Mengapa tambahan? Karena saya menyambung yang diposting Nur Aini di blognya.

Tambahan saya dua butir saja, tapi cukup penting untuk diketahui mengingat sampai hari ini, yang berkutat di bidang penerjemahan dan penyuntingan (lepas) sekian tahun saja masih mengira editor in house sekadar berurusan dengan naskah.

1. Mengejar penerjemah mangkir

Terlambat memang biasa, dalam arti dimaklumi sejauh memberi kabar. Khususnya jika buku bersangkutan sudah ada jadwal terbitnya. Ini juga risiko bekerja sama dengan pihak ketiga (outsource) namun perlu saya ceritakan setelah mendengar banyak pengalaman para kolega editor in house.

Hampir semua editor in house yang saya kenal pernah menguber-uber penerjemah yang lebih dari sekadar telat, melainkan menghilang tak tentu rimbanya. Belum lama ini tawaran menyunting dari sebuah penerbit terpaksa batal untuk batas waktu yang tidak bisa dipastikan karena penerjemahnya sendiri tidak bisa dihubungi. Tentu saja dengan begitu, penerbit harus bersusah payah mencari penerjemah lain yang kompeten serta disiplin di samping seabrek kesibukan rutin yang tetap tidak bisa ditinggalkan.

Saya juga pernah ditanya seorang editor kalau-kalau mengenal penerjemah langganannya yang entah mengapa raib tanpa kabar jelas pula. Kala itu, saya (sampai sekarang pun) hanya tahu nama sang penerjemah dan sama sekali tidak kenal secara pribadi. Cukup disesalkan ketika kerja sama harus diputuskan dan editor tersebut berkomentar singkat, “Sayang banget untuk kariernya ke depan.”

Penerbit lain yang terkenal toleran terhadap perpanjangan waktu sekalipun punya batas kesabaran. Seorang penerjemahnya tidak mendapat pekerjaan lagi lantaran order terakhir mangkir sangat lama, mencapai satu tahun, sehingga harus ditarik. Kasus semacam ini tentu amat melelahkan secara fisik dan mental.

Ihwal ini, baca juga pengalaman seorang editor di situ.

2. Mengurus forum interaksi dengan pembaca

Sebut saja salah satunya, milis. Zaman sekarang mungkin kedengaran kuno, tapi percaya atau tidak, sependek pengamatan saya ada penerbit tertentu yang milisnya masih aktif dan ramai. Tak tergerus arus medsos. Interaksi di dalamnya membuat saya betah belajar dan mengetahui banyak hal, termasuk cara efektif editor menanggapi desakan dan ‘tuntutan’ pembaca. Padahal sibuknya sih, jelas tak perlu ditanyakan lagi. Seperti yang tertera di bawah ini:

Untuk kesekian kalinya, saya menjura pada beliau-beliau.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)