Suatu tahun, saya pernah nonton film. Judul dan genrenya lupa, tapi saya ingat sebagian ceritanya. Seorang pemain piano menolak undangan tampil. Suatu malam dia didatangi beberapa tukang pukul suruhan pengundang yang sakit hati, diseret keluar dan pergelangan tangannya diremukkan.

Waktu menontonnya, tangan saya berdenyut. Seperti beberapa pemain musik, seniman tenun, dan sejumlah profesi lain, tangan adalah aset berharga bagi penyunting. Ini bukan kali pertama tangan kanan saya cedera. Agar tidak cengeng, saya menganggap diri penyanyi yang usai tur beberapa kota sehingga suaranya belum pulih. Atau pendekar yang baru bertarung. Namun tak ayal, terngiang ucapan kakak sepupu yang sering menasihati kami agar menggunakan tangan kiri untuk menulis supaya otak seimbang. “Lagian kalau tangan kanan kenapa-napa, jadi nggak perlu ngerepotin orang lain,” kata beliau.

Sejak dulu saya sadar, saya tipe pengetik sebelas jari. Itu sebutan guru keterampilan mengetik di SMP untuk orang yang lancar mengetik tapi hanya satu jari atau sebelah tangan yang sangat aktif. Akibat ngebut editan yang lumayan tebal (baca: kerja dari pagi sampai malam), tangan kanan saya nyeri dari pergelangan sampai bahu dan belikat. Seorang teman menyarankan memakai layout keyboard Dvorak yang lebih sehat. Saya sudah lihat-lihat dan mempelajarinya, namun teringat bahwa “biang keladi” dalam hal ini adalah mengandalkan mouse. Kegiatan terbanyak saya adalah menyunting, jadi lebih sering memegang mouse untuk memblok kata atau kalimat.

Mumpung cuti, Mas Agus menyarankan saya berlatih membiasakan diri dengan mouse internal. Dari dulu saya malas memakai fitur ini. Terlalu sensitiflah kursornya, repotlah, tapi yang pasti gerakan/kerja jadi lebih lambat. Kemudian dengan gaya khasnya, Mas Agus menceritakan terapi pemain bola luar negeri yang cedera. “Kakinya direndam es supaya otot-ototnya ngerut.” Di hawa sedingin ini? Oh tidak, saya belajar sabar saja deh dengan mouse internal sekalian latihan pernapasan.

Jelas, gerakan saya jadi lebih perlahan. Saya menahan diri agar tidak menggerutu. Ihwal kesabaran, Mas Agus jauh mengungguli saya. Dia memperolehnya antara lain dengan belajar kaligrafi semasa muda dulu. Pagi ini pun dia mengingatkan saya agar lebih sering menggunakan tangan kiri untuk scroll. Mouse berkabel telah saya cabut atas inisiatif sendiri guna membantu adaptasi.

Sembari menulis postingan ini, saya teringat film Idle Hands yang menyampaikan bahwa tangan nganggur rawan dihinggapi setan (kejahatan maksudnya). Dalam hal ini, tangan kiri yang jarang dipakai. Juga suatu episode film seri Beethoven Virus, sang konduktor dipukul orang hingga jatuh dan tangannya cedera tepat sebelum naik panggung.

Banyak keuntungannya dari memperlambat ritme ini. Sambil mengistirahatkan tangan kanan (meski tidak sepenuhnya), saya jadi punya waktu lebih banyak untuk ngobrol, bertukar pikiran, dan berceloteh (melontarkan pikiran-pikiran iseng tepatnya) dengan Mas Agus di sela nonton DVD dan tayangan apa saja di televisi. Karena energi tidak cepat habis, saya masih kuat melek di atas jam sembilan dan nonton acara-acara menarik bersama dia. Misalnya semalam, ada film Ketika Bung di Ende di TVRI. Memang benar kata seseorang, harta paling berharga adalah waktu.

Terkait film tentang pemain musik di awal tulisan ini, Mas Agus menceritakan kejadian nyata di luar negeri. Seorang pemain piano yang masih muda dan meraih banyak prestasi digugat tetangganya karena memberisiki sejak kecil. Uniknya, tuntutan sang tetangga bukan uang. Hanya minta sang pianis dilarang main piano lagi seumur hidup. Saya sudah googling ke sana kemari tapi belum menemukan berita yang dimaksud.

Bagaimanapun, semaraknya masa istirahat ini membuat suasana seperti lagu berikut.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)