10152010061550284

Pernah menyunting naskah terjemahan yang semua dialognya menggunakan tanda petik satu saja (‘) dan bukan (“)? Ini tampak sepele tapi merepotkan. Ketika berdiskusi dengan Mas Agus yang gemar mengutak-atik Word, ia menuturkan pengalamannya menangani kasus serupa. Apa penyebabnya?

Biasanya karena penerjemah bekerja dengan softcopy, kemudian meng-copas teks asli dari PDF (kemungkinan hasil scan OCR) atau Notepad langsung ke Word tanpa dicek ulang. Saat diperiksa, default menu bahasa dokumen terjemahan itu adalah Swedia. Tentu saja tidak sukar membenahinya apabila penerjemah dan penyunting menggunakan komputer yang sama atau dapat mengakses komputer yang digunakan untuk mengerjakan terjemahan tersebut. Katakanlah, bila Mas Agus menyelaraskan aksara hasil terjemahan saya.

Namun jika penerjemahnya nun jauh di sana, mungkin komputernya pun sudah berganti dan pekerjaan yang diserahkan untuk saya sunting sudah ‘berumur’, saya harus memutar otak. Saat tanda petik yang keliru itu di-block dan langsung ditimpa dengan yang benar, entah mengapa yang muncul selalu menghadap ke arah berlawanan. Seharusnya tanda petik pembuka kalimat, malah penutup. Dan sebaliknya.

Saya penasaran, barangkali menu bahasa berpengaruh. Tapi sudah diindonesiakan pun, tetap demikian. Begitu juga setelah dikembalikan ke format Normal dengan Times New Roman, karena saya curiga pilihan huruf penyebabnya. Ternyata bisa diubah langsung apabila tanpa Track Changes, tentu saja ini merugikan sebab penyuntingan diharuskan menggunakan fitur tersebut.

Jadi bagaimana?

Saya harus mengetik dulu tanda petik yang benar (tanpa block), di depan ketikan penerjemah pada awal kalimat dan di belakangnya pada akhir kalimat, seperti di bawah ini:

‘Tentu tidak, Ayah,’kata Carlo buru-buru.

Setelahnya, tanda petik yang salah tadi dihapus.

Saya belum menemukan cara lain yang lebih efektif, tetapi ini menjadi pelajaran. Meng-copas softcopy langsung ke Word, yang dulu sering saya lakukan, lebih banyak menimbulkan masalah sehingga memperlambat kerja.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)