Sejak lima tahun bermukim di rumah yang sekarang, hitung-hitung sudah lima operator (dan jenis koneksi) yang kami coba ‘langgani’. Jujur, kami tidak tertarik berlangganan Speedy dengan banyak pertimbangan, sekalipun rumah yang berlokasi di wilayah ‘mengundang petir’ ini telah dilengkapi ground (mudah-mudahan benar menulisnya). Sebisa mungkin kami mencari yang prabayar, setimpal dengan pendapatan, dan memakai modem pun baru berani sekitar dua tahun silam.

Mengapa? Awalnya, mungkin karena terbiasa dengan warnet dan takut jatuhnya jadi mahal, kami pakai koneksi CDMA dengan pesawat telepon khusus. Isi pulsa biasa (ini juga jadi pertimbangan karena rumah kami terpencil), koneksi per jam (lupa berapa waktu itu totalnya), sehingga dapat dibatasi dan sudah dites ketika baru pindah. Salahnya, saya mengetes hanya untuk telepon. Memastikan sinyal.

Dari situ saya dapat pelajaran, alangkah labil alias mudah berubahnya kualitas koneksi. Dalam tempo beberapa bulan, sambungannya lambat sekali dan tentu saja jadi boros. Satu tahun, diganti CDMA lain. Dua sekaligus, memakai ponsel dan kabel data. Satu per kb, satu per menit. Singkat cerita, tiga ponsel menjadi kembung karena kepanasan. Rupa-rupanya operator CDMA di sini kurang bagus sehingga ponsel tidak kuat mengandalkan baterai dan terus mencari sinyal.

Barulah datang kejutan dari Mas Agus pada hari ulang tahun saya, berupa modem CDMA. Kualitasnya lumayan, hanya ngos-ngosan pada tempo tertentu. Mengingat di masa sekarang butuh koneksi yang relatif lebih tahan lama untuk update antivirus dan download file besar, dua tahun silam kami sepakat melangkah ke mal dan membeli modem GSM setelah cari info sana-sini. Sekalian mengganti kartu yang digunakan untuk berkomunikasi dengan operator yang sama.

Semakin sadar kami bahwa tak ada yang abadi, terkait koneksi internet/jaringan telepon tersebut. Tiga pekan yang lalu warga se-RT yang memakai operator serupa kesulitan melakukan panggilan/menerima telepon. Lapor? Sudah sampai bosan. Tak ada perubahan, hanya jika ingin lancar, kami harus turun gunung. Benar-benar merepotkan. Internetnya sendiri putus-sambung nyaris tiap menit, tapi saya masih telan sabar karena sedang panen long weekend kala itu. Biasanya koneksi XL melambat atau bahkan putus bila cuaca mendung. Namun apa pun operatornya, internet kencang di malam hari kini sudah tinggal impian belaka.

Semula, kami menjajaki operator 3. Ini rekomendasi tetangga jalur seberang. Saya sudah siap menghadapi kemungkinan terburuk. Faktanya, sinyal bagus di satu ruangan belum tentu serupa mutunya di ruangan sebelah. Apalagi membandingkan jalur tetangga tersebut yang lebih tinggi, sedangkan rumah kami menjurus jalan buntu (jurang) yang menurun dan berangin keras. Tanah sekitar rumah juga mengandung magnet, jam weker dan dinding saja sudah berkali-kali ganti baterai sampai bosan karena baru sebentar sudah maju/mundur lagi beberapa menit.

Dan beginilah hasil tes memakai 3 di ruang kerja saya.

Di HP sih relatif lancar, down-nya masih termasuk hitungan normal.

Kemudian saya iseng-iseng mencoba Telkomsel (Simpati) yang dipakai bertelepon sekarang ini, dengan paket termurah 1 MB seharga seribu rupiah. Namanya tes, tak mau rugi dong:p. Ini masukan dari teman bahwa di daerah terpencil, jika Indosat jelek, biasanya Telkomsel bagus. Jadilah kami melanggar pantangan menggunakan operator ini, hahaha…

Beginilah tampilannya. Relatif stabil sih, dalam arti dengan XL megap-megap membuka Twitter versi web, sedangkan ini dengan lampu hijau sedemikian rupa masih mampu. Jangan tanya mahalnya ketika melambat dan melewati 1 MB itu:p

Tapi memang, tak baik memuji berlebihan. Harus punya ancang-ancang:))

Omong-omong, di laptop saya ini ada modem bawaan (internal). Belum pernah dipakai sama sekali. Mas Agus pernah mengusulkan coba di rumah ibu saya, colok ke jaringan telepon kemudian ganti biaya pemakaiannya. Tapi saya tidak berani, mengingat 8 tahun silam tagihan telepon rumah sering kali membengkak.

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)