serpih2

Jujur, meski ada beberapa judul lain di rak saya dan bahkan sepasang (Inggris dan terjemahannya), baru kali inilah saya membaca karya Joy Fielding.

Dalam wawancara dengan majalah Over My Dead Body, sang pengarang menyatakan sbb:

I find people have a need to categorize. I have always shied away from that. I’ve not leant myself easily to categorizing because I’ve moved around a bit. I’ll do a thriller, then I’ll do a–say a suspense novel. Then I’ll do more a relationship novel, then I’ll go into more of a thriller aspect. I think people always like to pigeon-hole writers. Whenever I concentrate on the relationship aspect of the book, as I did with THE OTHER WOMAN or GOOD INTENTIONS, I’m immediately labeled a romance novelist.

Thriller yang bermuatan laga dan plot cepat sudah sering saya temui, baik dalam pekerjaan maupun sebagai bacaan. Sebagai drama thriller, tentu saja See Jane Run yang sudah difilmtelevisikan ini berbeda. Alurnya relatif lambat di permulaan, namun ada tanda-tanda cekaman psikologisnya makin kuat dari tengah ke akhir.

Seperti yang kerap saya bahas, topik ingatan dan memori adalah salah satu favorit saya. Sejak mula menyunting (dan membaca) novel ini, saya jadi berpikir, “Ngeri juga ya kalau tiba-tiba hilang ingatan, sedang sendirian, di tempat umum kayak Jane ini?” Secara detail digambarkan kondisi Jane yang mengidap amnesia histeria, kendati tidak terlalu ramai dengan istilah ilmiah dan medis.

Selain itu, penokohan Jane yang berusia 34 tahun memudahkan saya “mengakrabi” cerita. Memang filmnya ditayangkan hampir 20 tahun lalu, dan dulu pemerannya masih tergolong muda. Menariknya lagi, dikisahkan Jane berperangai penaik darah. Dia berani mengamuk dan mengatai orang di tempat umum, tanpa memperhitungkan akibatnya.

Bagian yang membuat saya tertegun lama adalah kisah tetangga dan sahabat Jane, Carole Bishop. Dia ditinggalkan suami, kedua anaknya menanjak remaja, dan merawat ayah yang lansia dengan perilaku unik. Semisal dalam dialog ini:

“Setiap tahun semakin buruk. Dia tak bisa mendengar, bukan berarti pernah jadi pendengar yang baik. Sikapnya kasar, suka mendebat. Aku tak pernah tahu apa yang akan dia katakan atau lakukan berikutnya. Beberapa malam lalu aku terbangun sekitar jam tiga – aku tak bisa tidur nyenyak sejak Daniel pergi – jadi kupikir sebaiknya kucek dia. Dad berdiri di lorong depan, menatap ke pintu. Saat aku bertanya dia sedang apa, katanya menunggu koran, dan mengapa sarapannya belum siap? Ketika aku bilang kita tak biasa makan pagi tengah malam, Dad bilang kalau aku tak mau membuatkan, dia akan buat sendiri. Jadi apa yang dia lakukan? Dia memasukkan setumpuk telur di microwave dan memutarnya ke High. Beberapa menit kemudian, kudengar ledakan. Aku lari ke dapur. Tempat itu berantakan sekali. Microwave-nya seakan-akan habis kena bom. Jam tiga pagi, dan aku harus membersihkan bekas telur dari langit-langit. Sebenarnya kejadian itu sangat lucu kalau saja situasinya tak menyedihkan.” Carole menggeleng, mirip gelengan ayahnya. “Bukan main ya? Kau yang punya masalah yang tak bisa kubayangkan sendiri, tapi aku malah mengeluh tentang masalahku!”

Seiring meningkatnya ketegangan, saya sering mimpi buruk. Tak heran Mbak Esti, penerjemahnya, mengaku depresi ketika mengerjakan buku ini sekitar 6 tahun lalu (waktu itu beliau belum bekerja di kantor penerbitan). Beruntunglah saya karena  proofreader-nya, Mbak Rosi Simamora, sangat cermat dan menyampaikan masukan-masukan pada saya secara japri.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)