selviya. Sukses juga buatmu:)

Leave a Reply

  • (not be published)